Bismillahirrohmanirrohiim

Bismillahirrohmaanirrohiim
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Tampilkan postingan dengan label Islamku INDAH (:. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamku INDAH (:. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Januari 2015

Hanya Kerudung Sampah

Hanya Kerudung Sampah ini merupakan sebuah short movie yang intisari ceritanya pun tidak dapat aku ceritakan dalam blog ini.
Harus menonton secara langsung dan menyimpulkan sendiri.
Filmnya pun tidak ditemukan di Youtube atau media sosial lainnya.
Hanya terdapat di roadshow film itu sendiri.
Kebetulan aku hanya mendapatkan Original Soundtrack-nya.
Cukup untuk membuat air mata menitik dari yang awalnya kecil sampai mengalir layaknya sungai ke lautan :D



Liriknya
Ku terngiang dalam peluh,
Ku merenung dalam hampa,
Ku terpaku dalam kesadaranku,
Ku melangkah dalam hari,
Ku menangis dalam kisah,
Inikah jalan yang kusebrangi?
Bila kerudung ini berkata,
Ku balut ragamu dengan cahaya,
Bila kerudung ini bertanya,
Sanggupkah diriku menjaga?


-d-

Jumat, 11 Mei 2012

Penantian di Batas Waktu :D

Hari ini ada mata kuliah umum AGAMA ISLAM.
Kebetulan materinya tentang pernikahan.
Topik yang sangat menggugah perhatian seluruh penjuru kelas.
Karena pernikahan adalah hal yang sangat sakral.
Dan sang Dosen bertanya seperti apa tipe pasangan hidup yang kita inginkan.
Aku memang tidak mendapat kesempatan untuk menjawabnya.
Tetapi jelas, aku menjawab pertanyaan itu dalam hatiku.
Karena aku memang sudah mempunyai kriteria untuk suamiku kelak :D
Kalau untuk masalah Agama, shaleh dengan artian menjalankan setiap aspek dalam hidupnya karena Alloh dan sesuai dengan sunnah Rasulullah, menjalankan segala perintah Alloh dan menjauhi segala larangan-Nya, jelas itu kriteria utama yang tak bisa diabaikan.
Lalu sangat sayang dan hormat pada keluarga khususnya orang tua, juga tak mungkin aku lupakan.
Karena biar bagaimanapun, seorang pria sampai akhir hayat hidupnya yang harus menjadi wanita yang paling utama itu tetap ibunya, tidak boleh ia lebih mementingkan istri dari ibunya.
Juga, ia adalah sosok orang yang bijaksana dan survive, memandang suatu problema dari segala sisi.
Kemudian, dia dapat menjadi Imam yang baik untuk keluargaku, ia juga dapat menjadi panutan bagi anak-anakku, ia dapat menjadikan diriku ini bernilai 9, juga dapat membawaku ke surga abadi :D

Ya Alloh Ya Robb, hamba hanya ingin berikhtiar di dalam lindungan-Mu. Untuk mendapatkan pendamping hidup yang dapat menjadi ladang pahala, karena dengan sangat baiknya merelakan tulang rusuknya untuk hamba.
Hamba hanya dapat berusaha menjadi orang yang sepantas-pantasnya untuk calon suami hamba yang sebaik-baiknya kelak.
Aamiin Allohumma aamiin, Aamiin ya robbal 'alamiin.


-d-

Rabu, 09 Mei 2012

H I K M A H

Anggap saja saya menulis post ini dengan latar tempat sebuah lapang yang sangat luas tak terjangkau.
Namun saya seorang diri di sana.
Dan terlantunlah lagu ini.

Subhanallah walhamdulillah
Astaghfirullah wallahu akbar
Subhanallah walhamdulillah
Astaghfirullah hasbi Allah
Ya Rabbi
Di tepi kerinduanku
Memandang hampa pada dunia
Ku hanya orang biasa
Tak lepas dari rasa kecewa

Hanya padaMu tempatku mengadu
Pahit yang kini menyiksaku
Aku percaya tiada yang sia-sia
Semua ‘kan ada hikmahnya

Subhanallah walhamdulillah
Astaghfirullah wallahu akbar
Subhanallah walhamdulillah
Astaghfirullah hasbi Allah
Ya Rabbi

Kebenaran itu nyata
Kesucian itu Surga
Hilangkan rasa kecewa
Segalanya pasti ada hikmahnya

Angan yang membalut mimpi
Dulu melukis nyanyian hati
Ku hanya orang yang kalah
Satukan hatiku yang terbelah

Hanya padaMu tempatku mengadu
Pahit yang kini menyiksaku
Aku percaya tiada yang sia-sia
Semua ‘kan ada hikmahnya

Hanya padaMu tempatku mengadu
Pahit yang kini menyiksaku
Aku percaya tiada yang sia-sia
Semua ‘kan ada hikmahnya

Subhanallah walhamdulillah
Astaghfirullah wallahu akbar
Subhanallah walhamdulillah
Astaghfirullah hasbi Allah

Subhanallah walhamdulillah
Astaghfirullah wallahu akbar
Subhanallah walhamdulillah
Astaghfirullah hasbi Allah
Ya Rabbi

Ya Allah
Semua yang terjadi
‘Kan ada hikmahnya

Dan Allah berkata dala firman-Nya.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Selama 31 kali ayat itu diulang-ulang dalam surat Ar-Rahman.

Dan, barang siapa merasa lelah, maka ingatlah, Allah Azza Wajalla berjanji
"Fainna ma'al 'usri yusraan.Inna ma'al 'usri yusraan."
:)

-d-

Rabu, 04 April 2012

99 Cahaya di Langit Eropa

Judul Buku : 99 Cahaya di Langit Eropa : Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa
Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Genre : Nonfiksi
Halaman : 424 Halaman
Ukuran : 13,5 x 20 cm
Tanggal Terbit : 29 Juli 2011
ISBN-13 : 9789792272741





Eropa. Tempat yang mempunyai begitu panyak perbedaan yang jika disatupadukan akan membentuk sebuah peradaban yang membuat dunia terpana. Tempat di mana teknologi dan kebudayaan berjalan berdampingan. Tempat yang minim akan penduduk Muslim, yang sebenarnya semakin memperkaya dimensi spiritual untuk lebih mengenal Islam dengan cara yang berbeda.
Awal kisah dari buku ini jauh sebelum buku ini dibuat. Kisah yang menceritakan seorang Panglima perang yang menyebarkan agama Islam dengan pedang dan perisai, bukan dengan tutur kata dan sikap yang baik.
Buku ini menceritakan perjalanan Hanum selama hidup di Eropa yang mengikuti suaminya, Rangga, yang mendapat beasiswa untuk studi doktoral di Wina, Austria. Di tempat Les Bahasa Jerman, Hanum bertemu dengan seorang wanita Muslim berkebangsaan Turki bernama Fatma Pasha. Sejak itu, Fatma mulai memamerkan kota Wina pada Hanum, dimulai dari atas bukit gunung di Kahlenberg, yang dapat melihat seluruh aspek di kota Wina, termasuk Sungai Danube yang membagi kota Wina menjadi dua. Dan di tepi sungai Danube, ada sebuah Masjid bernama Vienna Islamic Centre.
Suatu hari, saat pembagian ijasah Bahasa Jerman, Fatma sebagai pemilik nilai tertinggi tidak hadir. Dan tidak memberikan kabar sama sekali. Hanum mencarinya ke mana-mana dan hasilnya nihil. Fatma Pasha hilang! Hingga akhirnya ia mendapat sebuah pesan.
Hanum maaf, sekarang aku di bandara Schwechat. Sebentar lagi terbang
ke Turki Ada hal mendesak yang harus kuselesaika.Semoga kita
bertemu lagi. Salam.
Ada rasa tidak puas pada diri Hanum karena pada akhirnya ia dan Fatma yang sudah bertekad akan melakukan perjalanan keliling Eropa untuk mengenal Islam tidak dapat melanjutkan misi mereka.
Tanpa Fatma, Hanum memulai perjalannya ke Paris, negara yang membuat manusia tidak akan dianggap ke Eropa jika tak menginjakkan kaki di bumi Paris, karena kebetulan Rangga akan konferensi di sana. Ia mendapatkan seorang guide bernama Marion yang ia dapati kartu namanya dari seorang Imam Hashim di Vienna Islamic Centre.
“Paris, la Ville-Lumiere. The City of Lights,” ujar Rangga.
Di Paris, tempat pertama yang dikunjungi Hanum adalah Museum Louvre, museum yang mengoleksi lukisan-lukisan karya maestro dunia dan juga menyimpan peninggalan dari imperium ke imperium.
Lalu satu hal yang menginspirasi dan membangunkan Hanum akan akan sebuah janji perjalanan dengan Fatma, yaitu saat hari ulang tahunnya di Bulan April. Ayahnya, Amien Rais, meneleponnya dan menyuruhnya pergi ke Cordoba dan Granada. Hanum jadi teringat akan percakapannya dengan Marion saat di Paris.
“Sesungguhnya yang disebut The City of Lights adalah Cordoba. Kota inilah renaissance Eropa yang sesungguhnya. Semua berasal dari Mezquita itu. Kota yang tak hanya terang karena pencahayaan secara fisik, tetapi juga karena ‘ini’ juga mengalami masa keemasan.” Kata Marion sambil menunjuk kepalanya.
Akhirnya pada bulan Juni, Hanum dan Rangga menapakkan kaki ke Cordoba. Tempat yang pertama kali dikunjungi, tentu saja Mezquita, yang dulunya adalah masjid terbesar di Cordoba yang sekarang harus menerima identitas baru sebagai gereja katedral terbesar di Cordoba.
Suatu hari, Hanum mengecek inbox email-nya. Matanya mendelik saat melihat sebuah nama yang tertera. Fatma Pasha.
Aku begitu bangga mendengar cerita-cerita perjalananmu, kau membuatku seolah-olah ada di tempat itu. Jika kau ada waktu, berkunjunglah ke Istanbul.
Hanum langsung menyuruh Rangga memburu tiket bulan depan ke Istanbul, Turki. Saat hari itu tiba, Fatma Pasha langung menyambutnya. Perjalanan mereka diawali dengan mengunjungi Hagia Sophia.
Kebalikan dari Mezquita, Hagia Sophia dulunya adalah sebuah gereja. Setelah Istanbul ditaklukkan oleh Ottoman, Hagia Sophia dialihfungsikan menjadi masjid. Namun kini telah menjadi museum atas kebijakan pemerintahan Turki.
Perjalanan Hanum diakhiri dengan kepergian Hanum ke Tanah Suci Mekkah. Dan tentu, Hanum semakin mencintai Agamanya, Islam, yang ternyata pernah mempunyai pengaruh besar dan menebarkan cahayanya di bumi Eropa. Segala ketakjuban Hanum dan Rangga akan sejarah Islam yang tersembunyi tergambarkan dengan sangat jelas dalam buku ini.
“Menjadi agen Islam yang baik di Eropa.”
Itulah kata-kata yang keluar dari mulut seorang Fatma Pasha. Yang Hanum sadari bahwa jika dikatakan jauh lebih mudah dibanding dengan menerapkannya. Hanum dapat menyimpulkan sebuah hal dari perjalannya di Eropa, bahwa perjalanan panjangnya sama sekali tidak mengantarkan Hanum ke ujung jalan, namun jutru membuat Hanum kembali ke permulaan. Islam. Allah SWT. Al-Quran. Muhammad SAW.
Buku ini sangat memikat pengetahuan pembaca karena pada dasarnya dalam buku ini Penulis menceritakan sejarah Islam, yang telah menyentuh berbagai bidang peradaban di Eropa sehingga Eropa dapat “bersinar”, dengan sangat piawai menggunakan kata-kata yang lugas, simpel, ringan, dan mengalir sehingga Pembaca langsung larut dalam cerita dan dapat merasakan setiap aspek yang dipaparkan Hanum.
Hanum Salsabiela Rais memasukkan gambar yang diambilnya untuk setiap objek yang ia ceritakan dalam buku sehingga visualisasi penulis diikutsertakan. Juga, dengan adanya gambar untuk setiap objek, Hanum melakukan penekanan latar tempat dan latar waktu sehingga semakin kental terasa oleh Pembaca.
Sayangnya, di Eropa, Hanum bertemu dengan banyak orang yang kemudian dijadikan sebagai tokoh dalam bukunya, sehingga kita tidak dapat menentukan watak tokoh yang diceritakan Hanum.
Walau demikian, buku ini pada akhirnya menguak misteri berabad-abad lalu yang terjadi di Eropa, khususnya tentang eksistensi peradaban Islam di Eropa yang membuat Eropa menjadi negara yang selalu bersinar sepanjang masa sampai sekarang. Dan karya dalam bentuk buku ini juga membuat kita mengenal Islam yang sebenarnya adalah pusat dan titik awal dari segala peradaban dan kebudayaan yang terang benderang di muka bumi Eropa.
Jadi, apakah Anda masih menyimpulkan bahwa Eropa hanya sebatas Menara Eiffel, Colesseum, dan Tembok Berlin? 

-d-

Jumat, 24 Februari 2012

Mukmin, Muslim

1. Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,

2. (yaitu) orang yang khusyuk dalam sholatnya,

3. dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,

4. dan orang yang menunaikan zakat,

5. dan orang yang memelihara kemaluannya,

6. kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela.

7. Tetapi barang siapa mencari dibalik itu (zinah dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

8. Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya,

9. serta orang yang memelihara sholatnya.

10. Mereka itulah orang yang akan mewarisi,

11. (yakni) yang akan mewarisi (surga)Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

QS : Al Mu'minun 1-11

Sungguh simpel bukan apa yang Alloh minta dari kita?
Dan balasannya pun luar biasa bila memang niat kita memang hanya untuk mencari ridho-Nya dan Ikhlas.
Jika sudah begini,
"Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban"
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Semoga Alloh melindungi kamu, aku, dan kita semua untuk terus menjaga keistiqomahan kita.
Aamiin Ya Robbal Alamiin.
Aamiin Allohumma aamiin.

-d-

Rabu, 28 Desember 2011

Ibu, Momma, Omma, Mom, Mami, Bunda.

Suatu hadist shahih berbunyi
Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?" Nabi Saw menjawab, "ibumu...ibumu...ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu." (Mutafaq'alaih)


Iwan Fals - Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah

Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....

Melly Goeslaw - Bunda

kubuka album biru
penuh debu dan nusa
kupandangi semua damba diri
kecil bersih, belum ternoda...


fikirku-pun melayang
dahulu penuh kasih
kudengar semua cerita orang,
tentang riwayatku...


*kata mereka diriku slalu dimanja
kata mereka diriku slalu ditimang


nada nada yang indah
slalu terurai darinya
tangisan nakal dari bibirku
tak-kan jadi deritanya

tangan halus dan suci
telah mengangkat tubuh ini
jiwa raga dan seluruh hidup
rela dia berikan...


*kata mereka diriku slalu dimanja
kata mereka diriku slalu ditimang


ooh bunda ada dan tiada dirimu
kan selalu ada di
dalam hatiku...



Baru saja saat mendengar intro dari lagu Melly, air mata ini langsung menitik.
Bukan karena apa-apa.
Namun karena teringat dosa yang bahkan tidak akan ada habisnya jika dibandingkan dengan segala pengorbanan Beliau.
Ya, Ibuku.
Tidak dapat berkata-kata untuk berjanji membalas segala pengorbanan Beliau.
Namun, aku tancapkan dalam hati dan aku membulatkan tekad, Insya Alloh, kalau aku akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk kebahagiaan Beliau dan kehidupannya.
Tak akan aku biarkan senyum itu lepas dari wajah yang entah bagaimana memberikan kehangatan saat melihatnya.
Dan tak akan pernah aku berhenti berdoa,



"Ya Alloh Ya Robb, hamba mohon dengan amat sangat, berikan Ibuku tempat terindah di surga-Mu kelak, Aamiin Allohuma aamiin."






-d-

Rabu, 30 November 2011

Ego yang menghunus.

"Kamu egois, Din."
Mungkin itu adalah salah satu keluhan yang akan terlontar dari orang-orang terdekatku.
Tak tahu diri.
Tak tahu diuntung.
Dan pasti banyak lagi.
Karena dalam satu sisi, aku terbiasa dengan segala penolakkan.
Dan dalam sisi lain, aku benci penolakan.
Namun sampai sekarang aku masih belum menemukan seberapa dominan hal itu pada diriku.
Kepekaan.
Kepedulian.
Itulah yang sedang aku gali.
Yang sedang aku cari.
Dari dalam diri yang hina ini.
Aku terbiasa mengurung diriku dalam jerat yang tak aku biarkan orang lain menjamahnya.
Dan ketika aku dihadapi dan menghadapi keadaan di mana aku harus melepas jerat itu,
Aku limbung.
Aku linglung bagai anak itik kehilangan induknya.
Tak tahu arah.
Buta.
Aku butuh sandaran.
Aku butuh tempat sebagai pelipur segala keluh kesah dan kelemahanku.
Aku butuh penuntun.
Aku butuh alarm, bahkan sirine, agar bunyinya memekakkan telingaku dan menamparku hingga aku sadar kalau aku telah menghunus seseorang karena salah jalan.
Dan aku tahu, itu semua bisa aku raih dengan berpegang teguh pada Al-Quran dan Al-Hadist.
Tetap mentauhidkan Allah SWT.
Memperbaiki segala amal ibadahku.
Sehingga aku tak merasa sendiri.
Aku tak merasa jatuh.
Aku tak merasa kehilangan arah.
Karena Allah terpatri, terhunus dalam-dalam, di hati, pikiran, jiwa, dan raga ini.

Untuk orang-orang terdekatku.
Mungkin kata maaf tidak akan beguna sama sekali.
Apalagi bagi kalian yang benar-benar sudah tersakiti olehku.
Tapi aku sedang berikhtiar.
Belajar,
Untuk dapat memperbaiki, membenahi, masing-masing dari hati kalian yang telah terkikis oleh segala perkataan dan sikapku.
:')

-d-

Selasa, 29 November 2011

This is real, this is me.

Aku ini ...
Aku ini kupu-kupu.
Yang berawal dari ulat yang membuat banyak manusia bahkan membuangku namun akhirnya aku buktikan kalau keindahanku tak ada duanya jika direstui Allahku.
Aku ini angsa.
Yang dengan anggun mengepakkan sayap-sayapnya di saat yang paling tepat.
Aku ini rajawali.
Yang bukannya takut menghadapi badai, namun menerjang badai tersebut dengan terbang di atasnya.
Aku ini ombak.
Terlihat menakutkan namun tanpa ombak tak akan ada yang mencintai laut.
Aku ini bola kaca.
Jika digenggam erat-erat tentu akan pecah namun jika benar-benar dilepas, aku akan menggelinding.

Aku heran dengan pola pikir manusia jaman sekarang.
Yang bersikap ingin menjadi sosok lain yang bukan dirinya.
Apa karena mereka malu?
Atau mungkin tabiatnya memang buruk?
Atau mungkin ini merupakan senjata atau alat untuk dapat mempelajari medan kehidupan yang baru?
Kenapa mereka tidak menunjukkan saja tabiat asli mereka?
Tunjukkan kalau AKU ya memang AKU apa adanya.
Apa untungnya bersembunyi di balik sosok lain?
Nyaman kah seperti itu?
Hidup penuh kepalsuan, kepura-puraan.
Aku memang tidak peduli atas dasar apa mereka bersembunyi seperti itu.
Karena dari dulu, aku tetap berpendapat kalau alasan akan selalu membuat banyak perbatasan.
Namun setahu aku, kita terlahir jadi manusia adalah benar-benar untuk menjadi manusia.
Kita menjadi manusia yang memanusiakan manusia.
Yang pada hakikatnya harus terus merubah diri untuk lebih pantas, lebih layak, untuk naik derajat di sisi Allah SWT.
Bukannya bersembunyi di balik segala kepalsuan itu.
Apa salahnya kita melakukan sebuah kesalahan yang bisa membuat diri kita jauh lebih baik dan belajar?
Apa puas dengan segala kesempurnaan palsu?
Jika segala sesuatu di dunia ini tabiatnya atau mungkin nilainya baik,
Tidak akan pernah ada manusia yang akan mau belajar dan berusaha untuk menjadikan diri lebih baik.
Padahal kita semua tahu dan mengerti, satu-satunya hal yang mutlak sempurna adalah Allah Subhanahuwata'alla, pemilik dan pemelihara alam semesta ini, jagad raya ini.
Ubahlah segala hal yang dapat kita jangkau ke arah yang jauh lebih baik.
Bukan merubah segala hal yang ada di luar jangkauan kita.
Jangan buang waktumu hanya untuk ber 'acting' di dunia yang penuh sandiwara ini.
LAKUKAN !!!
Keep Survive !!!
No limitation (:

-d-

Senin, 28 November 2011

99 Cahaya di Langit Eropa

Atas izinnya, saya posting sebuah resensi buku.
Tapi lebih tepatnya, resume dari sebuah buku.
Buku yang dengan sangat piawainya dipromosikan oleh salah satu sahabatku.
Mungkin dia tahu aku penggila buku, mungkin.
Atau lebih mungkin lagi dia tahu aku penggila Agamaku, Islamku.
Yasudah, tanpa banyak basa basi, mari kita lihat resumenya (;

Nama : Tubagus Fadillah S.L
Kelas : F
NIM : 07111356
Tugas Bahasa Indonesia



99 CAHAYA DI LANGIT EROPA



Judul Buku : 99 Cahaya di Langit Eropa: Menapak Jejak Islam di Eropa
Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Halaman : 424
Ukuran : 13,5 x 20 cm
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Genre : Non Fiksi, Novel Perjalanan, Novel Sejarah Islam
ISBN-13 : 9789792272741
Tanggal Terbit : 29 Juli 2011


Ringkasan cerita :

Cerita dalam novel ini dimulai jauh sebelum novel ini dibuat. Dulu ketika perang salib antara kaum muslim menghadapi kaum kristen si sebuah daerah di benua Eropa, ada soarang panglima tua yang memimpin pasukan muslim. Waktu itu, panglima tua tersebut yakin bahwa hari itu adalah hari kemenangan dia dan pasukan muslim. Dia yakin akan memenangi pertempuran ini karena telah menyiapkan berbagai macam strategi. Namun takdir berkata lain. Hari itu pasukan muslim sedang diambang kekalahan, segala macam strategi yang telah dibuat panglima tua itu tidak berjalan dengan sukses. Pasukan kristen mendapat bala bantuan dari berbagai negara. “Allah bersama kita...” Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan panglima tua itu kepada pasaukannya. Sayangnya setelah berabad-abad tahun kemudian, dia dikenal sebagai penjahat perang. Dia menyebarkan Islam bukan dengan sikap dan tutur laku yang baik, tetapi dengan pedang dan perisai....

Pertengahan Maret 2008

Hari itu adalah hari pertama Hanum (tokoh utama dalam novel ini) dan Rangga (suaminya) menginjakkan kaki di Eropa. Mereka kesana karena Rangga mendapat beasiswa untuk studi Doktoralnya di Wina, Austria. Sambil menunggu panggilan kerja di tempat Rangga sekolah, Hanum mengikuti les bahasa jerman di Wina. Disana, Hanum berkenalan dengan seorang wanita berkebangsaan Turki, Fatma namanya. Fatma bercerita bahwa di sini, Wina, wanita yang mengenakan jilbab kurang diapresiasi. Mungkin itulah alasan mengapa Fatma belum mendapat pekerjaan disana.
Hari demi hari mereka habiskan bersama. Setiap ada kesempatan, Fatma selalu mengajak Hanum berkeliling kota Wina. Suatu hari Fatma mengajak Hanum pergi ke atas gunung di Wina. Disana mereka melihat seluruh isi kota Wina. Allahhuakbar, Allahuakbar... Suara Azan Magrib terdengar dari atas pegunungan. Hanum pun sontak kaget mendengarnya. Dia heran mengapa ada suara azan di negeri yang sebagian besar penduduknya adalah non-muslim. Fatma memberitahu bahwa suara azan itu datang dari masjid Vienna Islamic Center. “Kau harus kesana.” kata Fatma.
Keesokokan harinya, mereka pergi ke museum Schoenbrunn. Museum terkenal di Wina. Disana mereka melihat berbagai peninggalan sejarah tentang kota Wina. Fatma tertuju pada salah satu lukisan di tempat itu. Di lukisan itu tertulis: Kara Mustapha Pasha; Panglima Perang; pembunuh. Fatma menangisi lukisan itu, Kara Mustapha adalah kakek buyutnya. Fatma menyayangkan tindakan sang kakek yang menyebarkan Islam dengan cara yang salah. Dengan pedang dan perisai. Fatma kemudian meyakinkan dirinya untuk menjadi ‘agen muslim yang baik’. Hari berikutnya, mereka menonton pertandingan sepakbola Piala Eropa antara Turki dengan Swiss. Dan Hari itu adalah hari terakhir Hanum bersama Fatma. Fatma mendadak kembali ke Turki.

Hanum maaf, sekarang aku di bandara Schwechat. Sebentar lagi terbang kembali ke Turki. Ada hal mendesak yang harus kuselesaikan. Semoga kita bertemu lagi. Salam.

Hanum dan Rangga kemudian pergi Vienna Islamic Center. Disana mereka bertemu Imam Hashim, pengurus dan Imam besar di masjid itu. Imam Hashim memberikan sebuah kartu nama kepada Hanum dan menganjurkan mereka untuk pergi ke Paris, Prancis, dan menemui orang yang tertera di kartu nama itu yang akan membimbing mereka disana. Menurutnya, Paris menyimpan banyak misteri tentang Islam, tak terkecuali cerita bahwa Napoleon Bonaparte adalah seorang muslim....

“Paris, la ville-lumiere” ujar Rangga kepada Hanum.

Rangga akan menghadiri menghadiri sebuah konferensi di Paris. Dan itulah awal dari kisah Hanum dan Rangga di Paris. Setibanya disana, Hanum mengontak Marion Latimer, nama yang teretera di kartu nama yang diberikan Imam Hashim. Tak lama menunggu, tibalah Marion. Tanpa basa-basi mereka langsung pergi ketempat yang sudah Marion rencakan namun Rangga tidak ikut karena harus menghadiri persiapan konferensinya.
“Paris bukan hanya tentang eiffel, museum louvre, dan yang lainnya. Aku mengenal Islam justru dari sini, aku memeluk Islam karena...Paris.” begitulah kata-kata Marion mengawali perjalanan mereka. Diperjalan, Marion menunjuk salah satu patung, patung St. Michel. St. Michel, atau Mikhail adalah dewa perang bagi umat kristen. Hanum heran, mengapa malaikat Mikail yang terkenal sebagai malaikat pemberi rezeki diartikan lain oleh umat lain. Tampaknya malaikat Mikhail diterima nilai-nilai kemalaikatnya secara berbeda oleh agama lain.
Tibalah mereka di museum Louvre. Museum ini menyimpan berbagai macam karya maestro dunia. Museum ini juga menyimpan berbagai peninggalan dari zaman ke zaman, dari imperiun ke imperium yang tentunya bisa menambah pengetahuan. Hanum dan Marion masuk ke museum itu, dan seketika pula Hanum menunjuk salah satu papan penunjuk disana...

Section Islamic Art Gallery

Disana Hanum melihat berbagai macam benda-benda peninggalan Islam beserta penjelasannya dalam kaligrafi. Hanum terharu karena benda-benda bersejarah bagi Islam ini ternyata disimpan di jantung pusat peradaban benua Eropa, Paris. Ada lukisan yang sangat aneh, yaitu lukisan bunda Maria. Dalam lukisan itu hijab yang digunakan oleh bunda Maria terdapat kaligrafi yang berbunyi La Illa ha Illalah. Anehnya lukisan itu dibuat oleh seorang seniman kristen. Tampaknya seniman itu hanya meniru tulisan yang mungkin sedang tren pada masa itu, tentunya pada masa keemasan Islam.
Namun Hanum sedih karena dari sekian banyak nama seniman Islam disana, tak satupun yang dia kenali. Hanum sedih karena dia hanya mengenal seniman Barat seperti Picasso, Van Gogh, dan lainnya tanpa mengenal satupun nama seniman Islam yang tertera disana.
Marion mulai mengeluarkan bakatnya sebagai guide bagi Hanum. Marion sendiri adalah lulusan di bidang sejarah, tepatnya sejarah Islam di abad pertengahan. Marion bercerita bahwa Eropa sesungguhnya baru maju pada 5 abad terakhir saja. Jauh sebelum sekarang, Eropa adalah bangsa terbelakang dalam hal teknologi, budaya, dan ilmu pengetahuan. Pada abad itu, Islamlah peradaban yang paling maju, paling terang benderang diantara peradaban yang lainnya. Tanpa adanya ilmu pengetahuan dari kaum muslim, Eropa tidak akan semaju sekarang.
Mereka kemudian keluar dari Louvre. Tepat di pintu depan Louvre, Marion memberitahu fakta yang menarik lagi kepada Hanum. Dibelakang museum ini terdapat 5 bangunan bersejarah bagi Paris: Arc de Triomphe du Carrousel, Obelisk, Champ Elysees, Arc de Triomphe du I’Evoile dan la Defense. Jika ke 5 bangunan ini ditarik garis lurus melewati Louvre, maka akan sampai pada sebuah tempat yang sangat agung. Mekah. Arti dari dari I’Evoile sendiri adalah jalan kemenangan, dan bangunan Arc de Triomphe du I’Evoile dan Arc de Triomphe du Carrousel ini dibangun pada masa pemerintahan Napoleon Bonaparte. Inilah yang membuat Marion beranggapan bahwa Napoleon Bonaparte, sosok pahlawan besar bagi masyarakat Prancis, adalah seorang Muslim. Benar atau tidak, setidaknya susunan bangunan bersejarah yang bergaris lurus menuju Mekah ini adalah bukti bahwa ini semua bukan ‘kebetulan belaka’.... Dan inilah yang mengakhiri perjalanan Hanum dengan Marion.
Setelah selesai dengan konferensinya, Rangga dan Hanum menghabiskan sisa waktu mereka di Paris dengan berkeliling ke tempat-tempat yang ‘lumrah’ dikunjungi setiap turis pada umumnya. Disela-sela perjalan, mereka menyempatkan diri untuk solat di sebuah mesjid yang berada di Paris. Sungguh perasaan yang sangat luar biasa bagi Hanum dan Rangga bisa menunaikan solat di pusat peradaban Eropa.
Mereka ingin mengunjungi Notre Dame, sebuah gereja yang sangat terkenal di Paris. Notre Dame mempunyai kesamaan bentuk dengan Mezquita, sebuah gereja (dulunya masjid) yang sangat terkenal di Cordoba. Alasan mengapa Notre Dame memiliki kesamaan bentuk mungkin karena arsitek Eropa dulu ingin menyaingi masjid Mezquita yang sangat bagus pada masa itu. Sayangnya hari itu Notre Dame tutup, dan itu adalah hari terakhir mereka di Paris karena keesokan harinya mereka harus kembali ke Wina untuk melanjutkan studi Rangga. Rangga bergumam pada dirinya sendiri jika tidak bisa memasuki Notre Dame, dirinya harus berhasil ke Cordoba.
Malam harinya di Wina, Amien Rais (ayah Hanum) menelponnya. Hanum menceritakan semua perjalanannya kepada ayahnya. Namun, ayahnya berpesan bahwa bukan perjalannya yang penting, melainkan makna apa yang bisa dipetik dari perjalanan itu. Sang ayah juga berpesan bahwa dirinya sudah tidak mungkin untuk berkeliling dunia, oleh karena itu, dia meminta kepada Hanum untuk mewakili dirinya mengunjungi kota peradaban Islam termaju di Eropa, Cordoba...
Seketika itu pula Hanum membuka komputer tabletnya, berburu tiket paling murah pada Juni 2010, saat libur musim panas di kampus Rangga.

“Cordoba, kami datang....”

Kota yang penuh dengan hal yang sangat Islami, setidaknya itulah yang ada di benak Hanum dan Rangga saat tiba di Cordoba. Namun setibanya mereka disana, lagi-lagi mereka harus menghapus khayalan mereka akan kota yang dipenuhi dengan orang-orang sopan, wanita memakai jilbab, dan sebagainya. Disana mereka melihat Cordoba tidak lain hanyalah seperti kota-kota Eropa pada umumnya. Wanita yang memperlihatkan auratnya, sepasang kekasih yang berciuman di jalan umum, dan hal lainnya yang umum seperti di kota-kota Eropa lainnya.
Di Cordoba mereka langsung menuju ke tujuan utama mereka, Mezquita. Kali ini giliran Sergio, seorang lelaki tua, yang menjadi pemandu mereka di Cordoba dengan upah tiga puluh euro selama dua jam. Sergio mulai bercerita bahwa sesungguhnya ada rantai sejarah yang terputus di Eropa ini. Yaitu berkembang pesatnya peradaban Islam di Eropa dan tempat itu adalah Cordoba. Saat itu pada masa kegelapan, Cordobalah yang menjadi kota paling terang diantara semua negara Eropa. Maksud terang disini adalah terang dalam artian yang sesungguhnya. Eropa dulu adalah wilayah yang gelap, sedangkan pada masa itu Cordoba sudah menggunakan lampu dari minyak untuk menerangi kota dengan Mezquita sebagai pusat kota.
Dahulu di Cordoba, Islam, Yahudi, dan Kristen hidup berdampingan. Mereka tidak saling singgung dalam hal keyakinan, mereka menjunjung tinggi keadilan sosial dan Mezquita representasi dari semua itu. Mihrab yang ada di Mezquita tidak mengarah ke Mekah, bila memaksakan kesana, maka harus menghancurkan sebuah gereja yang berada di sebelahnya, dan itu tidak diinginkan oleh Al Rahman, raja Cordoba saat itu. Hanum dan Rangga sangat serius memperhatikan apa yang diucapkan oleh Sergio. Sergio berpikir seharusnya Mezquita dijadikan museum saja seperti Hagia Sophia yang ada di Turki. Sergio melanjutkan penjelasannya tentang Cordoba. Averroes (Ibnu Rushd) , Bapak Renaissance, adalah seseorang yang sangat dihormati oleh masyarakat Eropa sebagai seorang filsuf yang sangat bijaksana dan dia adalah seorang muslim. Averroes berpendapat bahwa hanya dua kekuatan utama untuk menjalani hidup dengan baik, yaitu agama dan ilmu pengetahuan. Sayangnya ilmu pengetahuan lebih mengena pada masyarakat Eropa kini. Sergio terus bercerita hingga tak terasa waktu dua jam yang dijanjikan telah hampir habis. Hanum dan Rangga merasa itu saja belum cukup untuk menuntaskan dahaga akan Islam, tetapi mereka harus kembali karena sudah berhari-hari mereka berada di Cordoba.

Dalam setiap perjalanannya, Hanum selalu menyempatkan diri untuk mengirim pesan kepada Fatma. Namun tak ada satupun surat balasan dari Fatma untuk Hanum.
Suatu ketika Hanum kaget ketika ternyata ada surat dari Fatma, Fatma Pasha. Fatma mengatakan bahwa dirinya senang mendengar kisah perjalanan Hanum. Fatma mengajak Hanum dan Rangga untuk berkunjung ke Turki, tanah kelahirannya.

“Sebagai wilayah terakhir dari usaha ekspansi agama Islam di Eropa dan sebagai akhir tujuan perjalan Islamimu di Eropa, kau harus berkunjung kesini.....Turki”

Goodbye Asia, welcome to Europe again...” bisik Rangga kepada Hanum setelah mereka menyebrangi jembatan Bosphorus, jembatan yang sangat terkenal di Turki. Jembatan ini adalah jembatan pemisah antara benua Asia dan benua Eropa.
Setelah menunggu sekitar dua jam, akhirnya orang yang ditunggu datang juga, Fatma Pasha. Kali ini Fatma lagi yang akan menjadi pemandu untuk Hanum dan Rangga. Perjalanan mereka diawali dengan mengunjungi Hagia Sophia. Kebalikan dari Mezquita, Hagia Sophia dulunya adalah sebuah gereja. Setelah konstantinopel (Istanbul) ditaklukkan oleh Ottoman, Hagia Sophia dialihfungsikan menjadi masjid. Namun kini telah menjadi museum atas kebijakan pemerintahan Turki sekarang. Fatama bercerita bahwa keberhasilan pasukan muslim menaklukkan Konstantinopel adalah sebuah keberhasilan yang besar, terutama berhasil menaklukkan Hagia Sophia. Pada masa itu Hagia Sophia adalah simbol kebesaran kekaisaran Romawi. Dengan direbutnya Hagia Sophia, maka runtuhlah kewibawaan bangsa Romawi. Walaupun dialihfungsikan menjadi masjid, atas perintah Sultan Mehmed, lukisan-lukisan dan seni arsitekurnya tidak dihapus. Lukisan-lukisan seperti Bunda Maria, Yesus Kristus, dan lainnya masih ada di Hagia Sophia. Ini untuk membuktikan pada dunia bahwa Islam bukanlah agama perusak. Sampai sekarang sisa-sisa karya seni itu masih bisa dinikmati oleh manusia zaman sekarang dan keasliaan masih terpelihara meskipun ada beberapa bagian yang rusak.
Setelah mengunjungi Hagia Sophia, mereka kemudian mengunjungi Blue Mosque. Fatma bercerita bahwa Blue Mosque ini dibuat pada masa pemerintahan Sultan Mehmed. Ini dibangun untuk menyaingi Hagia Sophia.
“Tahukah kau Hanum, bahwa Islam dulu pernah berjaya untuk waktu yang cukup lama, dan sekarang kejayaan masa lalu itu sudah mulai pudar. kini banyak kalangan yang menilai bahwa Islam adalah agama yang radikal. Sulit untuk mengantisipasi itu, tapi aku sebagai seorang muslim akan berusaha sekuat mungkin untuk memberitahukan kepada mereka bahwa anggapan mereka semua salah. Karena itu akan mencoba menjadi seorang....”
“Agen muslim yang baik !!!” sambut Hanum.


Akhir cerita ini diakhiri dengan pergi hajinya Hanum Salsabiela Rais. Hanum pergi tidak dengan Rangga karena Rangga tidak mendapat izin dari tempat ia studi Doktoralnya. Hanum beranggapan bahwa pergi haji adalah undangan spesial dari Tuhan. Disanalah Hanum mengakhiri perjalanan Islaminya di Eropa.

Pergilah, jelajahi dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia-rahasia hidup; niscaya jalan apapun yang kau pilih akan mengantarkanmu ke titik awal. Sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kau temukan di titik nol perjalanmu.

”Perjalan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung jalan, justru akan membawamu kembali ke titik permulaan.”
-Hanum Salsabiela Rais-


Bagaimana, Pemirsah?
Interested to read?
The answer is suppose to be YESSS.
Because after I read this resume, I eager to read this.
Really !!!
Don't miss it (;

Big thanks to you, friend, Tubagus Fadillah Setyabudi Leksana.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Ar-Rahman




Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Setiap membaca surat ini, surat Ar-Rahman, surat ke 55,apalagi saat membaca penggalan diatas, yang diulang sebanyak 31 kali di dalam surat Madaniyyah ini.
Tak urung hati ini bergetar. Selalu.
Tak urung mata ini memanas, keinginan dalam hati membludak, menumbuk-numbuk hati bagai sebuah momentum impuls.
Keinginan untuk berserah diri kepada-Nya.
Keinginan untuk senantiasa selalu bersyukur kepadanya.

Karena sesungguhnya Allah amat mencintai makhluk-Nya.
Allah menciptakan manusia dan mengajarnya pandai bicara.
Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.
Langit ditinggikan agar sebuah keseimbagan tercipta, keseimbangan yang HARUS ditegakkan dengan keadilan.
Allah yang memelihara dua timur dan dua barat.
Allah yang membiarkan air laut mengalir dengan batas yang tidak dapat dilampaui.

Subhanallah.

Namun bagaimana cara diri kita untuk berterima kasih atau mengungkapkan rasa syukur kita?
Sebenarnya sederhana saja.
KERJAKAN perintah-Nya dan JAUHI larangan-Nya.
Dalam surat ini dijelaskan bahwa orang-orang berdosa diketahui dengan tanda-tandanya, lalu direnggut ubun-ubun dan kakinya.
Neraka jahanam di antara air yang mendidih.
Dan barang siapa yang takut akan Tuhannya, diberikannya dua buah surga.
Surga yang mempunyai aneka pohon dan buah-buahan.
Dua buah mata air yang memancar.
Bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang belum pernah sekali pun disentuh dengan manusia atau jin sebelumnya.

Karena sesungguhnya tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Mahasuci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.

Sungguh sebenarnya Allah mencintai hamba-Nya yang bersabar :)

-d-

Jumat, 15 Oktober 2010

seorang hamba yang merindukan Tuhannya

Ketika suatu prahara menerpa,
jujur aku berharap aku menjadi debu.
Namun aku sadar itu hanya membuatku berlabel "PENGECUT"
Maka aku putuskan untuk terbang di atas dan menghadapi prahara itu.
Walau harus berdarah-darah, walau banyak rintangan.
Aku percaya bumi itu berputar.
Dan prahara itu akan terus terkikis seiring dengan putaran demi putaran tersebut,
dan tentu saja akan terkikis seiring dengan sebesar apa usaha (F x S) yang telah aku lakukan, sebesar apa harapanku, sebanyak apa darah yang aku habiskan, dan sebanyak apa pula mulutku menyebut nama-Mu.
Hingga akhirnya akan aku dapatkan kemanisan hidup.

Ya Allah, Tuhanku yang Mahatahu.
Ini bukan cerita, ini doa.
Tetaplah sudi berada di dalam hatiku, Ya Rabb.
Tetaplah sudi menjadi pelipur lara hati ini.
Tetaplah sudi mendengarku setiap kali aku bersimpuh untuk memohon kepada Engkau.
Aku melakukan segala hal yang aku lakukan di dunia ini semata-mata hanya untuk mengharapkan ridho-Mu, Allah yang Mahaagung.

Ya Allah,
Aku hanya khalifah-Mu yang penuh kekhilafan.
Lindungi aku dari segala hal yang berdosa, Allah.
Karena hanya kepada-Mu sepantasnya aku berlindung.

AMIN.

-d-