Izinkan aku flash back ke jaman kecil dulu.
Sebuah kejadian di dalam mobil selama perjalanan, yang masih segar dalam ingatanku.
Kakak dari Ibuku yang ke-5 bertanya, “Dina, kalau sudah besar nanti, jadi guru saja. Karena, guru itu kan menyampaikan ilmu, sedangkan ilmu yang bermanfaat adalah pahala yang tidak akan terputus sampi meninggal nanti.”
Sejak itu, aku seolah terdoktrin untuk menjadi seorang guru.
Aku ingin menjadi guru.
Dan hal tersebut pun tidak berubah walau aku menemukan kebebasan jiwa saat menyalurkan inspirasiku lewat menulis.
Setiap kali guru BK menyuruh kami para siswa mengisi data, aku selalu menempatkan guru sebagai cita-cita pertama, penulis sebagai cita-cita kedua, dan penyiar radio sebagai cita-cita ketiga.
Naif sekali, bukan? Haha.
Sampai akhirnya, sekali waktu, saat tiba akhirnya aku harus memilih jurusan di kuliah.
Kakak laki-laki dari Ibuku, sebut saja Babeh, tiba-tiba bertanya, “Lu mau ambil jurusan apa pas kuliah nanti, Din?”
Iseng, aku pun menjawabnya asal. “Sastra Inggris.”
Tahu responnya seperti apa?
“Jangan. Mau jadi apa lu nanti? Penerjemah doang?”
Aku hanya tertawa karena responnya yang menurutku lucu.
“Tidak mau kedokteran saja? Nanti ambil spesialis kandungan. Dokter kandungan jaman sekarang jarang yang perempuan.”
Aku menggeleng tegas. “Dina mau ambil jurusan Matematika saja.”
Tak lama setelah itu, si Mamay ikut-ikutan Babeh.
“Din, Dina kenapa sih tidak mau kuliah Kedokteran saja? Masalah biaya? Mamay masih sanggup kok biayain kuliah kamu.”
“Duh, May, nilai Biologi Dina saja jarang dapat bagus. Gimana mau kuliah di Kedokteran?”
Sampai beberapa kali pertanyaan itu diulang, aku tetap tidak mengubah jawabanku bahwa aku ingin kuliah di jurusan Pendidikan Matematika saja, tidak ingin kuliah di Kedokteran.
Alasan yang aku kemukakan memang simpel dan benar adanya.
Aku lemah sekali di Biologi dan Fisika.
Satu-satunya materi Biologi yang aku suka dan paling bagus dapat nilai ulangan hariannya dari seluruh materi kelas 10 hingga 12 hanyalah Pembelahan Sel, karena ada adegan di film Twilight saat Bella dan Edward di pelajaran Biologi dan materinya adalah Pembelahan Sel! Haha.
Bagusnya aku pun cuma dapat 8 koma sekian, wkwk.
Bisa bayangkan dong nilai ulangan Biologiku untuk materi yang lain?
Nah kalau Fisika, entah apa yang membuat orang-orang lebih tertarik Fisika dari Matematika.
Dari awal masuk SMA, Fisika adalah mata pelajaran yang paling aku hindari.
Aku baru serius mendalami Fisika di kelas 12, itu pun karena guru Fisikanya adalah wakil kepala sekolah bidang kesiswaan yang langsung memanggilku ke ruangannya akibat nilai TO Fisika pertamaku di kelas 12 sangat jelek karena terlalu banyak berurusan dengannya untuk masalah Paskibra, haha.
Nah, berdasarkan hukum Newton, ada aksi, ada reaksi, bukan?
Aku lemah di kedua bidang itu pun karena ada alasan.
Pertama, di pelajaran Biologi, aku lebih memilih membaca novel Harry Potter series dan Twilight Saga series selama pelajaran.
Kedua, di pelajaran Fisika, aku lebih memilih menghitung uang kas Paskibra.
Jadi, begitulah, haha.
Aku benar-benar pay attention hanya di pelajaran Matematika dan Kimia untuk yang eksak.
Mungkin karena aku memang interested di Mat, dan banyak menemukan hal baru di Kimia.
Jadi, aku selalu memasang posisi serius dan semangat di kedua pelajaran tersebut.
Sehingga, mana berani aku menerima tawaran untuk kuliah di Kedokteran, atau mungkin Teknik?
Itu ambil mati namanya, haha.
Sehingga aku bertahan dengan pendapatku, “Get real, Din. There is no way you can get yourself in Medical or Engineering departement. Nilai Biologi sama Fisika lo saja hancur-hancuran!”
Aku pun menjadi pribadi yang santai dan hanya melengos keheranan saat ada salah satu teman akrabku di bimbel sampai mimisan karena keseringan belajar untuk bisa masuk jurusan Kedokteran UI sedangkan aku setelah pulang intensif, langsung nonton drama korea, haha.
Tetapi usahanya itu membuatku salut karena pada akhirnya ia dinyatakan lulus Kedokteran UI via SNMPTN undangan.
Nah, sekarang, aku melihat murid-muridku pun seperti yang banting tulang untuk mendapatkan jurusan yang mereka inginkan.
Ketika aku mengurai memori masa SMA dulu, aku secara sadar merasa aku tidak berusaha sungguh-sungguh seperti mereka.
Padahal kalau aku nekat, dengan niat yang bulat, aku bisa saja mengejar ketinggalanku di pelajaran Biologi dan Fisika dengan fasilitas yang aku punya dan ditawarkan padaku.
Aku bisa saja mati-matian meminta pertolongan dari segala aspek untuk akhirnya bisa kuliah di jurusan Kedokteran sesuai keinginan Babeh dan Mamay.
Saat melihat siswa-siswa serius mengerjakan soal, dan benar-benar berhasil mencapai nilai yang mereka targetkan, entah kenapa ada sesak di dadaku yang membuatku ingin memutar kembali waktu.
Aku seperti tertampar karena pandanganku terhadap profesi ‘Guru’ benar-benar sempit.
Padahal kalau aku kuliah di jurusan Kedokteran, aku tetap bisa menjadi guru, yaitu guru-gurunya calon dokter.
Kalau aku kuliah di jurusan Teknik pun, aku tetap bisa menjadi guru, yaitu guru-gurunya calon insinyur.
Bukankah predikat tersebut lebih keren? Hahaha.
Intinya, karena penyesalan selalu datang belakangan, karena waktu memang tidak pernah sudi untuk berputar, maka aku memutuskan:
Aku mulai mendoktrin adik-adik sepupuku untuk menjadi seorang dokter atau insinyur atau pengusaha atau semacamnya.
Aku tahu cara seperti ini akan membuat mereka seolah mendapatkan pressure, tetapi kalau ini akan membuat mereka menjadi orang sukses di masa depan, kenapa harus ragu?
Sekarang aku justru tidak menyalahkan orang tua yang memaksakan kehendak pada anaknya, salah satunya adalah terkait pemilihan jurusan ini.
Hanya saja, memang ada beberapa cara yang perlu diperbaiki sehingga pencapaian ke anak pun enak :D
Pemikiran seperti ini muncul sebagai buah hasil dari pengamatanku terhadap siswa selama intensif SBMPTN.
Aku jadi paham, istilah ‘get real’ seperti yang aku tanamkan jaman SMA dulu sama sekali tidak membantu.
I just got understand, passion is about beyond your limitation.
So, don’t ever try to put yourself on limit.
Work hard is very necessary to keep you always in the right track.
Until, you no longer have to introduce yourself! :D
Karena usaha tidak pernah membohongi hasil, dear readers :D
Dan jangan biarkan penyesalan bersenang-senang karena menang.
-d-
Bismillahirrohmanirrohiim
Bismillahirrohmaanirrohiim
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Tampilkan postingan dengan label Curhatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhatan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 02 Agustus 2016
Jumat, 13 Mei 2016
Canisius College
Sebelumnya, apa aku sudah pernah bercerita kalau bekerja di tempat bimbingan belajarku sekarang adalah bekerja under pressure?
Bagaimana tidak?
Bayangkan, dengan adanya kewajiban melayani konsultasi jika siswa kesulitan dalam mengerjakan soal atau memahami materi, tentu kita harus optimal menyiapkan skill kognitif karena materi atau soal yang disodorkan terkadang di luar batas kemampuan, haha.
Nah, kalau kita tidak bisa menjawab apa yang mereka tanyakan?
Jangan harap mereka akan respek ke kita.
Nilai kita di mata mereka langsung nol, bahkan minus.
Tahu sendiri, kan, betapa barbar-nya kelakuan remaja Jakarta jaman sekarang.
Attitude tidak ada, sok ambisius, tapi ternyata otaknya tidak lebih besar dari otak udang.
Awalnya, kalau tidak salah, baru beberapa minggu aku masuk kerja, aku sempat mental break down karena pernah terlalu lama berpikir akibat lupa rumus untuk menjawab soal yang diberikan salah seorang siswa, sebut saja B, sampai-sampai si B tidak sabar dan pada akhirnya memilih untuk pindah konsultasi ke guru lain yang lebih master.
Sejak saat itu, di matanya aku benar-benar kasat mata.
Perlakuannya seperti menampar dan menyadarkanku kalau aku tidak bisa diam saja.
Maka, aku mulai giat mengerjakan soal-soal, dari soal UN sampai SBMPTN dan ujian mandiri beberapa PTN, bertanya ke sana sini jika ada yang tidak aku mengerti salah satunya ke guru senior yang sangat membantuku dalam proses belajar ini, bahkan tidak jarang aku belajar juga dari siswa.
Aku tidak membiarkan ada celah bagi siswa untuk memandangku secara sebelah mata lagi.
Hingga, ketika si B kembali konsultasi kepadaku untuk menanyakan beberapa soal (mungkin terpaksa akibat si guru senior sudah hampir dua bulan jarang masuk karena suatu urusan dan aku pun jadi sering mengajar di kelasnya), dua minggu sebelum ia menghadapi UN SMA, kalian bisa tebak apa yang dia katakan?
Dia bilang, “Kak, sumpah, Kakak tahu? Kakak itu Hall of Fame-nya bimbel ini!”
Aku pun menjadi sedikit lega mengetahui pembelajaranku menghasilkan progress yang tidak disangka-sangka.
Selain itu, aku pun mulai mengamati karakter dari sekolah yang ada di bimbingan belajar tersebut.
Beberapa sekolah yang terkadang membuatku suka ketar-ketir adalah SMA 68, SMA 8, Don Bosco 2, Santa Theresia, Santa Ursula, Tarakanita, juga, tak lain dan tak bukan, Canisius College.
(PS : Si B bukan berasal dari sekolah yang aku sebutkan di atas, heuheu.)
Kenapa?
Karena soal-soal mereka terkadang memiliki tingkat kesulitan yang lumayan membuat jungkir balik dan kepala langsung vertigo dibuatnya.
Di antara sekolah yang aku paparkan, aku sangat impress pada Canisius College.
Jadi, di tempatku, hanya ada 4 orang siswa kelas 9 SMP yang berasal dari sekolah tersebut.
Untuk yang SMA, mayoritas di bimbel lain, haha.
Aku sedikit mengerutkan kening ketika mendengar nama sekolah itu karena baru pertama kali mendengar selama 22 tahun hidup di Jakarta.
Tetapi yang aku heran, peringkat tertinggi selama Try Out, selalu dipegang mereka.
Selidik punya selidik, ternyata, Canisius College adalah sekolah katolik terbaik se-DKI Jakarta yang muridnya adalah pria semua.
Letaknya di daerah Jakarta Selatan.
Aku menganga sejadi-jadinya ketika mengetahui bahwa peringkat UN tertinggi, jika negeri dan swasta digabung secara paralel, baik tingkat SMP maupun tingkat SMA, sudah beberapa tahun terakhir dipegang oleh mereka.
Pantas saja pertanyaan mereka selalu berbobot, seperti,
“Kak, kenapa kita harus menggunakan rata-rata sebagai representasi dari suatu data, bukan median?” (Nah, lho, ini mah list kemungkinan pertanyaan penguji yang gue buat sebelum sidang!)
“Kak, misalnya ada data 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Data itu modusnya lebih dari satu atau tidak punya modus?”
Sekali waktu, dua dari empat siswa Canisius College tersebut, konsultasi soal padaku karena mau ujian tulis masuk SMA Canisius College.
Dan tahu bagaimana soal-soalnya?
Aku hanya bisa menghela napas dan mencoba mengerjakan soalnya perlahan, untung beberapa ada yang bisa! Haha.
Soal-soal tersebut ibaratnya soal masuk perguruan tinggi negeri bagi tingkat SMA.
Sejak saat itu, aku tak lagi meragukan kemampuan mereka karena dari cerita 4 anak itu, aku jadi mengerti mereka telah terbiasa berkutat dengan soal-soal yang tingat kesulitannya tinggi, sehingga tidak heran mereka menyandang peringkat 1 UN terbaik se-DKI Jakarta karena soal UN bagi mereka pasti tidak ada apa-apanya, heuheu.
Di sisi lain, dari segi attitude, mereka benar-benar anak baik, sopan, dan santun, juga tidak pernah merendahkan orang lain.
Tahu sendiri, kan, bagaimana sekolah katolik mendidik siswa mereka?
Disiplinnya tinggi, jujur, seolah memberikan jaminan bahwa lulus dari sekolah mereka, anak-anak pasti memiliki karakter yang terintegritas.
Moto sekolahnya saja: The Center of Character Building.
Mereka memegang teguh prinsip 3C, yaitu Competence (kepintaran), Conscience (hati nurani), dan Compassion (kepedulian terhadap sesama).
Mereka pun tidak menutup diri dari seni. Ilmu tanpa seni? Jadinya kaku. Seni tanpa ilmu? Jadinya ragu dan tabu.
Intinya, banyak kegiatan mereka yang menunjang untuk mengoptimalkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik, juga pembentukan karakter yang luar biasa.
Para siswa di didik untuk beraksi, bukan untuk bermain diksi, jadi tidak ada yang namanya istilah ‘Tong Kosong Nyaring Bunyinya,” seperti kebanyakan siswa di bimbingan belajar tempatku bekerja.
Jebolan Canisius College pun minimal jurusan teknik di UI dan ITB atau arsitektur Parahyangan, tahu sendiri kan arsitektur Parahyangan adalah arsitektur terbaik se- Asia Tenggara?
Bahkan negara lain banyak memakai arsitek lulusan Parahyangan, bukan UI atau ITB.
Lalu, mereka juga banyak yang dikirim orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Nah, dengan hasil pengamatan yang seperti ini, muncul pemikiran gila dalam otak liarku.
Bahwa, jika aku memiliki anak laki-laki, aku akan menyekolahkan anakku di Canisius College.
Semakin hari aku sadar, tidak mudah membentuk kepribadian anak yang terintegrasi di tengah era modernisasi ini.
Hedonisme bertebaran di mana-mana, free life style dengan konsep ‘semau gue’ yang hanya bisa membuatku geleng-geleng kepala, dan banyak lagi perilaku remaja jaman sekarang yang ada-ada saja.
Aku ingin anakku menjadi anak yang pintar, tetapi tetap bisa menyenangkan dan memberikan manfaat bagi banyak orang karena karakter yang dimilikinya.
Dan aku tidak menemukan sekolah yang bisa mendidik seperti itu selain Canisius College.
Setidaknya, jika aku menyekolahkan anak laki-lakiku kelak di Canisius College, dia akan termotivasi dengan sendirinya untuk menjadi pintar, jujur, disiplin, rendah hati, dan tangguh dalam menghadapi setiap tantangan dan persaingan yang semakin hari semakin ketat dalam hidupnya, tanpa perlu aku berkoar-koar dan berujung memberikannya tekanan batin atas kemauanku yang mungkin tidak sesuai dengannya nanti.
Jadi, ide gilaku ini tidak salah, kan? Hehe.
Dan aku sudah mulai merancang apa saja yang perlu aku siapkan untuk bisa menyekolahkan anakku di sana.
Karena, jujur, sekolah di sana memerlukan biaya yang tidak sedikit, dear readers, heuheu.
Aku saja hanya bisa menahan napas saat muridku mengatakan biaya masuk dan biaya bayaran tiap bulan di sekolahnya itu.
Dengan naif dan polosnya dia mengatakan, “Kayaknya Kakak tidak akan bisa menyekolahkan anak Kakak di Canisius kalau masih menjadi guru di sini,”
Meledaklah tawaku saat itu seraya berpikir keras mengenai langkah apa yang harus aku ambil.
So, mari kita kencangkan ikat kepala dan ikat pinggang demi masa depan anak yang lebih baik!
Buat anak, kenapa harus setengah-setengah? :)
Tetep, #jangankasihkendor , heuheu.
Have a nice day, good people!
-d-
Bagaimana tidak?
Bayangkan, dengan adanya kewajiban melayani konsultasi jika siswa kesulitan dalam mengerjakan soal atau memahami materi, tentu kita harus optimal menyiapkan skill kognitif karena materi atau soal yang disodorkan terkadang di luar batas kemampuan, haha.
Nah, kalau kita tidak bisa menjawab apa yang mereka tanyakan?
Jangan harap mereka akan respek ke kita.
Nilai kita di mata mereka langsung nol, bahkan minus.
Tahu sendiri, kan, betapa barbar-nya kelakuan remaja Jakarta jaman sekarang.
Attitude tidak ada, sok ambisius, tapi ternyata otaknya tidak lebih besar dari otak udang.
Awalnya, kalau tidak salah, baru beberapa minggu aku masuk kerja, aku sempat mental break down karena pernah terlalu lama berpikir akibat lupa rumus untuk menjawab soal yang diberikan salah seorang siswa, sebut saja B, sampai-sampai si B tidak sabar dan pada akhirnya memilih untuk pindah konsultasi ke guru lain yang lebih master.
Sejak saat itu, di matanya aku benar-benar kasat mata.
Perlakuannya seperti menampar dan menyadarkanku kalau aku tidak bisa diam saja.
Maka, aku mulai giat mengerjakan soal-soal, dari soal UN sampai SBMPTN dan ujian mandiri beberapa PTN, bertanya ke sana sini jika ada yang tidak aku mengerti salah satunya ke guru senior yang sangat membantuku dalam proses belajar ini, bahkan tidak jarang aku belajar juga dari siswa.
Aku tidak membiarkan ada celah bagi siswa untuk memandangku secara sebelah mata lagi.
Hingga, ketika si B kembali konsultasi kepadaku untuk menanyakan beberapa soal (mungkin terpaksa akibat si guru senior sudah hampir dua bulan jarang masuk karena suatu urusan dan aku pun jadi sering mengajar di kelasnya), dua minggu sebelum ia menghadapi UN SMA, kalian bisa tebak apa yang dia katakan?
Dia bilang, “Kak, sumpah, Kakak tahu? Kakak itu Hall of Fame-nya bimbel ini!”
Aku pun menjadi sedikit lega mengetahui pembelajaranku menghasilkan progress yang tidak disangka-sangka.
Selain itu, aku pun mulai mengamati karakter dari sekolah yang ada di bimbingan belajar tersebut.
Beberapa sekolah yang terkadang membuatku suka ketar-ketir adalah SMA 68, SMA 8, Don Bosco 2, Santa Theresia, Santa Ursula, Tarakanita, juga, tak lain dan tak bukan, Canisius College.
(PS : Si B bukan berasal dari sekolah yang aku sebutkan di atas, heuheu.)
Kenapa?
Karena soal-soal mereka terkadang memiliki tingkat kesulitan yang lumayan membuat jungkir balik dan kepala langsung vertigo dibuatnya.
Di antara sekolah yang aku paparkan, aku sangat impress pada Canisius College.
Jadi, di tempatku, hanya ada 4 orang siswa kelas 9 SMP yang berasal dari sekolah tersebut.
Untuk yang SMA, mayoritas di bimbel lain, haha.
Aku sedikit mengerutkan kening ketika mendengar nama sekolah itu karena baru pertama kali mendengar selama 22 tahun hidup di Jakarta.
Tetapi yang aku heran, peringkat tertinggi selama Try Out, selalu dipegang mereka.
Selidik punya selidik, ternyata, Canisius College adalah sekolah katolik terbaik se-DKI Jakarta yang muridnya adalah pria semua.
Letaknya di daerah Jakarta Selatan.
Aku menganga sejadi-jadinya ketika mengetahui bahwa peringkat UN tertinggi, jika negeri dan swasta digabung secara paralel, baik tingkat SMP maupun tingkat SMA, sudah beberapa tahun terakhir dipegang oleh mereka.
Pantas saja pertanyaan mereka selalu berbobot, seperti,
“Kak, kenapa kita harus menggunakan rata-rata sebagai representasi dari suatu data, bukan median?” (Nah, lho, ini mah list kemungkinan pertanyaan penguji yang gue buat sebelum sidang!)
“Kak, misalnya ada data 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7. Data itu modusnya lebih dari satu atau tidak punya modus?”
Sekali waktu, dua dari empat siswa Canisius College tersebut, konsultasi soal padaku karena mau ujian tulis masuk SMA Canisius College.
Dan tahu bagaimana soal-soalnya?
Aku hanya bisa menghela napas dan mencoba mengerjakan soalnya perlahan, untung beberapa ada yang bisa! Haha.
Soal-soal tersebut ibaratnya soal masuk perguruan tinggi negeri bagi tingkat SMA.
Sejak saat itu, aku tak lagi meragukan kemampuan mereka karena dari cerita 4 anak itu, aku jadi mengerti mereka telah terbiasa berkutat dengan soal-soal yang tingat kesulitannya tinggi, sehingga tidak heran mereka menyandang peringkat 1 UN terbaik se-DKI Jakarta karena soal UN bagi mereka pasti tidak ada apa-apanya, heuheu.
Di sisi lain, dari segi attitude, mereka benar-benar anak baik, sopan, dan santun, juga tidak pernah merendahkan orang lain.
Tahu sendiri, kan, bagaimana sekolah katolik mendidik siswa mereka?
Disiplinnya tinggi, jujur, seolah memberikan jaminan bahwa lulus dari sekolah mereka, anak-anak pasti memiliki karakter yang terintegritas.
Moto sekolahnya saja: The Center of Character Building.
Mereka memegang teguh prinsip 3C, yaitu Competence (kepintaran), Conscience (hati nurani), dan Compassion (kepedulian terhadap sesama).
Mereka pun tidak menutup diri dari seni. Ilmu tanpa seni? Jadinya kaku. Seni tanpa ilmu? Jadinya ragu dan tabu.
Intinya, banyak kegiatan mereka yang menunjang untuk mengoptimalkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik, juga pembentukan karakter yang luar biasa.
Para siswa di didik untuk beraksi, bukan untuk bermain diksi, jadi tidak ada yang namanya istilah ‘Tong Kosong Nyaring Bunyinya,” seperti kebanyakan siswa di bimbingan belajar tempatku bekerja.
Jebolan Canisius College pun minimal jurusan teknik di UI dan ITB atau arsitektur Parahyangan, tahu sendiri kan arsitektur Parahyangan adalah arsitektur terbaik se- Asia Tenggara?
Bahkan negara lain banyak memakai arsitek lulusan Parahyangan, bukan UI atau ITB.
Lalu, mereka juga banyak yang dikirim orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Nah, dengan hasil pengamatan yang seperti ini, muncul pemikiran gila dalam otak liarku.
Bahwa, jika aku memiliki anak laki-laki, aku akan menyekolahkan anakku di Canisius College.
Semakin hari aku sadar, tidak mudah membentuk kepribadian anak yang terintegrasi di tengah era modernisasi ini.
Hedonisme bertebaran di mana-mana, free life style dengan konsep ‘semau gue’ yang hanya bisa membuatku geleng-geleng kepala, dan banyak lagi perilaku remaja jaman sekarang yang ada-ada saja.
Aku ingin anakku menjadi anak yang pintar, tetapi tetap bisa menyenangkan dan memberikan manfaat bagi banyak orang karena karakter yang dimilikinya.
Dan aku tidak menemukan sekolah yang bisa mendidik seperti itu selain Canisius College.
Setidaknya, jika aku menyekolahkan anak laki-lakiku kelak di Canisius College, dia akan termotivasi dengan sendirinya untuk menjadi pintar, jujur, disiplin, rendah hati, dan tangguh dalam menghadapi setiap tantangan dan persaingan yang semakin hari semakin ketat dalam hidupnya, tanpa perlu aku berkoar-koar dan berujung memberikannya tekanan batin atas kemauanku yang mungkin tidak sesuai dengannya nanti.
Jadi, ide gilaku ini tidak salah, kan? Hehe.
Dan aku sudah mulai merancang apa saja yang perlu aku siapkan untuk bisa menyekolahkan anakku di sana.
Karena, jujur, sekolah di sana memerlukan biaya yang tidak sedikit, dear readers, heuheu.
Aku saja hanya bisa menahan napas saat muridku mengatakan biaya masuk dan biaya bayaran tiap bulan di sekolahnya itu.
Dengan naif dan polosnya dia mengatakan, “Kayaknya Kakak tidak akan bisa menyekolahkan anak Kakak di Canisius kalau masih menjadi guru di sini,”
Meledaklah tawaku saat itu seraya berpikir keras mengenai langkah apa yang harus aku ambil.
So, mari kita kencangkan ikat kepala dan ikat pinggang demi masa depan anak yang lebih baik!
Buat anak, kenapa harus setengah-setengah? :)
Tetep, #jangankasihkendor , heuheu.
Have a nice day, good people!
-d-
Minggu, 28 Februari 2016
Manusia Tanpa Jiwa
Kenapa aku senekat ini ya?
Apa aku menyerah saja?
Menjadi seorang pendidik, khususnya guru.
Rasanya pekerjaan itu tak pantas untukku.
Buktinya, tidak ada yang mengatakan bahwa aku mengambil keputusan yang benar, satu orang pun, sejak pertama kali aku menjadi guru.
Sebaliknya, banyak yang bilang aku salah ambil langkah.
Tetapi yang lebih menyesakkan, aku pun tidak diberikan ruang untuk melakukan apa yang aku inginkan.
Memang sangat tidak dewasa sih, hanya saja pasti akan lebih lega bernafas jika ada satu orang saja yang ... ah sudahlah.
Jadi sekarang, aku menjelma menjadi makhluk paling dibenci sedunia, menjadi seonggok manusia tanpa jiwa.
-d-
Apa aku menyerah saja?
Menjadi seorang pendidik, khususnya guru.
Rasanya pekerjaan itu tak pantas untukku.
Buktinya, tidak ada yang mengatakan bahwa aku mengambil keputusan yang benar, satu orang pun, sejak pertama kali aku menjadi guru.
Sebaliknya, banyak yang bilang aku salah ambil langkah.
Tetapi yang lebih menyesakkan, aku pun tidak diberikan ruang untuk melakukan apa yang aku inginkan.
Memang sangat tidak dewasa sih, hanya saja pasti akan lebih lega bernafas jika ada satu orang saja yang ... ah sudahlah.
Jadi sekarang, aku menjelma menjadi makhluk paling dibenci sedunia, menjadi seonggok manusia tanpa jiwa.
-d-
Sabtu, 02 Januari 2016
Angel.
I always wonder, how could an angel breaks my heart?
And yes, he is my angel.
The one who always inspired me that I mentioned before.
-d-
20 Facts of Me :D
1. I’m an only child.
2. My dad come from Batak, my mom come from Jakarta. Yes, I’m a half blood, heuheu.
3. One and only cartoon character which I love the most is Hinata. Because someone told me that me and her is look alike, but I don't know how dominant that part might be heuheu.
4. Besides writing, I also love dancing though my body is not as flexible as Kpop group.
5. And yes, I’m into Korean so much. From the Kpop, dramas, reality shows, fashion, culture, language, food. But not for the history and politics.
6. My ultimate role model is SNSD Taeyeon, the leader of the group. After my mom, I think she is the strongest woman in the world, and I guess her personality is very unique.
7. I want a proper Korean Language course.
8. My major in college was mathematics education because I have a specific interest in lecturing with learning by doing.
9. For gadgets, I prefer white to purple as the main colour. But for dress, shoes, utensils, et cetera, I love purple the most of course. I’m a girl who loves purple!
10. I'm a biggest fan of Sitta Karina.
11. If I have to choose one from seven disney princess, I will resemble myself as Ariel, haha.
12. Many people said that I’m not good in singing, they always say the tone that come out from my voice is FLAT -_-
13. Since I was very young, I love to read, novel and magazine especially. From that hobby, I start to write out my imagination.
14. My favourite taste: chocolate hazelnut.
15. My favourite movie genre: romance, science fictions. Big no for actions and horror.
16. My everlasting number one favourite song: Iris from Goo Goo Dols.
17. My worst habbit: I rarely check my phone because I prefer to interact directly with people, so it may takes a long time for me to reply both messages and chat.
18. I’m not into horoscope, at all. So, it doesn’t make sense for me to judge people’s personality or attitude generally from zodiak.
19. My blood type: O. And yes, I also refuse if someone’s characters are evaluated by this kind of things.
20. I hate whiny people who always complain about his/her life. Please stop complaining! Life is just once, just keep moving forward to be the best version of yourself, keep proactive, and don’t forget to enjoy and relax every single time of your life.
And here, I challenge you, to write down your 20 facts. So, how many parts that you already know about me? :D
-d-
2. My dad come from Batak, my mom come from Jakarta. Yes, I’m a half blood, heuheu.
3. One and only cartoon character which I love the most is Hinata. Because someone told me that me and her is look alike, but I don't know how dominant that part might be heuheu.
4. Besides writing, I also love dancing though my body is not as flexible as Kpop group.
5. And yes, I’m into Korean so much. From the Kpop, dramas, reality shows, fashion, culture, language, food. But not for the history and politics.
6. My ultimate role model is SNSD Taeyeon, the leader of the group. After my mom, I think she is the strongest woman in the world, and I guess her personality is very unique.
7. I want a proper Korean Language course.
8. My major in college was mathematics education because I have a specific interest in lecturing with learning by doing.
9. For gadgets, I prefer white to purple as the main colour. But for dress, shoes, utensils, et cetera, I love purple the most of course. I’m a girl who loves purple!
10. I'm a biggest fan of Sitta Karina.
11. If I have to choose one from seven disney princess, I will resemble myself as Ariel, haha.
12. Many people said that I’m not good in singing, they always say the tone that come out from my voice is FLAT -_-
13. Since I was very young, I love to read, novel and magazine especially. From that hobby, I start to write out my imagination.
14. My favourite taste: chocolate hazelnut.
15. My favourite movie genre: romance, science fictions. Big no for actions and horror.
16. My everlasting number one favourite song: Iris from Goo Goo Dols.
17. My worst habbit: I rarely check my phone because I prefer to interact directly with people, so it may takes a long time for me to reply both messages and chat.
18. I’m not into horoscope, at all. So, it doesn’t make sense for me to judge people’s personality or attitude generally from zodiak.
19. My blood type: O. And yes, I also refuse if someone’s characters are evaluated by this kind of things.
20. I hate whiny people who always complain about his/her life. Please stop complaining! Life is just once, just keep moving forward to be the best version of yourself, keep proactive, and don’t forget to enjoy and relax every single time of your life.
And here, I challenge you, to write down your 20 facts. So, how many parts that you already know about me? :D
-d-
Minggu, 27 Desember 2015
Write, Wrote, Written
Lagi-lagi, aku ingin menulis tentang menulis.
Aneh ya terdengarnya? Hehe.
Bagiku, menulis bukanlah pilihan, melainkan sebuah kepastian.
Di saat aku bosan, bukan berarti aku langsung memilih menulis sebagai penghilang penat.
Dan di tengah-tengah kesibukan, kalau aku ingin menulis karena diserang inspirasi bertubi-tubi, ya aku pasti menulis tanpa ada keraguan sama sekali, tak peduli dengan kesibukanku.
Mungkin banyak orang-orang terdekatku yang bertanya-tanya.
Kenapa sampai saat ini belum ada satu pun karyaku yang terbit?
Istilahnya, berhasil menerbitkan sebuah karya adalah realisasi nyata dari karya tersebut, kan?
Namanya juga manusia, se-introvert apa pun, pasti ada keinginan untuk ‘memamerkan’ hasil buah pikirannya berupa karya baik itu tulisan, musik, gambar, dan hal lainnya.
Aku pun seperti itu.
Dan memang hanya orang tertentu saja yang aku biarkan membaca tulisanku.
Pertama, sumber inspirasi terbesarku, Tubagus Fadillah Setyabudi Leksana.
Bagiku, sosoknya yang memancing imajinasiku bergerak liar entah ke sudut mana dalam semesta ini.
Itu dia di mataku, entah bagaimana dia di mata dirinya sendiri terhadapku, entah bagaimana aku di matanya.
Analoginya gini, (ini mungkin sedikit lebai ya, heuheu), ikan itu pasti butuh air, kan?
Nah, dia bagai air bagi inspirasiku.
Kedua, mentor yang juga tak kalah hebatnya dari J.K Rowling, hehe, Kak Astika Lestyani.
Kakak di Paskibra, angkatan 18, sedangkan aku angkatan 21.
Entah bagaimana awalnya aku lupa, aku stalk twitter-nya dan aku baca blog-nya.
Blog-nya berhasil membuat waktuku berhenti bergerak, membeku.
Blog-nya berhasil membuat debar jantungku berdetak lebih cepat dari kecepatan cahaya.
Ya, entahlah, aku menemukan diriku hanyut dalam setiap kata yang diurainya.
Aku mendapati diriku terlena seraya menjelma menjadi setiap frasa yang dideskripsikannya.
Membuat nyaliku ciut sekaligus kagum diwaktu yang bersamaan.
Aku pun memberanikan diri mention akun twitternya dan kami mulai berkomunikasi dari situ.
Sampai akhirnya beliau jarang lagi menulis dan sekarang sudah berkeluarga :D
Intinya aku akan tetap menanti tulisan-tulisannya.
Jadi, aku hanya berani menunjukkan setiap tulisanku pada dua orang itu.
Tetapi sekarang, setelah mulai kerja, mungkin aku ingin menjadi sosok yang lebih fleksibel dan tidak ragu lagi untuk ‘memamerkan’ tulisanku yang pasti akan menunjukkan betapa anehnya aku ini, heuheu.
Lantas, kenapa tidak mencoba mengirim naskah ke penerbit?
Sudah kucoba.
Naskah pertama berjudul A Guardian Angel.
Aku mengirim naskah ini ke dua penerbit dan dua-duanya menolak, haha.
Penerbit pertama mengembalikan naskah dengan memberikan poin-poin mana saja yang harus aku perbaiki.
Penerbit kedua mengembalikan naskah dengan kata-kata lugas, tegas, dan menusuk.
“Maaf, kami menolak karya Anda karena kami nilai tidak bagus.”
Naskah kedua berjudul Simfoni Melayu.
Kalau naskah ini memang hanya aku ikut sertakan untuk lomba tanpa mengharap apa-apa (serius ini mah serius) dan aku kerjakan dengan sangat terburu-buru.
Aku hanya serius di tahap awal saja, saat menggali informasi mengenai kebudayaan melayu.
Padahal tema tulisannya adalah Wanita, hahahahahahahaha.
Mungkin karyaku kurang ‘Wanita’, atau kurang ‘Melayu’, heuheu.
Itulah dua alasan kenapa sampai saat ini karyaku belum terbit, sedangkan orang-orang sekitar tahu betul aku sering sekali dan sangat suka menulis.
Pertama karena aku memang malu menunjukkannya pada orang-orang sehingga aku tidak mendapat banyak masukan, sedangkan aku orang yang background pendidikanya bukan bahasa, sastra, jurnalis, atau semacamnya.
Kedua karena memang di mata para profesional, karyaku belum layak terbit.
Sesuka-sukanya aku pada menulis, pasti akan tetap kalah dari profesional yang ahli, bukan?
Mereka, walau tidak mau pun, muak sekali pun, pasti mengerti tata bahasa dan tulisan yang benar sesuai aturan, pasti paham bagaimana membuat keharmonisan dan keselarasan dalam menyatu-padukan kata per kata.
Ya intinya mereka tahu ilmunya berseni dengan diksi.
Terus, kalau aku suka menulis, kenapa tidak benar-benar mendalami ilmunya saja dengan mengambil jurusan bahasa dan sastra saat kuliah?
Well, bisa dibilang, aku ini sosok Kugy di Perahu Kertas yang tidak percaya dengan mimpinya sendiri, yang menganggap menulis itu bukanlah sebuah hal yang realistis.
Hidup di Jakarta memang cuma butuh hal-hal realistis sih, ya kan? Hehe.
Seandainya ada sosok Keenan pun dalam hidup aku, ya paling sang sumber inspirasi terbesarku itu.
Dan kami tidak berada dalam suatu hubungan yang dapat membuat kami menjadi alasan untuk mempertahankan mimpi masing-masing, setidaknya begitulah di matanya.
Namanya mimpi, nanti juga bangun.
Dan ujung-ujungnya?
Bersikap realistis lagi.
Nggak semua dongeng bisa happy ending, apalagi realitas.
Maka aku memutuskan masuk IPA di SMA, mengambil kuliah jurusan Pendidikan Matematika, dan kerja jadi guru.
Aku tidak pernah mengeluh mengenai persoalan 'salah ambil jurusan', atau pun menyesal akan hal itu.
Pelarianku adalah dengan menjadi ambisius di setiap mata kuliah, karena bagiku dengan mendapat A, aku merasa teryakini bahwa aku mampu dan pantas untuk bertahan.
Ya bagiku nilai ini adalah bukti otentik, baik buat diriku sendiri maupun orang lain.
Kalau dapat B atau C, apalagi D?
Wah, dapat B saja aku sudah stress mati-matian.
Coba baca postingan aku sebelumnya yang berjudul Arti Sebuah Nilai, hehe.
Loh, kok jadi panjang banget ya dari menulis ke nilai? Heuheu.
Anehnya, aku menemukan diriku suka berinteraksi dengan banyak murid.
Aku merasa banyak kupu-kupu berterbangan dalam perutku setiap kali berada dalam lingkungan sekolah.
Haha lebai banget lagi ya?
Aku memang begini.
Awkward, freak, nerd, coward, and ... pathetic.
Jadi, menulis atau mengajar, Din?
Yah, pembaca saja yang menyimpulkan.
Kalau kata Ungu dan Rossa sih, “Karena sekali cintaaa, aku tetap cintaaa...”
Because art is funny. When you think so hard, nothing comes out.
-d-
Aneh ya terdengarnya? Hehe.
Bagiku, menulis bukanlah pilihan, melainkan sebuah kepastian.
Di saat aku bosan, bukan berarti aku langsung memilih menulis sebagai penghilang penat.
Dan di tengah-tengah kesibukan, kalau aku ingin menulis karena diserang inspirasi bertubi-tubi, ya aku pasti menulis tanpa ada keraguan sama sekali, tak peduli dengan kesibukanku.
Mungkin banyak orang-orang terdekatku yang bertanya-tanya.
Kenapa sampai saat ini belum ada satu pun karyaku yang terbit?
Istilahnya, berhasil menerbitkan sebuah karya adalah realisasi nyata dari karya tersebut, kan?
Namanya juga manusia, se-introvert apa pun, pasti ada keinginan untuk ‘memamerkan’ hasil buah pikirannya berupa karya baik itu tulisan, musik, gambar, dan hal lainnya.
Aku pun seperti itu.
Dan memang hanya orang tertentu saja yang aku biarkan membaca tulisanku.
Pertama, sumber inspirasi terbesarku, Tubagus Fadillah Setyabudi Leksana.
Bagiku, sosoknya yang memancing imajinasiku bergerak liar entah ke sudut mana dalam semesta ini.
Itu dia di mataku, entah bagaimana dia di mata dirinya sendiri terhadapku, entah bagaimana aku di matanya.
Analoginya gini, (ini mungkin sedikit lebai ya, heuheu), ikan itu pasti butuh air, kan?
Nah, dia bagai air bagi inspirasiku.
Kedua, mentor yang juga tak kalah hebatnya dari J.K Rowling, hehe, Kak Astika Lestyani.
Kakak di Paskibra, angkatan 18, sedangkan aku angkatan 21.
Entah bagaimana awalnya aku lupa, aku stalk twitter-nya dan aku baca blog-nya.
Blog-nya berhasil membuat waktuku berhenti bergerak, membeku.
Blog-nya berhasil membuat debar jantungku berdetak lebih cepat dari kecepatan cahaya.
Ya, entahlah, aku menemukan diriku hanyut dalam setiap kata yang diurainya.
Aku mendapati diriku terlena seraya menjelma menjadi setiap frasa yang dideskripsikannya.
Membuat nyaliku ciut sekaligus kagum diwaktu yang bersamaan.
Aku pun memberanikan diri mention akun twitternya dan kami mulai berkomunikasi dari situ.
Sampai akhirnya beliau jarang lagi menulis dan sekarang sudah berkeluarga :D
Intinya aku akan tetap menanti tulisan-tulisannya.
Jadi, aku hanya berani menunjukkan setiap tulisanku pada dua orang itu.
Tetapi sekarang, setelah mulai kerja, mungkin aku ingin menjadi sosok yang lebih fleksibel dan tidak ragu lagi untuk ‘memamerkan’ tulisanku yang pasti akan menunjukkan betapa anehnya aku ini, heuheu.
Lantas, kenapa tidak mencoba mengirim naskah ke penerbit?
Sudah kucoba.
Naskah pertama berjudul A Guardian Angel.
Aku mengirim naskah ini ke dua penerbit dan dua-duanya menolak, haha.
Penerbit pertama mengembalikan naskah dengan memberikan poin-poin mana saja yang harus aku perbaiki.
Penerbit kedua mengembalikan naskah dengan kata-kata lugas, tegas, dan menusuk.
“Maaf, kami menolak karya Anda karena kami nilai tidak bagus.”
Naskah kedua berjudul Simfoni Melayu.
Kalau naskah ini memang hanya aku ikut sertakan untuk lomba tanpa mengharap apa-apa (serius ini mah serius) dan aku kerjakan dengan sangat terburu-buru.
Aku hanya serius di tahap awal saja, saat menggali informasi mengenai kebudayaan melayu.
Padahal tema tulisannya adalah Wanita, hahahahahahahaha.
Mungkin karyaku kurang ‘Wanita’, atau kurang ‘Melayu’, heuheu.
Itulah dua alasan kenapa sampai saat ini karyaku belum terbit, sedangkan orang-orang sekitar tahu betul aku sering sekali dan sangat suka menulis.
Pertama karena aku memang malu menunjukkannya pada orang-orang sehingga aku tidak mendapat banyak masukan, sedangkan aku orang yang background pendidikanya bukan bahasa, sastra, jurnalis, atau semacamnya.
Kedua karena memang di mata para profesional, karyaku belum layak terbit.
Sesuka-sukanya aku pada menulis, pasti akan tetap kalah dari profesional yang ahli, bukan?
Mereka, walau tidak mau pun, muak sekali pun, pasti mengerti tata bahasa dan tulisan yang benar sesuai aturan, pasti paham bagaimana membuat keharmonisan dan keselarasan dalam menyatu-padukan kata per kata.
Ya intinya mereka tahu ilmunya berseni dengan diksi.
Terus, kalau aku suka menulis, kenapa tidak benar-benar mendalami ilmunya saja dengan mengambil jurusan bahasa dan sastra saat kuliah?
Well, bisa dibilang, aku ini sosok Kugy di Perahu Kertas yang tidak percaya dengan mimpinya sendiri, yang menganggap menulis itu bukanlah sebuah hal yang realistis.
Hidup di Jakarta memang cuma butuh hal-hal realistis sih, ya kan? Hehe.
Seandainya ada sosok Keenan pun dalam hidup aku, ya paling sang sumber inspirasi terbesarku itu.
Dan kami tidak berada dalam suatu hubungan yang dapat membuat kami menjadi alasan untuk mempertahankan mimpi masing-masing, setidaknya begitulah di matanya.
Namanya mimpi, nanti juga bangun.
Dan ujung-ujungnya?
Bersikap realistis lagi.
Nggak semua dongeng bisa happy ending, apalagi realitas.
Maka aku memutuskan masuk IPA di SMA, mengambil kuliah jurusan Pendidikan Matematika, dan kerja jadi guru.
Aku tidak pernah mengeluh mengenai persoalan 'salah ambil jurusan', atau pun menyesal akan hal itu.
Pelarianku adalah dengan menjadi ambisius di setiap mata kuliah, karena bagiku dengan mendapat A, aku merasa teryakini bahwa aku mampu dan pantas untuk bertahan.
Ya bagiku nilai ini adalah bukti otentik, baik buat diriku sendiri maupun orang lain.
Kalau dapat B atau C, apalagi D?
Wah, dapat B saja aku sudah stress mati-matian.
Coba baca postingan aku sebelumnya yang berjudul Arti Sebuah Nilai, hehe.
Loh, kok jadi panjang banget ya dari menulis ke nilai? Heuheu.
Anehnya, aku menemukan diriku suka berinteraksi dengan banyak murid.
Aku merasa banyak kupu-kupu berterbangan dalam perutku setiap kali berada dalam lingkungan sekolah.
Haha lebai banget lagi ya?
Aku memang begini.
Awkward, freak, nerd, coward, and ... pathetic.
Jadi, menulis atau mengajar, Din?
Yah, pembaca saja yang menyimpulkan.
Kalau kata Ungu dan Rossa sih, “Karena sekali cintaaa, aku tetap cintaaa...”
Because art is funny. When you think so hard, nothing comes out.
-d-
Minggu, 01 November 2015
RINDU :)
Kali ini topiknya, selalu dan seperti biasa, topik paling mainstream yang pernah ada di seluruh jagad raya.
Topik yang membuat pembaca maupun penulisnya merasa waktu seolah berhenti sejenak.
Topik yang merupakan penyakit, tetapi lucunya bisa sembuh karena penyebabnya sendiri.
Ya, tak lain dan tak bukan, rindu.
Menurutku, rindu ini negasi dari bosan, dan tidak terpaku dengan pertanyaan “Siapa?”.
Kalau sudah dirundung rindu, aku hanya bisa menarikan jemariku di atas tuts keyboard laptop ini.
Kalau sudah dirundung rindu, aku hanya bisa terpaku menatap potret kami yang lucu dan kembali mengingat momen yang tertangkap lensa itu.
Kalau sudah dirundung rindu, aku hanya bisa terduduk lemas dan menitikkan air mata sebagai penawar rasa sesak dalam dada, tanda kalau aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Kata orang, rindu itu indah.
Kata orang juga, rindu itu menyiksa.
Tapi bagiku, rindu ya rindu.
Bagai sebuah titik, ia tidak terdefinisi.
Rasanya, kalau rindu dideskripsikan dengan kata-kata, hanya akan mengurangi cita rasa keindahannya yang khas.
Sarana menyalurkan rindu paling oke, tak lain dan tak bukan seperti yang sudah diketahui, ya lewat doa.
Karena esensinya begitu luar biasa, bahkan jauh lebih terasa ke hati dari pada sebuah bisikan secara langsung.
Adakalanya, sekali waktu, rindu juga bikin kita melakukan hal aneh-aneh.
Seperti aku, misalnya, meneleponnya dengan menyembunyikan identitas nomor ponselku.
Aku yang sudah bisa menebak apa responnya, hanya bisa tersenyum dan menghela napas.
Ya, dia menolak panggilan teleponnya. Totally predictable, haha.
So, I used a different method.
Aku ambil kartu modemku yang masih aktif tapi sudah lama tidak kugunakan karena paketnya habis, hehe, dan kugunakan untuk meneleponnya.
Nah, kali ini, dia ada reaksi, mengangkat telepon sewajarnya.
Dan aku? Hanya mendekap mulutku agar tidak terdengar suara isak tangisku seraya mendengar suaranya, “Halo? Halo? Ini dengan siapa?”
Kutahan beberapa detik, dan langsung kumatikan dengan perasaan campur aduk.
Itulah salah satu tindakan nekatku, entahlah, saat itu mungkin aku memang lagi tidak berpikir jernih, saat itu mungkin aku benar-benar membutuhkan teman bicara, atau saat itu mungkin aku memang benar-benar merindukannya tanpa syarat.
Intinya, aku bisa berubah jadi sosok gila kalau sudah dirundung rindu akan sosoknya, haha.
Well, it’s just about a story about someone you miss.
Now, I’m just trying to hold on this feeling so I won’t disturb his daily life.
Cheers up! :)
-d-
Topik yang membuat pembaca maupun penulisnya merasa waktu seolah berhenti sejenak.
Topik yang merupakan penyakit, tetapi lucunya bisa sembuh karena penyebabnya sendiri.
Ya, tak lain dan tak bukan, rindu.
Menurutku, rindu ini negasi dari bosan, dan tidak terpaku dengan pertanyaan “Siapa?”.
Kalau sudah dirundung rindu, aku hanya bisa menarikan jemariku di atas tuts keyboard laptop ini.
Kalau sudah dirundung rindu, aku hanya bisa terpaku menatap potret kami yang lucu dan kembali mengingat momen yang tertangkap lensa itu.
Kalau sudah dirundung rindu, aku hanya bisa terduduk lemas dan menitikkan air mata sebagai penawar rasa sesak dalam dada, tanda kalau aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Kata orang, rindu itu indah.
Kata orang juga, rindu itu menyiksa.
Tapi bagiku, rindu ya rindu.
Bagai sebuah titik, ia tidak terdefinisi.
Rasanya, kalau rindu dideskripsikan dengan kata-kata, hanya akan mengurangi cita rasa keindahannya yang khas.
Sarana menyalurkan rindu paling oke, tak lain dan tak bukan seperti yang sudah diketahui, ya lewat doa.
Karena esensinya begitu luar biasa, bahkan jauh lebih terasa ke hati dari pada sebuah bisikan secara langsung.
Adakalanya, sekali waktu, rindu juga bikin kita melakukan hal aneh-aneh.
Seperti aku, misalnya, meneleponnya dengan menyembunyikan identitas nomor ponselku.
Aku yang sudah bisa menebak apa responnya, hanya bisa tersenyum dan menghela napas.
Ya, dia menolak panggilan teleponnya. Totally predictable, haha.
So, I used a different method.
Aku ambil kartu modemku yang masih aktif tapi sudah lama tidak kugunakan karena paketnya habis, hehe, dan kugunakan untuk meneleponnya.
Nah, kali ini, dia ada reaksi, mengangkat telepon sewajarnya.
Dan aku? Hanya mendekap mulutku agar tidak terdengar suara isak tangisku seraya mendengar suaranya, “Halo? Halo? Ini dengan siapa?”
Kutahan beberapa detik, dan langsung kumatikan dengan perasaan campur aduk.
Itulah salah satu tindakan nekatku, entahlah, saat itu mungkin aku memang lagi tidak berpikir jernih, saat itu mungkin aku benar-benar membutuhkan teman bicara, atau saat itu mungkin aku memang benar-benar merindukannya tanpa syarat.
Intinya, aku bisa berubah jadi sosok gila kalau sudah dirundung rindu akan sosoknya, haha.
Well, it’s just about a story about someone you miss.
Now, I’m just trying to hold on this feeling so I won’t disturb his daily life.
Cheers up! :)
-d-
Kamis, 29 Oktober 2015
Apalagi yang Kau Cari?
Apalagi yang kau cari?
Cinta untukmu berlimpah tak ada tandingnya.
Apalagi yang kau cari?
Sehat membuatmu kuat tak ada duanya.
Apalagi yang kau cari?
Waktu memang tidak sudi berhenti menunggu, tetapi dirimu punya banyak kesempatan untuk melewatinya menari di tengah hujan dan menikmati tiap tetesan anugerah dari langit.
Lantas, apalagi yang kau cari?
Jati diri yang mendewasakanmu seolah tidak ingin mendekat, namun ia mendampingimu tegar untuk bertahan dan terbang di atas badai.
Jadi, apalagi yang kau cari?
Kamu terlahir di dunia dengan segala kefanaannya yang penuh dengan ilusi sehingga identik dengan mimpi. Namun tidakkah kau sadar? Tanpa kefanaan, tanpa ilusi apalagi mimpi, tidak akan ada eksistensi peradaban yang menjadikan hidupmu tidak seperti garis proyeksi yang kaku, datar, dan menawarkan kehampaan.
Sekali lagi, apalagi yang kau cari?
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
-d-
Cinta untukmu berlimpah tak ada tandingnya.
Apalagi yang kau cari?
Sehat membuatmu kuat tak ada duanya.
Apalagi yang kau cari?
Waktu memang tidak sudi berhenti menunggu, tetapi dirimu punya banyak kesempatan untuk melewatinya menari di tengah hujan dan menikmati tiap tetesan anugerah dari langit.
Lantas, apalagi yang kau cari?
Jati diri yang mendewasakanmu seolah tidak ingin mendekat, namun ia mendampingimu tegar untuk bertahan dan terbang di atas badai.
Jadi, apalagi yang kau cari?
Kamu terlahir di dunia dengan segala kefanaannya yang penuh dengan ilusi sehingga identik dengan mimpi. Namun tidakkah kau sadar? Tanpa kefanaan, tanpa ilusi apalagi mimpi, tidak akan ada eksistensi peradaban yang menjadikan hidupmu tidak seperti garis proyeksi yang kaku, datar, dan menawarkan kehampaan.
Sekali lagi, apalagi yang kau cari?
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
-d-
Minggu, 18 Oktober 2015
I, My Life is a Beauty ...
Somebody help me,
Somebody hel me yea yea,
Somebody help me,
Jadi ceritanya nulis postingan ini sambil dengerin lagu CN Blue yang Cinderella, hehe.
Well, hari ini topiknya pekerjaan.
Ya, aku sudah bekerja di salah satu lembaga bimbingan belajar di Jakarta.
Alasan aku memilih pekerjaan ini dibanding mengajar di sekolah, karena accident.
Jadi di suatu hari aku berkomunikasi dengan temanku yang katanya sudah berkeliling mencari pekerjaan setelah dinyatakan lulus sidang, sedangkan aku masih berleha-leha di kamar sambil nonton drama Mask dan menikmati MV barunya Girls Generation yang berjudul Party haha.
Nah karena itu, aku jadi mulai berpikir untuk cepat-cepat cari pekerjaan sehingga bisa menghasilkan uang sendiri dengan halal.
Dapatlah aku iklan di salah satu media bahwa lembaga bimbingan belajar ini membutuhkan pengajar Matematika.
Subuh aku mengirim lamaran, jam sembilan pihak lembaga langsung meneleponku dan menyuruhku untuk tes tulis dan wawancara.
Setelah melewati beberapa tes, pendiklatan, dan berbagai persyaratan lainnya, akhirnya resmilah aku menjadi salah satu guru kontrak di lembaga bimbingan belajar tersebut.
Tentu aku sangat bersyukur dan senang bisa mendapat pekerjaan secepat itu dalam jangan waktu belum ada sebulan aku lulus sidang.
Sampai akhirnya, aku mendapat kabar bahwa temanku diterima di salah satu sekolah swasta dengan honor yang lebih menggiurkan, wakwaw.
Jadi aku sempat down saat itu.
Ya, bagi kalian yang baca postingan ini mungkin sudah bisa menyimpulkan bahwa aku mudah sekali tersentil oleh hal-hal kecil seperti ini.
Saat down kala itu, aku mulai membandingkan pekerjaanku dengan pekerjaan temanku di sekolah, dari segi honor, jam kerja, dan tentu saja pressureyang ada.
Banyak pertimbangan-pertimbangan yang bermunculan di kepalaku, mulai dari mencari pekerjaan baru dan keluar dari lembaga bimbingan belajar tersebut padahal belum satu bulan aku bekerja, atau tetap bertahan di sana dengan mencari pekerjaan sampingan lain yang bisa aku lakukan di pagi harinya karena tentu saja jam kerja di bimbingan belajar adalah siang sampai malam hari, menyesuaikan waktu siswa pulang sekolah.
Sampai beberapa waktu lalu pemikiran tersebut pun masih ada.
Bahkan ada guru di sana menyarankan agar aku mencari pekerjaan yang lebih baik, karena bekerja di lembaga tersebut benar-benar bekerja under pressure.
Sampai suatu hari aku menyadari bahwa Ibuku sudah tidak muda lagi, tidak sepantasnya mengurus rumah seorang diri.
Maka dari situ aku mendapat sebuah keteguhan hati, bahwa setidaknya dengan bekerja di siang hari, aku bisa meringankan beban Ibuku dengan membantunya mengurus rumah.
Kalau aku kerja di pagi hari, aku tidak terbayangkan bagaimana kondisi rumah tanpa asisten rumah tangga, dan aku mana tega membiarkan Ibuku yang mengurus semuanya.
Itu kisah tentang bagaimana akhirnya aku menjalani pekerjaanku.
Nah, sekarang aku akan bercerita tentang beberapa muridku.
Tentu saja kepribadian mereka sangat beragam.
Pertama, ada yang menggemaskan (minta banget untuk dijadiin adik atau anak, hehe).
Kedua, ada yang ambisius (datang paling cepet untuk konsultasi pelajaran yang dia nggak ngerti, di kelas bener-bener merhatiin dan terkadang nggak suka kalau ada yang ganggu, pulang paling malam untuk konsul lagi pulang les, bahkan ada yang datang walau itu bukan hari lesnya demi konsul!)
Ketiga, ada yang ogah-ogahan untuk belajar karena kurangnya motivasi belajar mereka. Kerjaan mereka di kelas, bikin rusuh, ngehasud temennya yang mau belajar biar ngobrol.
Keempat, ada yang kurang ajar bener-bener. Contoh, dia nanya PR yang dia nggak bisa walau udah nyoba, datanglah dia nemuin aku. Dia bilang, “Kak, ini bagaimana sih caranya? Kok aku gak bisa ya? Tolong lah Kak.” Oke aku ladenin, aku layanin. TAPI PAS AKU TERANGIN, BUKANNYA DENGERIN, MALAH MAIN GAME, KAN MINTA DITABOKKK!
Kelima, ada yang dikelas belajarnya ogah-ogahan, kerjaannya main HP aja, tapi paling getol minta konsul, padahal yang dia tanya udah dijelasin di kelas. Udah gitu, sekali nanya soal nggak tanggung-tanggung, minta dijelasin semua dari nomor satu sampe akhir tanpa dia mau nyoba. KAN NGESELIN, MINTA DIJAMBAKKK!
Keenam, ada yang baik, rajin di kelas, nah anak-anak kayak gini baru yang paling enak dilayanin kalau minta konsul. Ya kan? Hehe.
Ketujuh, ada yang dateng ke lembaga karena disuruh orang tua aja. Jadi di bimbel kerjaannya hedon. Dikit-dikit delivery McD, dikit-dikit pesen Pizza Hut pakai gojek, dan macem-macem lagi pokoknya.
Kedelapan, ada yang dateng karena butuh temen curhat, jadi bentar-bentar minta konsul eh ujung-ujungnya curcol sama kakak-kakak pengajar. Nah, kalau gini juga asyik. Istilahnya, cuma di sini ranah aku bisa berbagi pengalaman. Yah, mungkin karena aku emang suka dengerin orang cerita kali ya? Hehe. Kayaknya aku sekarang bisa mendeklarasikan bahwa aku adalah wanita dengan kepribadian di atas rata-rata yang mau dengar wkwk.
Pokoknya, aku sudah terlanjur sayang sama mereka dengan kepribadian mereka yang macam-macam itu.
Pikiran menakutkan bahwa mereka tidak menyukai aku kadang suka muncul.
Tetapi kenapa juga harus dipermasalahkan?
Toh aku manusia biasa yang tidak sempurna, yang pasti punya kekurangan yang mungkin mereka tidak suka.
Pokoknya, dengan adanya murid-murid, terlepas dari segala under pressure yang kasat mata oleh mereka, aku jadi yakin akan satu hal yang membuatku begitu bersyukur tiada henti.
Kalau kata Tae Yeon Girls Generation sih, “My life is a beauty,”
Yah, itulah sekilas curhatan dari seorang pengajar dengan jiwa melankolis paling bahagia hehe.
Masih ada hari esok yang merupakan sebuah kejutan bagi setiap insan, salah satu alasan bagiku untuk melakukan yang terbaik setiap harinya.
FIGHTING! Because everybody loves you, Din.
-d-
Somebody hel me yea yea,
Somebody help me,
Jadi ceritanya nulis postingan ini sambil dengerin lagu CN Blue yang Cinderella, hehe.
Well, hari ini topiknya pekerjaan.
Ya, aku sudah bekerja di salah satu lembaga bimbingan belajar di Jakarta.
Alasan aku memilih pekerjaan ini dibanding mengajar di sekolah, karena accident.
Jadi di suatu hari aku berkomunikasi dengan temanku yang katanya sudah berkeliling mencari pekerjaan setelah dinyatakan lulus sidang, sedangkan aku masih berleha-leha di kamar sambil nonton drama Mask dan menikmati MV barunya Girls Generation yang berjudul Party haha.
Nah karena itu, aku jadi mulai berpikir untuk cepat-cepat cari pekerjaan sehingga bisa menghasilkan uang sendiri dengan halal.
Dapatlah aku iklan di salah satu media bahwa lembaga bimbingan belajar ini membutuhkan pengajar Matematika.
Subuh aku mengirim lamaran, jam sembilan pihak lembaga langsung meneleponku dan menyuruhku untuk tes tulis dan wawancara.
Setelah melewati beberapa tes, pendiklatan, dan berbagai persyaratan lainnya, akhirnya resmilah aku menjadi salah satu guru kontrak di lembaga bimbingan belajar tersebut.
Tentu aku sangat bersyukur dan senang bisa mendapat pekerjaan secepat itu dalam jangan waktu belum ada sebulan aku lulus sidang.
Sampai akhirnya, aku mendapat kabar bahwa temanku diterima di salah satu sekolah swasta dengan honor yang lebih menggiurkan, wakwaw.
Jadi aku sempat down saat itu.
Ya, bagi kalian yang baca postingan ini mungkin sudah bisa menyimpulkan bahwa aku mudah sekali tersentil oleh hal-hal kecil seperti ini.
Saat down kala itu, aku mulai membandingkan pekerjaanku dengan pekerjaan temanku di sekolah, dari segi honor, jam kerja, dan tentu saja pressureyang ada.
Banyak pertimbangan-pertimbangan yang bermunculan di kepalaku, mulai dari mencari pekerjaan baru dan keluar dari lembaga bimbingan belajar tersebut padahal belum satu bulan aku bekerja, atau tetap bertahan di sana dengan mencari pekerjaan sampingan lain yang bisa aku lakukan di pagi harinya karena tentu saja jam kerja di bimbingan belajar adalah siang sampai malam hari, menyesuaikan waktu siswa pulang sekolah.
Sampai beberapa waktu lalu pemikiran tersebut pun masih ada.
Bahkan ada guru di sana menyarankan agar aku mencari pekerjaan yang lebih baik, karena bekerja di lembaga tersebut benar-benar bekerja under pressure.
Sampai suatu hari aku menyadari bahwa Ibuku sudah tidak muda lagi, tidak sepantasnya mengurus rumah seorang diri.
Maka dari situ aku mendapat sebuah keteguhan hati, bahwa setidaknya dengan bekerja di siang hari, aku bisa meringankan beban Ibuku dengan membantunya mengurus rumah.
Kalau aku kerja di pagi hari, aku tidak terbayangkan bagaimana kondisi rumah tanpa asisten rumah tangga, dan aku mana tega membiarkan Ibuku yang mengurus semuanya.
Itu kisah tentang bagaimana akhirnya aku menjalani pekerjaanku.
Nah, sekarang aku akan bercerita tentang beberapa muridku.
Tentu saja kepribadian mereka sangat beragam.
Pertama, ada yang menggemaskan (minta banget untuk dijadiin adik atau anak, hehe).
Kedua, ada yang ambisius (datang paling cepet untuk konsultasi pelajaran yang dia nggak ngerti, di kelas bener-bener merhatiin dan terkadang nggak suka kalau ada yang ganggu, pulang paling malam untuk konsul lagi pulang les, bahkan ada yang datang walau itu bukan hari lesnya demi konsul!)
Ketiga, ada yang ogah-ogahan untuk belajar karena kurangnya motivasi belajar mereka. Kerjaan mereka di kelas, bikin rusuh, ngehasud temennya yang mau belajar biar ngobrol.
Keempat, ada yang kurang ajar bener-bener. Contoh, dia nanya PR yang dia nggak bisa walau udah nyoba, datanglah dia nemuin aku. Dia bilang, “Kak, ini bagaimana sih caranya? Kok aku gak bisa ya? Tolong lah Kak.” Oke aku ladenin, aku layanin. TAPI PAS AKU TERANGIN, BUKANNYA DENGERIN, MALAH MAIN GAME, KAN MINTA DITABOKKK!
Kelima, ada yang dikelas belajarnya ogah-ogahan, kerjaannya main HP aja, tapi paling getol minta konsul, padahal yang dia tanya udah dijelasin di kelas. Udah gitu, sekali nanya soal nggak tanggung-tanggung, minta dijelasin semua dari nomor satu sampe akhir tanpa dia mau nyoba. KAN NGESELIN, MINTA DIJAMBAKKK!
Keenam, ada yang baik, rajin di kelas, nah anak-anak kayak gini baru yang paling enak dilayanin kalau minta konsul. Ya kan? Hehe.
Ketujuh, ada yang dateng ke lembaga karena disuruh orang tua aja. Jadi di bimbel kerjaannya hedon. Dikit-dikit delivery McD, dikit-dikit pesen Pizza Hut pakai gojek, dan macem-macem lagi pokoknya.
Kedelapan, ada yang dateng karena butuh temen curhat, jadi bentar-bentar minta konsul eh ujung-ujungnya curcol sama kakak-kakak pengajar. Nah, kalau gini juga asyik. Istilahnya, cuma di sini ranah aku bisa berbagi pengalaman. Yah, mungkin karena aku emang suka dengerin orang cerita kali ya? Hehe. Kayaknya aku sekarang bisa mendeklarasikan bahwa aku adalah wanita dengan kepribadian di atas rata-rata yang mau dengar wkwk.
Pokoknya, aku sudah terlanjur sayang sama mereka dengan kepribadian mereka yang macam-macam itu.
Pikiran menakutkan bahwa mereka tidak menyukai aku kadang suka muncul.
Tetapi kenapa juga harus dipermasalahkan?
Toh aku manusia biasa yang tidak sempurna, yang pasti punya kekurangan yang mungkin mereka tidak suka.
Pokoknya, dengan adanya murid-murid, terlepas dari segala under pressure yang kasat mata oleh mereka, aku jadi yakin akan satu hal yang membuatku begitu bersyukur tiada henti.
Kalau kata Tae Yeon Girls Generation sih, “My life is a beauty,”
Yah, itulah sekilas curhatan dari seorang pengajar dengan jiwa melankolis paling bahagia hehe.
Masih ada hari esok yang merupakan sebuah kejutan bagi setiap insan, salah satu alasan bagiku untuk melakukan yang terbaik setiap harinya.
FIGHTING! Because everybody loves you, Din.
-d-
Rabu, 20 Mei 2015
Asrama
Dear, blogger.
Tahu sekarang aku lagi di mana?
Lagi di Asrama Putri UPI.
Tempat paling cozy seantero UPI.
Kalau sudah di sini, bikin gak mau pulang ke kosan.
Pertama, karena di sini ramai.
Kedua, karena yang meramaikan adalah teman-temanku sendiri, hehe.
Ya, teman-teman yang biasa aku ceritakan.
Yang dari Kepulauan Riau.
Bisa dibilang setengah dari kehidupan kuliahku, aku habiskan di asrama.
Apalagi dulu kami suka naik ke atapnya setiap kali selesai ujian untuk melepas penat, hehe.
Sekali waktu aku berbincang dengan salah satu sahabatku, Fitri.
Dia bilang, kalau orang melayu, teman-teman kami itu, punya pesona yang bisa bikin siapapun yang sudah mengenal mereka nggak bisa lepas.
Dan aku langsung menyetujuinya.
Karena aku berpendapat mereka memang bisa membuat orang yang sudah mengenal mereka begitu nyaman.
Mereka sangat easy going dan pandai bersikap seolah tanpa beban.
Saat aku menceritakan percakapan kami pada salah seorang teman melayuku itu, dia langsung tertawa dan punya pemikiran lain.
Kalau menurut dia dengan sudut pandang orang melayu, dia berkata kira-kira seperti ini,
"Kami tu pandai berbual, Din. Makanya orang-orang bisa langsung pada nyambung sama kami."
Aku merespon, "Ah, iya ya?"
Karena memang benar adanya, setelah aku pikir-pikir, hehe.
Yap, hanya itu yang ingin aku ceritakan buat hari ini :D
-d-
Tahu sekarang aku lagi di mana?
Lagi di Asrama Putri UPI.
Tempat paling cozy seantero UPI.
Kalau sudah di sini, bikin gak mau pulang ke kosan.
Pertama, karena di sini ramai.
Kedua, karena yang meramaikan adalah teman-temanku sendiri, hehe.
Ya, teman-teman yang biasa aku ceritakan.
Yang dari Kepulauan Riau.
Bisa dibilang setengah dari kehidupan kuliahku, aku habiskan di asrama.
Apalagi dulu kami suka naik ke atapnya setiap kali selesai ujian untuk melepas penat, hehe.
Sekali waktu aku berbincang dengan salah satu sahabatku, Fitri.
Dia bilang, kalau orang melayu, teman-teman kami itu, punya pesona yang bisa bikin siapapun yang sudah mengenal mereka nggak bisa lepas.
Dan aku langsung menyetujuinya.
Karena aku berpendapat mereka memang bisa membuat orang yang sudah mengenal mereka begitu nyaman.
Mereka sangat easy going dan pandai bersikap seolah tanpa beban.
Saat aku menceritakan percakapan kami pada salah seorang teman melayuku itu, dia langsung tertawa dan punya pemikiran lain.
Kalau menurut dia dengan sudut pandang orang melayu, dia berkata kira-kira seperti ini,
"Kami tu pandai berbual, Din. Makanya orang-orang bisa langsung pada nyambung sama kami."
Aku merespon, "Ah, iya ya?"
Karena memang benar adanya, setelah aku pikir-pikir, hehe.
Yap, hanya itu yang ingin aku ceritakan buat hari ini :D
-d-
Selasa, 12 Mei 2015
Reset
*ambil satu langkah mundur* "Dengarkan baik-baik. Aku tidak sama seperti aku saat masih kecil. Kita dewasa dengan cepat sekarang dan banyak yang telah berubah. Tidak ada lagi yang bisa kamu lakukan untukku."
*ambil satu langkah maju* "Jika hatimu mengambil satu langkah mundur, maka hatiku akan mengambil satu langkah maju. Tidak apa. Kita dewasa dengan cepat sekarang dan banyak yang telah berubah. Jadi apa? Memangnya kenapa?"
Aku pernah bilang padanya, "We have already grown up, ya, Gus?"
"Maksudnya?"
"Ya gapapa. Aku merasa kita sudah dewasa saja."
Memang betul.
Perkenalanku dengannya dimulai dari saat umur kita 12 tahun.
Sekarang? Umur kami sama-sama 22 tahun.
10 tahun berlalu dan memang banyak yang telah berubah.
Apa yang telah kami lalui, apa yang telah menghampiri kami, semua terlewati hingga detik ini.
Mengingatkanku betapa ajaib hidup ini, membuatku bahagia karena dia telah lahir di dunia dan ada di antara milyaran manusia, sampai-sampai aku bisa dengan radarku menemukannya.
*loh kok perahu kertas banget?* hehe.
Daaan, ke mana kisah kami akan berlanjut?
Aku hanya bisa pasrah.
Seperti perahu kertas yang entah mengalir ke mana :D
Yang penting silaturahmi kami harus selalu tetap terjaga :D
-d-
*ambil satu langkah maju* "Jika hatimu mengambil satu langkah mundur, maka hatiku akan mengambil satu langkah maju. Tidak apa. Kita dewasa dengan cepat sekarang dan banyak yang telah berubah. Jadi apa? Memangnya kenapa?"
Aku pernah bilang padanya, "We have already grown up, ya, Gus?"
"Maksudnya?"
"Ya gapapa. Aku merasa kita sudah dewasa saja."
Memang betul.
Perkenalanku dengannya dimulai dari saat umur kita 12 tahun.
Sekarang? Umur kami sama-sama 22 tahun.
10 tahun berlalu dan memang banyak yang telah berubah.
Apa yang telah kami lalui, apa yang telah menghampiri kami, semua terlewati hingga detik ini.
Mengingatkanku betapa ajaib hidup ini, membuatku bahagia karena dia telah lahir di dunia dan ada di antara milyaran manusia, sampai-sampai aku bisa dengan radarku menemukannya.
*loh kok perahu kertas banget?* hehe.
Daaan, ke mana kisah kami akan berlanjut?
Aku hanya bisa pasrah.
Seperti perahu kertas yang entah mengalir ke mana :D
Yang penting silaturahmi kami harus selalu tetap terjaga :D
-d-
Dear, blogger
Dear, blogger.
Hari ini aku akan membawakanmu kisah mengenai hatiku.
Seperti layaknya setiap hati mengharap bahagia, hatiku pun seperti itu, hehe.
Tapi nggak semua cerita tentang hati pasti berurusan dengan cinta, kan?
Kamu tahu, blogger?
Aku suka banget sama suasana sekolah.
Sampai-sampai aku berharap akan kembali ke tempat itu.
Tentu saja aku tidak mungkin mengulang masa-masa saat aku duduk di bangku sekolah dulu.
Aku akan kembali menjadi seorang pendidik di sana, seorang guru.
Guru yang memahami semua yang siswa katakan, bahkan yang tidak terungkap.
Guru yang mengetahui apakah mereka berbohong atau tidak, hal semacam itulah pokoknya, hehe.
Tapi seperti yang sudah aku perlajari dan amati, seorang guru pasti akan terikat dengan sistem.
Baik itu sistem sekolah, sistem pendidikan di Indonesia sendiri, dan sistem lainnya.
Lucunya, ketika kita keluar dari suatu sistem, sistem lainnya akan muncul dan mau tak mau kita akan kembali memasuki sebuah sistem baru lagi, dan terus seperti itu bagai sebuah siklus.
Dalam hidup kita memang tak pernah akan lepas dari aturan sih, hehe.
Kalau tidak ada aturan, nanti kita jadi barbar :D
Oh iya, aku semakin ingin cepat lulus dan berkecimpung di dunia pendidikan karena drama School 2015 yang aku nobatkan sebagai the best drama versi Dina setelah The Moon That Embraces The Sun, Innocent Man, My Lovely Girl, Fated to Love You, dan Healer.
Tenang saja, kalau sudah selesai pasti di review kok seperti yang lainnya.
Sekarang masih on going dramanya :D
Yap, inilah kisah mengenai perjalanan hatiku, blogger :D
-d-
Hari ini aku akan membawakanmu kisah mengenai hatiku.
Seperti layaknya setiap hati mengharap bahagia, hatiku pun seperti itu, hehe.
Tapi nggak semua cerita tentang hati pasti berurusan dengan cinta, kan?
Kamu tahu, blogger?
Aku suka banget sama suasana sekolah.
Sampai-sampai aku berharap akan kembali ke tempat itu.
Tentu saja aku tidak mungkin mengulang masa-masa saat aku duduk di bangku sekolah dulu.
Aku akan kembali menjadi seorang pendidik di sana, seorang guru.
Guru yang memahami semua yang siswa katakan, bahkan yang tidak terungkap.
Guru yang mengetahui apakah mereka berbohong atau tidak, hal semacam itulah pokoknya, hehe.
Tapi seperti yang sudah aku perlajari dan amati, seorang guru pasti akan terikat dengan sistem.
Baik itu sistem sekolah, sistem pendidikan di Indonesia sendiri, dan sistem lainnya.
Lucunya, ketika kita keluar dari suatu sistem, sistem lainnya akan muncul dan mau tak mau kita akan kembali memasuki sebuah sistem baru lagi, dan terus seperti itu bagai sebuah siklus.
Dalam hidup kita memang tak pernah akan lepas dari aturan sih, hehe.
Kalau tidak ada aturan, nanti kita jadi barbar :D
Oh iya, aku semakin ingin cepat lulus dan berkecimpung di dunia pendidikan karena drama School 2015 yang aku nobatkan sebagai the best drama versi Dina setelah The Moon That Embraces The Sun, Innocent Man, My Lovely Girl, Fated to Love You, dan Healer.
Tenang saja, kalau sudah selesai pasti di review kok seperti yang lainnya.
Sekarang masih on going dramanya :D
Yap, inilah kisah mengenai perjalanan hatiku, blogger :D
-d-
Senin, 20 April 2015
Top Five Dramas
Aku adalah seorang pecinta drama korea.
Sejak aku duduk di bangku kelas dua SMA, dan yang pertama kali aku tonton adalah drama Boys Before Flower, drama yang aku yakin sukses membuat semua orang berkhayal menjadi Geum Jan Di yang sangat dicintai oleh Goo Jun Pyo.
Semakin ke sini, semakin banyak drama yang dikemas rapi dan keren mulai dari alur cerita, karakter, setting, dan sebagainya.
Ternyata, Boys Before Flower bukan menjadi drama ter-OK dalam list-ku.
Sudah banyak drama yang aku tonton, dan sampai saat ini aku hanya memiliki top five.
Pertama, The Moon that Embraces The Sun.
Kedua, Innocent Man.
Ketiga, My Lovely Girl.
Keempat, Fated to Love You.
Kelima, Healer.
Lima drama itu yang menurutku benar-benar sukses membawakan cerita yang dituju.
Sebenarnya, drama yang lain juga banyak yang bagus.
Ibarat sayur asem, lima drama ini luar biasa menyegarkan.
Ibarat kopi, lima drama ini tidak terbuat dari sembarang biji kopi.
Mengerti kan perbedaannya?
Sayur asem dan kopi kan sama-sama enak, tapi akan lebih menggugah selera kalau lebih segar dan bahan untuk membuat kopinya tidak sembarangan.
Itulah analogi yang aku buat dalam mewakili kelebihan dari lima drama ini.
Untuk genre sendiri, masing-masing punya genre yang berbeda walau terselip kisah cintanya, hehe.
Mungkin untuk lebih jelasnya, nanti aku akan review lima drama itu di blog ini.
Check it out ^^
-d-
Sejak aku duduk di bangku kelas dua SMA, dan yang pertama kali aku tonton adalah drama Boys Before Flower, drama yang aku yakin sukses membuat semua orang berkhayal menjadi Geum Jan Di yang sangat dicintai oleh Goo Jun Pyo.
Semakin ke sini, semakin banyak drama yang dikemas rapi dan keren mulai dari alur cerita, karakter, setting, dan sebagainya.
Ternyata, Boys Before Flower bukan menjadi drama ter-OK dalam list-ku.
Sudah banyak drama yang aku tonton, dan sampai saat ini aku hanya memiliki top five.
Pertama, The Moon that Embraces The Sun.
Kedua, Innocent Man.
Ketiga, My Lovely Girl.
Keempat, Fated to Love You.
Kelima, Healer.
Lima drama itu yang menurutku benar-benar sukses membawakan cerita yang dituju.
Sebenarnya, drama yang lain juga banyak yang bagus.
Ibarat sayur asem, lima drama ini luar biasa menyegarkan.
Ibarat kopi, lima drama ini tidak terbuat dari sembarang biji kopi.
Mengerti kan perbedaannya?
Sayur asem dan kopi kan sama-sama enak, tapi akan lebih menggugah selera kalau lebih segar dan bahan untuk membuat kopinya tidak sembarangan.
Itulah analogi yang aku buat dalam mewakili kelebihan dari lima drama ini.
Untuk genre sendiri, masing-masing punya genre yang berbeda walau terselip kisah cintanya, hehe.
Mungkin untuk lebih jelasnya, nanti aku akan review lima drama itu di blog ini.
Check it out ^^
-d-
Senin, 13 April 2015
Ibu
Kalau kebanyakan orang-orang punya satu Ibu, aku punya banyak, hehe.
Pertama, aku punya ibu kandungku, ibu biologisku, namanya Nuryanah.
Cintanya padaku? Jangan dipertanyakan.
Bahkan aku rasa dia rela memberikan jiwa raga, bahkan nayawanya, untukku.
Cintaku padanya? Jangan diperbandingkan.
Aku tahu, walau aku persembahkan bumi dan seisinya hanya untuknya, itu tidak akan cukup membalas segala perjuangan, segala kasih sayang dan cinta, juga segala kekuatannya untuk melindungiku.
Tapi aku tidak akan pernah berhenti untuk membuatnya, at least, bangga memiliki aku.
Mama tidak ada duanya di dunia ini bagiku.
Kedua, aku punya tante, kakak dari Ibu, namanya Yumiati.
Sampai saat ini, beliau belum dikaruniai seorang anak oleh Allah SWT.
Aku tahu betapa hancur hatinya akan hal ini.
Tapi dia bertahan sekuat tenaga, tidak terpuruk dalam kesedihannya.
Karena dia tahu, dia memiliki aku dan dua anak dari suaminya.
Aku senang saat di disertasinya terpampang namaku di dalam ucapan terima kasihnya hehe.
Aku ingat saat aku kelas satu SMA, beliau sedang bercengkrama dengan temannya di telepon, ditanya sudah punya berapa anak, dia menjawab tiga.
Anak pertamanya dia bilang sudah lulus kuliah, anak kedua dia bilang kelas tiga SMA, dan anak terakhir dia bilang kelas satu SMA, yaitu diriku hehe.
Sampai sekarang jawaban itulah yang dilontarkan jika pertanyaan itu terulang kembali.
Ketiga, adik dari Ibuku, Nurlalela.
Nah kalau Tante yang satu ini partner in crime, hehe.
Karena kalau sama dia enak makan apa aja, pergi ke mana aja, hehe.
Jangan sampai deh buat dia marah, ngeri soalnya wkwk.
Itu Ibu-ibu yang tinggal satu rumah denganku. Masih ada Mama Eti, Mama Iyus, Mama Ees, Mama Pepeng, Mama Jenong, dan Tante Mona.
Senang rasanya dikaruniai keluarga besar seperti ini :)
Alhamdulillah
-d-
Pertama, aku punya ibu kandungku, ibu biologisku, namanya Nuryanah.
Cintanya padaku? Jangan dipertanyakan.
Bahkan aku rasa dia rela memberikan jiwa raga, bahkan nayawanya, untukku.
Cintaku padanya? Jangan diperbandingkan.
Aku tahu, walau aku persembahkan bumi dan seisinya hanya untuknya, itu tidak akan cukup membalas segala perjuangan, segala kasih sayang dan cinta, juga segala kekuatannya untuk melindungiku.
Tapi aku tidak akan pernah berhenti untuk membuatnya, at least, bangga memiliki aku.
Mama tidak ada duanya di dunia ini bagiku.
Kedua, aku punya tante, kakak dari Ibu, namanya Yumiati.
Sampai saat ini, beliau belum dikaruniai seorang anak oleh Allah SWT.
Aku tahu betapa hancur hatinya akan hal ini.
Tapi dia bertahan sekuat tenaga, tidak terpuruk dalam kesedihannya.
Karena dia tahu, dia memiliki aku dan dua anak dari suaminya.
Aku senang saat di disertasinya terpampang namaku di dalam ucapan terima kasihnya hehe.
Aku ingat saat aku kelas satu SMA, beliau sedang bercengkrama dengan temannya di telepon, ditanya sudah punya berapa anak, dia menjawab tiga.
Anak pertamanya dia bilang sudah lulus kuliah, anak kedua dia bilang kelas tiga SMA, dan anak terakhir dia bilang kelas satu SMA, yaitu diriku hehe.
Sampai sekarang jawaban itulah yang dilontarkan jika pertanyaan itu terulang kembali.
Ketiga, adik dari Ibuku, Nurlalela.
Nah kalau Tante yang satu ini partner in crime, hehe.
Karena kalau sama dia enak makan apa aja, pergi ke mana aja, hehe.
Jangan sampai deh buat dia marah, ngeri soalnya wkwk.
Itu Ibu-ibu yang tinggal satu rumah denganku. Masih ada Mama Eti, Mama Iyus, Mama Ees, Mama Pepeng, Mama Jenong, dan Tante Mona.
Senang rasanya dikaruniai keluarga besar seperti ini :)
Alhamdulillah
-d-
Senin, 06 April 2015
Nggak Ekspresif
Ceritanya, aku dan beberapa teman lagi di perpustakaan.
Tempat teroke sepanjang sejarah kami di tingkat akhir ini, hehehe.
Seketika, ada seorang teman lagi datang menghampiri kami.
Dia terkenal dengan segala keriwehannya.
Dia bilang dia kangen ke kami semua.
Dan aku hanya tersenyum menanggapi.
"Dina, kok begitu banget responnya? Kamu nggak kangen sama aku?"
"Ya kangen." jawabku singkat dan datar.
Aku pun merangsek maju untuk memberinya sebuah pelukan.
Well, bagaimana ya?
Jujur aku sama sekali tidak bohong padanya.
Aku benar-benar kangen padanya, dengan teman-teman sekelas.
Tapi aku bukan orang yang ekspresif, yang secara gamblang mengungkapkan apa yang aku rasa.
Aku cenderung diam, biar aku yang merasakan indahnya merindu dan dirindukan.
Bukannya tidak ingin berbagi, tetapi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk dapat mencerminkan perasaanku.
Mungkin karena aku behave kali ya?
Atau ada yang salah denganku? Hehe.
-d-
Tempat teroke sepanjang sejarah kami di tingkat akhir ini, hehehe.
Seketika, ada seorang teman lagi datang menghampiri kami.
Dia terkenal dengan segala keriwehannya.
Dia bilang dia kangen ke kami semua.
Dan aku hanya tersenyum menanggapi.
"Dina, kok begitu banget responnya? Kamu nggak kangen sama aku?"
"Ya kangen." jawabku singkat dan datar.
Aku pun merangsek maju untuk memberinya sebuah pelukan.
Well, bagaimana ya?
Jujur aku sama sekali tidak bohong padanya.
Aku benar-benar kangen padanya, dengan teman-teman sekelas.
Tapi aku bukan orang yang ekspresif, yang secara gamblang mengungkapkan apa yang aku rasa.
Aku cenderung diam, biar aku yang merasakan indahnya merindu dan dirindukan.
Bukannya tidak ingin berbagi, tetapi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk dapat mencerminkan perasaanku.
Mungkin karena aku behave kali ya?
Atau ada yang salah denganku? Hehe.
-d-
STEREO
Aku selalu ingin blogku menarik.
Sehingga sejak aku membuat web ini, aku selalu berusaha memosting cerita-cerita yang membuat banyak orang terpaku pada layar dengan LCD-nya adalah webku ini, sedang membaca tulisan-tulisan yang aku posting.
Tapi saat aku tinjau ulang, banyak sekali yang berlabel ‘hati', haha.
Biarinlah, namanya juga jiwa melankolis paling bahagia.
Kali ini, aku ingin memosting tentang STEREO.
Drama musikal di salah satu stasiun televisi yang menurutku dikemas sangat keren, jadi dari awal aku langsung tertarik dan selalu menunggu-nunggu program ini setiap minggunya.
Saat aku mengikuti acara talkshow yang bintang tamunya adalah para pemain STEREO, rata-rata mereka bilang bahwa mereka sudah seperti keluarga karena hampir setiap hari ketemu.
Well, pernyataan itu membuatku flash back ke jaman SMA dulu.
Bisa dibilang aku tahu banget apa yang para pemain STEREO itu rasakan.
Bagaimana rasanya hampir setiap hari bertemu dengan orang yang sama di ranah yang sama.
Ranah pengganti keluarga selama 8,5 jam per hari bahkan terkadang bisa lebih dari jam tersebut karena kami harus latihan rutin, evaluasi dari senior, belajar bersama, atau hanya sekadar bercengkrama yang membuat kami semakin kompak dan hubungan persaudaraan kami semakin intens.
Membuatku rindu dan tak jarang aku merasa ingin kembali ke masa-masa itu.
Yah, mungkin yang sering membaca blog ini tahu siapa mereka hehe.
Lalu aku kembali menemukan pengganti mereka, cahaya matahariku selain Ibu dan keluarga Arfatku, versi Bandung.
Hampir setiap hari bertemu di perkuliahan, berbagi suka dan duka, tawa dan tangis, kegalauan karena dosen, cinta, dan keluarga.
Mereka juga pernah aku bahas di blog ini, hehe.
Intinya, dengan adanya kehadiran mereka aku sadar.
Everybody loves you, Din! :D
Dan buat STEREO, semoga nanti nggak cuma hari Minggu aja ya tayangnya, kelamaan nunggunya, hehehe.
-d-
Sehingga sejak aku membuat web ini, aku selalu berusaha memosting cerita-cerita yang membuat banyak orang terpaku pada layar dengan LCD-nya adalah webku ini, sedang membaca tulisan-tulisan yang aku posting.
Tapi saat aku tinjau ulang, banyak sekali yang berlabel ‘hati', haha.
Biarinlah, namanya juga jiwa melankolis paling bahagia.
Kali ini, aku ingin memosting tentang STEREO.
Drama musikal di salah satu stasiun televisi yang menurutku dikemas sangat keren, jadi dari awal aku langsung tertarik dan selalu menunggu-nunggu program ini setiap minggunya.
Saat aku mengikuti acara talkshow yang bintang tamunya adalah para pemain STEREO, rata-rata mereka bilang bahwa mereka sudah seperti keluarga karena hampir setiap hari ketemu.
Well, pernyataan itu membuatku flash back ke jaman SMA dulu.
Bisa dibilang aku tahu banget apa yang para pemain STEREO itu rasakan.
Bagaimana rasanya hampir setiap hari bertemu dengan orang yang sama di ranah yang sama.
Ranah pengganti keluarga selama 8,5 jam per hari bahkan terkadang bisa lebih dari jam tersebut karena kami harus latihan rutin, evaluasi dari senior, belajar bersama, atau hanya sekadar bercengkrama yang membuat kami semakin kompak dan hubungan persaudaraan kami semakin intens.
Membuatku rindu dan tak jarang aku merasa ingin kembali ke masa-masa itu.
Yah, mungkin yang sering membaca blog ini tahu siapa mereka hehe.
Lalu aku kembali menemukan pengganti mereka, cahaya matahariku selain Ibu dan keluarga Arfatku, versi Bandung.
Hampir setiap hari bertemu di perkuliahan, berbagi suka dan duka, tawa dan tangis, kegalauan karena dosen, cinta, dan keluarga.
Mereka juga pernah aku bahas di blog ini, hehe.
Intinya, dengan adanya kehadiran mereka aku sadar.
Everybody loves you, Din! :D
Dan buat STEREO, semoga nanti nggak cuma hari Minggu aja ya tayangnya, kelamaan nunggunya, hehehe.
-d-
Selasa, 13 Januari 2015
Insecurity
"Besok kegiatan kamu ngapain?"
"Rencananya mau ketemu sama Bu Aan. Aku beneran ilang arah dalam penulisan skripsiku. Aku gatau apa aku harus lari ke hutan lalu belok ke pantai atau memecahkan gelas biar ramai. In short, gue mau bimbingan, hehe."
"Ya ampun, pakai hilang arah segala."
Well, skripsi ini benar-benar sakral bagiku.
Awalnya, aku berniat menuntaskan kuliahku dalam 3,5 tahun dan rencana wisuda di bulan April 2015 sehingga aku menuntaskan semua mata kuliahku di semester 6.
Tapi manusia hanya dapat berencana bukan?
Hingga pada bulan Oktober aku jatuh sakit, delapan hari dirawat di rumah sakit dan seminggu disuruh bed rest oleh sang dokter.
Ditambah harus kontrol rutin setiap minggu jadi aku harus menyempatkan diri untuk melakukan medical treatment-ku.
Jadi kalau aku memaksakan diriku untuk tetap wisuda di bulan April, tandanya aku tidak adil pada diriku sendiri, aku memaksakan diri, terdengar egois pada diri sendiri padahal aku tahu bagaimana kebutuhan jasmani dan rohaniku.
Dalam hal ini, bukan hanya aku yang menargetkan lulus kuliah dalam 3,5 tahun.
Salah satu sahabat cantikku sejak SMA pun juga menargetkan hal sama.
Kami kuliah di jurusan yang sama tetapi beda universitas, aku kuliah di universitas pendidikan di Bandung, sedangkan dia di Jakarta.
Untungnya, target dia tercapai.
Sungguh aku sangat bangga dengan segala perjuangannya hingga bisa sidang di tanggal 14 Januari 2015, ya, besok hari.
Tapi di sisi lain, timbul keresahan dalam diriku karena aku baru akan membuat instrumen dan bahan ajar untuk penelitianku.
Kalau pun memang tidak ada halangan dan sesuai dengan perhitungan jadwal, aku baru dapat menyelesaikan laporanku bulan Maret, Insya Allah.
Sungguh aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa selain mendukung dan berdoa untuk kesuksesan dan kelancaran sahabatku itu walau timbul berbagai pressure dalam diriku ini.
Yah, memang seharusnya aku menjadikan pressure itu sebagai motivasiku untuk cepat menyelesaikan tugas akhir ini, tak peduli seberapa banyak kualitas atau kuantitas medical treatment yang harus aku jalani dalam jangka waktu minimal 6 bulan.
Dan harusnya hal itu bukanlah alasan untuk membuatku merasa insecure dan tertekan seperti ini, hehe.
As long as I do my best, there is nothing to worry about :)
Last but not least, CONGRADUATION DELLA AFRILIONITA :*
Menyesakkan rasanya tidak dapat hadir ke sidangnya, hhiks :'(
-d-
"Rencananya mau ketemu sama Bu Aan. Aku beneran ilang arah dalam penulisan skripsiku. Aku gatau apa aku harus lari ke hutan lalu belok ke pantai atau memecahkan gelas biar ramai. In short, gue mau bimbingan, hehe."
"Ya ampun, pakai hilang arah segala."
Well, skripsi ini benar-benar sakral bagiku.
Awalnya, aku berniat menuntaskan kuliahku dalam 3,5 tahun dan rencana wisuda di bulan April 2015 sehingga aku menuntaskan semua mata kuliahku di semester 6.
Tapi manusia hanya dapat berencana bukan?
Hingga pada bulan Oktober aku jatuh sakit, delapan hari dirawat di rumah sakit dan seminggu disuruh bed rest oleh sang dokter.
Ditambah harus kontrol rutin setiap minggu jadi aku harus menyempatkan diri untuk melakukan medical treatment-ku.
Jadi kalau aku memaksakan diriku untuk tetap wisuda di bulan April, tandanya aku tidak adil pada diriku sendiri, aku memaksakan diri, terdengar egois pada diri sendiri padahal aku tahu bagaimana kebutuhan jasmani dan rohaniku.
Dalam hal ini, bukan hanya aku yang menargetkan lulus kuliah dalam 3,5 tahun.
Salah satu sahabat cantikku sejak SMA pun juga menargetkan hal sama.
Kami kuliah di jurusan yang sama tetapi beda universitas, aku kuliah di universitas pendidikan di Bandung, sedangkan dia di Jakarta.
Untungnya, target dia tercapai.
Sungguh aku sangat bangga dengan segala perjuangannya hingga bisa sidang di tanggal 14 Januari 2015, ya, besok hari.
Tapi di sisi lain, timbul keresahan dalam diriku karena aku baru akan membuat instrumen dan bahan ajar untuk penelitianku.
Kalau pun memang tidak ada halangan dan sesuai dengan perhitungan jadwal, aku baru dapat menyelesaikan laporanku bulan Maret, Insya Allah.
Sungguh aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa selain mendukung dan berdoa untuk kesuksesan dan kelancaran sahabatku itu walau timbul berbagai pressure dalam diriku ini.
Yah, memang seharusnya aku menjadikan pressure itu sebagai motivasiku untuk cepat menyelesaikan tugas akhir ini, tak peduli seberapa banyak kualitas atau kuantitas medical treatment yang harus aku jalani dalam jangka waktu minimal 6 bulan.
Dan harusnya hal itu bukanlah alasan untuk membuatku merasa insecure dan tertekan seperti ini, hehe.
As long as I do my best, there is nothing to worry about :)
Last but not least, CONGRADUATION DELLA AFRILIONITA :*
Menyesakkan rasanya tidak dapat hadir ke sidangnya, hhiks :'(
-d-
Rabu, 02 Juli 2014
Kuliah Kerja Nyata ... :D
Postingan ini ditulis di tengah-tengah kegiatan KKN.
Kegiatan dan perkuliahan paling hectic karena lokasinya pun beragam, juga dengan orang-orang yang beragam dari berbagai jurusan.
Dapat dipastikan tidak ada yang melebihi satu orang dari perwakilan setiap jurusan dalam satu kelompok KKN.
Aku pun juga menjadi salah satu delegasi dari jurusanku, Pendidikan Matematika.
Di awal, masih terlihat banyak yang menutup diri tanpa mengungkapkan jati diri sebenarnya.
Tapi, kami akan tinggal bersama selama kurang lebih 40 hari, waktu yang menurutku tidak sebentar untuk ukuran perkuliahan dalam bentuk pengabdian.
Tempat KKN aku sendiri berlokasi di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.
Awal dapat di Indramayu, sungguh aku merasa benar-benar terpuruk.
Aku merasa lebih baik mengundurkan diri dari perkuliahan ini.
Tetapi saat diingatkan oleh Ibu, dan saat bertemu dengan teman-teman kelompok, entah mengapa keresahan dan kekhawatiran tersebut hilang bagai debu tertiup angin.
Aku justru jadi menggebu-gebu untuk mengerahkan segala kemampuan terbaikku dalam KKN ini.
Aku ingin menorehkan sejarah bahwa sosok aku, yang selalu mendeklarasikan diri pada siapa pun dan di mana pun kalau aku ini gadis yang cepat pulih dengan kepribadian di atas rata-rata, mampu bertahan dalam situasi dan kondisi apa pun.
Aku ingin melahirkan sosok aku yang baru tanpa harus dibayang-bayangi aku yang sesungguhnya.
Oke, aku rasa sudah cukup cerita tentang diriku sendiri menghadapi KKN di Indramayu ini.
Mari kita berlanjut ke tahap pelaksanaan.
Dalam suatu kelompok, tentu perlu adanya seorang pemimpin.
Sudah menjadi hal yang seharusnya agar kelompok KKN aku tidak bertransformasi menjadi kelompok yang barbar dan liar.
Maka, terpilihlah struktur organisasi dengan nama-nama berikut.
Ketua : Ilham Muzakki, jurusan Pendidikan Kimia.
Sekretaris : Vini Fatmawati, jurusan Pendidikan Luar Sekolah.
Bendahara : Gadis Adhistria, jurusan Pendidikan Seni Tari.
Dengan pertimbangan ingin menghasilkan kepengurusan yang efektif dan efisien, maka Ilham, meminta agar sekretaris dan bendahara masing-masing menjadi dua orang.
Dan saat itulah, Ilham memilih aku untuk menjadi sekretaris kedua dan Himmah Rahmawati dari jurusan Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia sebagai bendahara.
Saat bertemu dengan dosen pembimbing lapangan, tiba-tiba Vini bilang kami harus mencari sekretaris yang lain lagi karena ia dipindahkan ke daerah Sumedang dengan beberapa alasan.
Maka dari itu, secara otomatis aku menjadi sekretaris dan dicarilah sekretaris baru yaitu Yulqi Azka Shiyami dari Pendidikan Teknik Agro Industri.
Oke, itu hanya beberapa hal mengenai struktur kepengurusan yang Alhamdulillah sudah fix.
Berlanjut ke packing barang-barang kelompok yang akan kami bawa ke Indramayu.
Setelah memutuskan kami akan mengumpulkan barang-barangnya di kosan aku dengan pertimbangan lebih dekat dari lokasi pemberangkatan, maka mereka semua datanglah ke kosan aku.
Ada Febi, Kiki, Yulqi, Himmah, dan tentu saja Pak Ketua, Ilham.
Selesai mengepak dan hanya tinggal aku berdua dengan ketuaku itu, dia tiba-tiba bertanya.
“Saya orangnya nyebelin ya?”
Aku sedikit tercenung mendengar pertanyaannya tetapi aku menggeleng mantap. “Enggak. Emang kenapa?”
“Kamu pikir saya nggak tau kalian menganggap saya orang yang menyebalkan. Iya, kan? Mereka menganggapnya gitu, kan?”
“Ah, enggak juga.”
“Kalau di mata kamu, bagaimana?”
“Biasa saja. Aku orangnya nggak mudah terpancing, Ham.”
“Oke, kita buktiin nanti. Saya bersikap nyebelin begini sengaja. Karena saya ingin nguji loyalitas mereka ke kelompok. Nanti selama di sana, lima hari pertama, juga akan saya diamkan. Saya biarkan mereka ingin melakukan apa. Kita lihat bagaimana sifat asli mereka. Kamu pun juga ada gilirannya. Jadi, kalau saya berubah jadi menyebalkan, bagaimana?”
Aku hanya mengangkat bahu. “Ya silahkan saja. Tidak akan berpengaruh apa-apa ke aku. Aku nggak akan mengeluhkan apa pun.”
Dia ketawa. “Yakin?”
Aku mengangguk pasti. “Iya. Dicoba saja. Paling aku cuma bisa nangis nanti.”
Nah, itu hanya sekelebat percakapan selama kemas-kemas.
Sedangkan saat hari kedua pelaksanaan KKN, dia benar-benar mulai berubah.
Dari yang awalnya cerewet dan ceria, langsung bersikap dingin dan tidak menegur kita semua kecuali memang ada hal yang perlu dibicarakan.
Nah, jelas hal tersebut memberikan efek samping padaku.
Aku merasa benar-benar depresi menghadapi sikapnya padaku, aku mencoba mencari pelarian ke mana-mana tetapi hasilnya nihil dan berujung dengan siksaan batin yang aku rasakan.
Semuanya aku tahan, aku pendam berhari-hari dan meluapkannya, seperti yang sudah aku bilang, hanya dengan menangis.
Entah sudah berapa kali aku menyendiri dan menangis kejer sambil menggigit baju untuk membungkam suaraku keluar.
Puncaknya adalah saat main kartu UNO, dan sungguh hal ini merupakan hal paling kekanak-kanakan yang pernah aku lakukan sepanjang hidup.
Ceritanya begini, petanding bersisa dua, aku dan Yulqi.
Ilham yang sudah menang pun memutuskan membantu Yulqi dan ia menyarankan untuk mengeluarkan kartu cermin, yang artinya pemain harus bertukar kartu yang dimiliki dengan lawan.
Sedangkan kartu ditanganku merupakan kartu yang sangat menguntungkan dan tinggal selangkah lagi menuju UNO Games.
Karena kesal itulah, aku langsung mengacak-acak kartu UNO yang ada dan nangis di tempat.
Bukan karena permainan UNOnya, tetapi mungkin karena sudah terlalu banyak hal yang aku pendam.
Seperti, salah satunya, merasa seperti tidak dianggap oleh Ilham sendiri.
Aku seperti butiran debu yang dapat terhempas angin kapan pun dia ingin meniup aku.
Aku jadi merasa benar-benar tersiksa dan ingin teriak sekencangnya.
Tak jarang aku melakukan hal-hal yang menunjukkan kalau aku itu ADA, tetapi olehnya dihempas lagi dan lagi sampai pada akhirnya, aku lelah.
Sungguh, aku merasa depresi, frustasi, lelah lahir dan batin, dan sebagainya sampai-sampai aku merasa terpuruk.
Jadi aku berusaha untuk membiarkan dia semaunya pada diriku.
Tapi aku berpikir, hal tersebut justru hanya akan merugikan diriku sendiri yang selalu merasa canggung dan tidak nyaman berada di sekitarnya sedangkan hari yang tersisa masih banyak untuk KKN ini.
Jadi, aku kembali gencar melakukan aksi apa pun kalau aku itu ADA dan dianggap olehnya.
Jika dia tidak bereaksi dan tidak ada perubahan?
Malam hari saat semuanya sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing, aku menyendiri di teras dan menangis.
Yah, apalagi yang bisa aku lakukan selain menangis?
Bicara padanya untuk menganggap kehadiranku sebagai sekretarisnya?
Menurutku itu sama sekali bukan suatu solusi penyelesaian masalah karena justru kami akan menjadi semakin canggung dan asing satu sama lain.
Jadi? Bagaimana?
Aku harap keadaan ini akan semakin membaik seiring dengan hari-hari yang sudah terlewati.
Aku harap aku bisa melewatkan, satu hari saja, tanpa air mata.
Karena aku sudah bertekad untuk menghidupkan hidupku di KKN ini.
Terlalu rugi rasanya hanya berfokus pada satu orang sedangkan masih ada 8 orang lainnya yang peduli padaku.
Seperti Kiki, Febi, Gadis, Yulqi, Himmah, Reza, Lutfi, dan Deni yang selalu menjadi sandaran hati setiap harinya selama 40 hari ini.
Keep proactive, Dina!
-d-
Kegiatan dan perkuliahan paling hectic karena lokasinya pun beragam, juga dengan orang-orang yang beragam dari berbagai jurusan.
Dapat dipastikan tidak ada yang melebihi satu orang dari perwakilan setiap jurusan dalam satu kelompok KKN.
Aku pun juga menjadi salah satu delegasi dari jurusanku, Pendidikan Matematika.
Di awal, masih terlihat banyak yang menutup diri tanpa mengungkapkan jati diri sebenarnya.
Tapi, kami akan tinggal bersama selama kurang lebih 40 hari, waktu yang menurutku tidak sebentar untuk ukuran perkuliahan dalam bentuk pengabdian.
Tempat KKN aku sendiri berlokasi di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.
Awal dapat di Indramayu, sungguh aku merasa benar-benar terpuruk.
Aku merasa lebih baik mengundurkan diri dari perkuliahan ini.
Tetapi saat diingatkan oleh Ibu, dan saat bertemu dengan teman-teman kelompok, entah mengapa keresahan dan kekhawatiran tersebut hilang bagai debu tertiup angin.
Aku justru jadi menggebu-gebu untuk mengerahkan segala kemampuan terbaikku dalam KKN ini.
Aku ingin menorehkan sejarah bahwa sosok aku, yang selalu mendeklarasikan diri pada siapa pun dan di mana pun kalau aku ini gadis yang cepat pulih dengan kepribadian di atas rata-rata, mampu bertahan dalam situasi dan kondisi apa pun.
Aku ingin melahirkan sosok aku yang baru tanpa harus dibayang-bayangi aku yang sesungguhnya.
Oke, aku rasa sudah cukup cerita tentang diriku sendiri menghadapi KKN di Indramayu ini.
Mari kita berlanjut ke tahap pelaksanaan.
Dalam suatu kelompok, tentu perlu adanya seorang pemimpin.
Sudah menjadi hal yang seharusnya agar kelompok KKN aku tidak bertransformasi menjadi kelompok yang barbar dan liar.
Maka, terpilihlah struktur organisasi dengan nama-nama berikut.
Ketua : Ilham Muzakki, jurusan Pendidikan Kimia.
Sekretaris : Vini Fatmawati, jurusan Pendidikan Luar Sekolah.
Bendahara : Gadis Adhistria, jurusan Pendidikan Seni Tari.
Dengan pertimbangan ingin menghasilkan kepengurusan yang efektif dan efisien, maka Ilham, meminta agar sekretaris dan bendahara masing-masing menjadi dua orang.
Dan saat itulah, Ilham memilih aku untuk menjadi sekretaris kedua dan Himmah Rahmawati dari jurusan Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia sebagai bendahara.
Saat bertemu dengan dosen pembimbing lapangan, tiba-tiba Vini bilang kami harus mencari sekretaris yang lain lagi karena ia dipindahkan ke daerah Sumedang dengan beberapa alasan.
Maka dari itu, secara otomatis aku menjadi sekretaris dan dicarilah sekretaris baru yaitu Yulqi Azka Shiyami dari Pendidikan Teknik Agro Industri.
Oke, itu hanya beberapa hal mengenai struktur kepengurusan yang Alhamdulillah sudah fix.
Berlanjut ke packing barang-barang kelompok yang akan kami bawa ke Indramayu.
Setelah memutuskan kami akan mengumpulkan barang-barangnya di kosan aku dengan pertimbangan lebih dekat dari lokasi pemberangkatan, maka mereka semua datanglah ke kosan aku.
Ada Febi, Kiki, Yulqi, Himmah, dan tentu saja Pak Ketua, Ilham.
Selesai mengepak dan hanya tinggal aku berdua dengan ketuaku itu, dia tiba-tiba bertanya.
“Saya orangnya nyebelin ya?”
Aku sedikit tercenung mendengar pertanyaannya tetapi aku menggeleng mantap. “Enggak. Emang kenapa?”
“Kamu pikir saya nggak tau kalian menganggap saya orang yang menyebalkan. Iya, kan? Mereka menganggapnya gitu, kan?”
“Ah, enggak juga.”
“Kalau di mata kamu, bagaimana?”
“Biasa saja. Aku orangnya nggak mudah terpancing, Ham.”
“Oke, kita buktiin nanti. Saya bersikap nyebelin begini sengaja. Karena saya ingin nguji loyalitas mereka ke kelompok. Nanti selama di sana, lima hari pertama, juga akan saya diamkan. Saya biarkan mereka ingin melakukan apa. Kita lihat bagaimana sifat asli mereka. Kamu pun juga ada gilirannya. Jadi, kalau saya berubah jadi menyebalkan, bagaimana?”
Aku hanya mengangkat bahu. “Ya silahkan saja. Tidak akan berpengaruh apa-apa ke aku. Aku nggak akan mengeluhkan apa pun.”
Dia ketawa. “Yakin?”
Aku mengangguk pasti. “Iya. Dicoba saja. Paling aku cuma bisa nangis nanti.”
Nah, itu hanya sekelebat percakapan selama kemas-kemas.
Sedangkan saat hari kedua pelaksanaan KKN, dia benar-benar mulai berubah.
Dari yang awalnya cerewet dan ceria, langsung bersikap dingin dan tidak menegur kita semua kecuali memang ada hal yang perlu dibicarakan.
Nah, jelas hal tersebut memberikan efek samping padaku.
Aku merasa benar-benar depresi menghadapi sikapnya padaku, aku mencoba mencari pelarian ke mana-mana tetapi hasilnya nihil dan berujung dengan siksaan batin yang aku rasakan.
Semuanya aku tahan, aku pendam berhari-hari dan meluapkannya, seperti yang sudah aku bilang, hanya dengan menangis.
Entah sudah berapa kali aku menyendiri dan menangis kejer sambil menggigit baju untuk membungkam suaraku keluar.
Puncaknya adalah saat main kartu UNO, dan sungguh hal ini merupakan hal paling kekanak-kanakan yang pernah aku lakukan sepanjang hidup.
Ceritanya begini, petanding bersisa dua, aku dan Yulqi.
Ilham yang sudah menang pun memutuskan membantu Yulqi dan ia menyarankan untuk mengeluarkan kartu cermin, yang artinya pemain harus bertukar kartu yang dimiliki dengan lawan.
Sedangkan kartu ditanganku merupakan kartu yang sangat menguntungkan dan tinggal selangkah lagi menuju UNO Games.
Karena kesal itulah, aku langsung mengacak-acak kartu UNO yang ada dan nangis di tempat.
Bukan karena permainan UNOnya, tetapi mungkin karena sudah terlalu banyak hal yang aku pendam.
Seperti, salah satunya, merasa seperti tidak dianggap oleh Ilham sendiri.
Aku seperti butiran debu yang dapat terhempas angin kapan pun dia ingin meniup aku.
Aku jadi merasa benar-benar tersiksa dan ingin teriak sekencangnya.
Tak jarang aku melakukan hal-hal yang menunjukkan kalau aku itu ADA, tetapi olehnya dihempas lagi dan lagi sampai pada akhirnya, aku lelah.
Sungguh, aku merasa depresi, frustasi, lelah lahir dan batin, dan sebagainya sampai-sampai aku merasa terpuruk.
Jadi aku berusaha untuk membiarkan dia semaunya pada diriku.
Tapi aku berpikir, hal tersebut justru hanya akan merugikan diriku sendiri yang selalu merasa canggung dan tidak nyaman berada di sekitarnya sedangkan hari yang tersisa masih banyak untuk KKN ini.
Jadi, aku kembali gencar melakukan aksi apa pun kalau aku itu ADA dan dianggap olehnya.
Jika dia tidak bereaksi dan tidak ada perubahan?
Malam hari saat semuanya sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing, aku menyendiri di teras dan menangis.
Yah, apalagi yang bisa aku lakukan selain menangis?
Bicara padanya untuk menganggap kehadiranku sebagai sekretarisnya?
Menurutku itu sama sekali bukan suatu solusi penyelesaian masalah karena justru kami akan menjadi semakin canggung dan asing satu sama lain.
Jadi? Bagaimana?
Aku harap keadaan ini akan semakin membaik seiring dengan hari-hari yang sudah terlewati.
Aku harap aku bisa melewatkan, satu hari saja, tanpa air mata.
Karena aku sudah bertekad untuk menghidupkan hidupku di KKN ini.
Terlalu rugi rasanya hanya berfokus pada satu orang sedangkan masih ada 8 orang lainnya yang peduli padaku.
Seperti Kiki, Febi, Gadis, Yulqi, Himmah, Reza, Lutfi, dan Deni yang selalu menjadi sandaran hati setiap harinya selama 40 hari ini.
Keep proactive, Dina!
-d-
Minggu, 22 Juni 2014
Mimpi :)
“Apa yang orang bilang realistis, belum tentu sama dengan apa yang kita pikirin. Ujung-ujungnya kita tahu, mana diri kita sebenarnya, mana yang bukan diri kita. Kita juga tahu, apa yang pengin kita jalanin.”
Kata-kata yang paling membuat aku bereaksi dan benar-benar tercenung saat mendengarnya.
Ya, kata-kata Keenan pada Kugy di Perahu Kertas, sosok yang awalnya mencoba untuk bersikap realistis karena tidak percaya bahkan sama mimpinya sendiri, sampai akhirnya memperjuangkan mimpi itu mati-matian karena perkataan Keenan tadi.
Sedangkan aku? Apa sebenarnya impian terbesarku?
Kalau aku boleh jujur, aku ingin menjadi seorang penulis ternama dengan buku-buku aku berada di deretan best seller :)
Aku juga ingin menjadi seorang pendidik, ranah untukku dapat saling berbagi ilmu di bidang apa pun.
Sekali waktu aku pernah juga ingin menjadi seorang penyiar radio.
Dengan alasan yang sangat simpel, bahwa aku sangat ingin mendengar cerita dari banyak pendengar misterius, dan aku akan menjadikan cerita-cerita itu sebagai inspirasiku dalam menulis.
Ya intinya, sejauh apa pun aku berkelana, hal tersebut justru akan membawa aku kembali ke titik permulaan, yaitu menulis.
Tentu mood-ku dalam menulis sangat random, naik dan turun.
Karena jujur aku harus benar-benar menyamankan diriku sendiri untuk menjemput datangnya inspirasi.
Sekali waktu terkadang inspirasi tersebut yang dengan baik hati menghampiriku, memenuhi otak dan pikiranku hingga ingin meledak, dan saat itulah giliranku yang jadi kelabakan karena aku juga masih sulit untuk menguraikannya dalam bentuk permainan diksi.
Inspirasi tanpa diksi, apa jadinya? Bagai sayur tanpa garam.
Diksi tanpa inspirasi, apa gunanya? Bagai seonggok jiwa tak bernyawa.
Lantas, apa aku pernah berada dalam kondisi terpuruk-terpuruknya dalam menulis?
Jelas pernah, saat pertama kali aku mengirim naskah novelku dan langsung ditolak dengan banyak revisi.
Aku benar-benar shock, down, dan bahkan phobia dengan Ms. Words.
Efeknya benar-benar mengerikan, bukan?
Tapi aku kembali bangkit, karena seseorang, layaknya sosok Keenan dalam dunia dan mimpi Kugy.
Dia memang tidak menghiburku dengan kata-kata yang menenangkan, bisa dibilang dia tidak pandai untuk itu.
Tetapi dia membangkitkanku dengan terus menerus menanyakan perkembangan novelku, seolah ia akan membacanya setiap hari bagai asupan gizi untuk dirinya.
Ya, satu-satunya orang yang ada bahkan di saat terpurukku itu.
Membuatku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah berhenti untuk menulis.
Sejak itulah, sejak vakum cukup lama dari dunia tulis menulis, aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan jari-jariku mulai menari bebas di atas keyboard itu.
Aku juga mulai mencari info mengenai ajang lomba menulis, aku berpartisipasi mewakili kelasku dalam kompetisi bertema sastra, aku memberanikan dan menawarkan diriku menulis naskah drama tugas akhir Bahasa Indonesia, aku mulai blogwalking dan saling sharing dengan banyak orang, juga banyak hal lainnya.
Aku begitu menggebu-gebu dan begitu hidup hanya karena orang tersebut.
Orang tersebut membuatku percaya, segalanya mungkin, segalanya ada, segalanya terasa benar, jika terkait tentang dia.
Dia membuatku percaya, sama seperti Kugy yang percaya pada Keenan, bahwa bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.
Sampai kapan pun, aku berhutang budi padanya.
Ya, it’s him.
Tubagus Fadillah Setyabudi Leksana :')
-d-
Kata-kata yang paling membuat aku bereaksi dan benar-benar tercenung saat mendengarnya.
Ya, kata-kata Keenan pada Kugy di Perahu Kertas, sosok yang awalnya mencoba untuk bersikap realistis karena tidak percaya bahkan sama mimpinya sendiri, sampai akhirnya memperjuangkan mimpi itu mati-matian karena perkataan Keenan tadi.
Sedangkan aku? Apa sebenarnya impian terbesarku?
Kalau aku boleh jujur, aku ingin menjadi seorang penulis ternama dengan buku-buku aku berada di deretan best seller :)
Aku juga ingin menjadi seorang pendidik, ranah untukku dapat saling berbagi ilmu di bidang apa pun.
Sekali waktu aku pernah juga ingin menjadi seorang penyiar radio.
Dengan alasan yang sangat simpel, bahwa aku sangat ingin mendengar cerita dari banyak pendengar misterius, dan aku akan menjadikan cerita-cerita itu sebagai inspirasiku dalam menulis.
Ya intinya, sejauh apa pun aku berkelana, hal tersebut justru akan membawa aku kembali ke titik permulaan, yaitu menulis.
Tentu mood-ku dalam menulis sangat random, naik dan turun.
Karena jujur aku harus benar-benar menyamankan diriku sendiri untuk menjemput datangnya inspirasi.
Sekali waktu terkadang inspirasi tersebut yang dengan baik hati menghampiriku, memenuhi otak dan pikiranku hingga ingin meledak, dan saat itulah giliranku yang jadi kelabakan karena aku juga masih sulit untuk menguraikannya dalam bentuk permainan diksi.
Inspirasi tanpa diksi, apa jadinya? Bagai sayur tanpa garam.
Diksi tanpa inspirasi, apa gunanya? Bagai seonggok jiwa tak bernyawa.
Lantas, apa aku pernah berada dalam kondisi terpuruk-terpuruknya dalam menulis?
Jelas pernah, saat pertama kali aku mengirim naskah novelku dan langsung ditolak dengan banyak revisi.
Aku benar-benar shock, down, dan bahkan phobia dengan Ms. Words.
Efeknya benar-benar mengerikan, bukan?
Tapi aku kembali bangkit, karena seseorang, layaknya sosok Keenan dalam dunia dan mimpi Kugy.
Dia memang tidak menghiburku dengan kata-kata yang menenangkan, bisa dibilang dia tidak pandai untuk itu.
Tetapi dia membangkitkanku dengan terus menerus menanyakan perkembangan novelku, seolah ia akan membacanya setiap hari bagai asupan gizi untuk dirinya.
Ya, satu-satunya orang yang ada bahkan di saat terpurukku itu.
Membuatku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah berhenti untuk menulis.
Sejak itulah, sejak vakum cukup lama dari dunia tulis menulis, aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan jari-jariku mulai menari bebas di atas keyboard itu.
Aku juga mulai mencari info mengenai ajang lomba menulis, aku berpartisipasi mewakili kelasku dalam kompetisi bertema sastra, aku memberanikan dan menawarkan diriku menulis naskah drama tugas akhir Bahasa Indonesia, aku mulai blogwalking dan saling sharing dengan banyak orang, juga banyak hal lainnya.
Aku begitu menggebu-gebu dan begitu hidup hanya karena orang tersebut.
Orang tersebut membuatku percaya, segalanya mungkin, segalanya ada, segalanya terasa benar, jika terkait tentang dia.
Dia membuatku percaya, sama seperti Kugy yang percaya pada Keenan, bahwa bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.
Sampai kapan pun, aku berhutang budi padanya.
Ya, it’s him.
Tubagus Fadillah Setyabudi Leksana :')
-d-
Jumat, 20 Juni 2014
Arti Sebuah Nilai
Semester ini, mata kulih Fungsi Variabel Kompleks dan Seminar Pendidikan Matematika sangat mendominasi sehingga aku memutuskan mereka adalah bintang atau pemeran utama semester enam perkuliahan.
Sistem Geometri dan Pengantar Topologi merupakan mata kuliah yang aku paksa ambil di semester ini, karena targetku yang ingin prematur dari perkuliahan.
Tapi di sini aku perlu mengingatkan bahwa aku paksa ambil bukan berarti karena aku terpaksa ya hehe.
Jadi aku benar-benar, istilahnya, bertaruh di dua mata kuliah tersebut dan dapat dipastikan aku ikhlas lahir batin apa pun hasilnya nanti asalkan aku masih tergolong kriteria mahasiswa yang lulus mata kuliah tersebut.
Mata kuliah lain pun, seperti Kuliah Kerja Nyata, Perencanaan Pembelajaran Matematika dan Seminar Pedidikan Agama Islam, sama-sama memiliki peran dan bobot yang penting dalam menentukan nilai akhir semesterku ini.
Tapi anehnya, aku merasa ada yang salah dengan diriku.
Tidak biasanya aku sesantai ini dalam menunggu, menanti, kehadiran sang nilai untuk setiap mata kuliah di semester ini.
Kebetulan ada mata kuliah yang sudah keluar nilainya, yaitu Sistem Geometri dan Seminar Pendidikan Matematika.
Syukur alhamdulillah, kedua mata kuliah tersebut jauh di atas ekspektasi harapanku.
Semester-semester sebelumnya, mood-ku akan rusak dan hancur jika nilai yang keluar tidak sesuai dengan harapanku, A.
Bahkan saat dapat B pun, aku pernah menangis seharian dan tidak dapat berhenti memikirkannya.
Saat ini, aku justru menertawai sikap kekanakanku itu yang bisa dibilang, istilahnya, tidak pandai bersyukur, hehe.
Tapi entah kenapa sekarang aku sedang dalam kondisi lapang selapang lapangnya untuk menanti nilai-nilai berikutnya, apa pun hasilnya.
Entah tekanan apa yang aku dapatkan dulu sampai-sampai aku seperti tercekik jika nilai yang keluar tidak sesuai harapanku.
Ya, aku tidak mungkir bahwa aku masih mementingkan nilai yang aku dapatkan, walau aku tahu ilmu yang aku dapatkan jauh tak ternilai dan tak terhingga harganya jika aku mampu, tepat, dan benar dalam menyampaikannya.
Aku berprinsip, ilmu dan nilai sama-sama berharga di perkuliahan, jadi aku tidak boleh menyia-nyiakannya.
Maka dari itu, aku selalu tidak santai setiap kali memasuki fase menunggu nilai.
Berbeda dengan saat ini, rasanya hatiku pun selapang jalan tol Cipularang hehe.
Entahlah, mungkin memang seharusnya semakin ke sini aku harus semakin pandai untuk bersyukur.
Bahwa aku masih memiliki kesempatan untuk berbagi ilmu dengan siapa saja, baik itu untuk urusan akhirat atau pun dunia.
Bahwa semester ini dapat terlewati tanpa halangan suatu apa pun.
Atas segala nikmat-Mu Ya Allah Ya Robb, atas segala nikmat Islam dan Iman dari Engkau, hamba benar-benar berterima kasih untuk hidup ini :’)
Aku bahagia :D
-d-
Sistem Geometri dan Pengantar Topologi merupakan mata kuliah yang aku paksa ambil di semester ini, karena targetku yang ingin prematur dari perkuliahan.
Tapi di sini aku perlu mengingatkan bahwa aku paksa ambil bukan berarti karena aku terpaksa ya hehe.
Jadi aku benar-benar, istilahnya, bertaruh di dua mata kuliah tersebut dan dapat dipastikan aku ikhlas lahir batin apa pun hasilnya nanti asalkan aku masih tergolong kriteria mahasiswa yang lulus mata kuliah tersebut.
Mata kuliah lain pun, seperti Kuliah Kerja Nyata, Perencanaan Pembelajaran Matematika dan Seminar Pedidikan Agama Islam, sama-sama memiliki peran dan bobot yang penting dalam menentukan nilai akhir semesterku ini.
Tapi anehnya, aku merasa ada yang salah dengan diriku.
Tidak biasanya aku sesantai ini dalam menunggu, menanti, kehadiran sang nilai untuk setiap mata kuliah di semester ini.
Kebetulan ada mata kuliah yang sudah keluar nilainya, yaitu Sistem Geometri dan Seminar Pendidikan Matematika.
Syukur alhamdulillah, kedua mata kuliah tersebut jauh di atas ekspektasi harapanku.
Semester-semester sebelumnya, mood-ku akan rusak dan hancur jika nilai yang keluar tidak sesuai dengan harapanku, A.
Bahkan saat dapat B pun, aku pernah menangis seharian dan tidak dapat berhenti memikirkannya.
Saat ini, aku justru menertawai sikap kekanakanku itu yang bisa dibilang, istilahnya, tidak pandai bersyukur, hehe.
Tapi entah kenapa sekarang aku sedang dalam kondisi lapang selapang lapangnya untuk menanti nilai-nilai berikutnya, apa pun hasilnya.
Entah tekanan apa yang aku dapatkan dulu sampai-sampai aku seperti tercekik jika nilai yang keluar tidak sesuai harapanku.
Ya, aku tidak mungkir bahwa aku masih mementingkan nilai yang aku dapatkan, walau aku tahu ilmu yang aku dapatkan jauh tak ternilai dan tak terhingga harganya jika aku mampu, tepat, dan benar dalam menyampaikannya.
Aku berprinsip, ilmu dan nilai sama-sama berharga di perkuliahan, jadi aku tidak boleh menyia-nyiakannya.
Maka dari itu, aku selalu tidak santai setiap kali memasuki fase menunggu nilai.
Berbeda dengan saat ini, rasanya hatiku pun selapang jalan tol Cipularang hehe.
Entahlah, mungkin memang seharusnya semakin ke sini aku harus semakin pandai untuk bersyukur.
Bahwa aku masih memiliki kesempatan untuk berbagi ilmu dengan siapa saja, baik itu untuk urusan akhirat atau pun dunia.
Bahwa semester ini dapat terlewati tanpa halangan suatu apa pun.
Atas segala nikmat-Mu Ya Allah Ya Robb, atas segala nikmat Islam dan Iman dari Engkau, hamba benar-benar berterima kasih untuk hidup ini :’)
Aku bahagia :D
-d-
Langganan:
Postingan (Atom)




