Ceritanya, aku dan beberapa teman lagi di perpustakaan.
Tempat teroke sepanjang sejarah kami di tingkat akhir ini, hehehe.
Seketika, ada seorang teman lagi datang menghampiri kami.
Dia terkenal dengan segala keriwehannya.
Dia bilang dia kangen ke kami semua.
Dan aku hanya tersenyum menanggapi.
"Dina, kok begitu banget responnya? Kamu nggak kangen sama aku?"
"Ya kangen." jawabku singkat dan datar.
Aku pun merangsek maju untuk memberinya sebuah pelukan.
Well, bagaimana ya?
Jujur aku sama sekali tidak bohong padanya.
Aku benar-benar kangen padanya, dengan teman-teman sekelas.
Tapi aku bukan orang yang ekspresif, yang secara gamblang mengungkapkan apa yang aku rasa.
Aku cenderung diam, biar aku yang merasakan indahnya merindu dan dirindukan.
Bukannya tidak ingin berbagi, tetapi aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk dapat mencerminkan perasaanku.
Mungkin karena aku behave kali ya?
Atau ada yang salah denganku? Hehe.
-d-
Bismillahirrohmanirrohiim
Bismillahirrohmaanirrohiim
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Senin, 06 April 2015
STEREO
Aku selalu ingin blogku menarik.
Sehingga sejak aku membuat web ini, aku selalu berusaha memosting cerita-cerita yang membuat banyak orang terpaku pada layar dengan LCD-nya adalah webku ini, sedang membaca tulisan-tulisan yang aku posting.
Tapi saat aku tinjau ulang, banyak sekali yang berlabel ‘hati', haha.
Biarinlah, namanya juga jiwa melankolis paling bahagia.
Kali ini, aku ingin memosting tentang STEREO.
Drama musikal di salah satu stasiun televisi yang menurutku dikemas sangat keren, jadi dari awal aku langsung tertarik dan selalu menunggu-nunggu program ini setiap minggunya.
Saat aku mengikuti acara talkshow yang bintang tamunya adalah para pemain STEREO, rata-rata mereka bilang bahwa mereka sudah seperti keluarga karena hampir setiap hari ketemu.
Well, pernyataan itu membuatku flash back ke jaman SMA dulu.
Bisa dibilang aku tahu banget apa yang para pemain STEREO itu rasakan.
Bagaimana rasanya hampir setiap hari bertemu dengan orang yang sama di ranah yang sama.
Ranah pengganti keluarga selama 8,5 jam per hari bahkan terkadang bisa lebih dari jam tersebut karena kami harus latihan rutin, evaluasi dari senior, belajar bersama, atau hanya sekadar bercengkrama yang membuat kami semakin kompak dan hubungan persaudaraan kami semakin intens.
Membuatku rindu dan tak jarang aku merasa ingin kembali ke masa-masa itu.
Yah, mungkin yang sering membaca blog ini tahu siapa mereka hehe.
Lalu aku kembali menemukan pengganti mereka, cahaya matahariku selain Ibu dan keluarga Arfatku, versi Bandung.
Hampir setiap hari bertemu di perkuliahan, berbagi suka dan duka, tawa dan tangis, kegalauan karena dosen, cinta, dan keluarga.
Mereka juga pernah aku bahas di blog ini, hehe.
Intinya, dengan adanya kehadiran mereka aku sadar.
Everybody loves you, Din! :D
Dan buat STEREO, semoga nanti nggak cuma hari Minggu aja ya tayangnya, kelamaan nunggunya, hehehe.
-d-
Sehingga sejak aku membuat web ini, aku selalu berusaha memosting cerita-cerita yang membuat banyak orang terpaku pada layar dengan LCD-nya adalah webku ini, sedang membaca tulisan-tulisan yang aku posting.
Tapi saat aku tinjau ulang, banyak sekali yang berlabel ‘hati', haha.
Biarinlah, namanya juga jiwa melankolis paling bahagia.
Kali ini, aku ingin memosting tentang STEREO.
Drama musikal di salah satu stasiun televisi yang menurutku dikemas sangat keren, jadi dari awal aku langsung tertarik dan selalu menunggu-nunggu program ini setiap minggunya.
Saat aku mengikuti acara talkshow yang bintang tamunya adalah para pemain STEREO, rata-rata mereka bilang bahwa mereka sudah seperti keluarga karena hampir setiap hari ketemu.
Well, pernyataan itu membuatku flash back ke jaman SMA dulu.
Bisa dibilang aku tahu banget apa yang para pemain STEREO itu rasakan.
Bagaimana rasanya hampir setiap hari bertemu dengan orang yang sama di ranah yang sama.
Ranah pengganti keluarga selama 8,5 jam per hari bahkan terkadang bisa lebih dari jam tersebut karena kami harus latihan rutin, evaluasi dari senior, belajar bersama, atau hanya sekadar bercengkrama yang membuat kami semakin kompak dan hubungan persaudaraan kami semakin intens.
Membuatku rindu dan tak jarang aku merasa ingin kembali ke masa-masa itu.
Yah, mungkin yang sering membaca blog ini tahu siapa mereka hehe.
Lalu aku kembali menemukan pengganti mereka, cahaya matahariku selain Ibu dan keluarga Arfatku, versi Bandung.
Hampir setiap hari bertemu di perkuliahan, berbagi suka dan duka, tawa dan tangis, kegalauan karena dosen, cinta, dan keluarga.
Mereka juga pernah aku bahas di blog ini, hehe.
Intinya, dengan adanya kehadiran mereka aku sadar.
Everybody loves you, Din! :D
Dan buat STEREO, semoga nanti nggak cuma hari Minggu aja ya tayangnya, kelamaan nunggunya, hehehe.
-d-
Senin, 19 Januari 2015
Hanya Kerudung Sampah
Hanya Kerudung Sampah ini merupakan sebuah short movie yang intisari ceritanya pun tidak dapat aku ceritakan dalam blog ini.
Harus menonton secara langsung dan menyimpulkan sendiri.
Filmnya pun tidak ditemukan di Youtube atau media sosial lainnya.
Hanya terdapat di roadshow film itu sendiri.
Kebetulan aku hanya mendapatkan Original Soundtrack-nya.
Cukup untuk membuat air mata menitik dari yang awalnya kecil sampai mengalir layaknya sungai ke lautan :D
Liriknya
Ku terngiang dalam peluh,
Ku merenung dalam hampa,
Ku terpaku dalam kesadaranku,
Ku melangkah dalam hari,
Ku menangis dalam kisah,
Inikah jalan yang kusebrangi?
Bila kerudung ini berkata,
Ku balut ragamu dengan cahaya,
Bila kerudung ini bertanya,
Sanggupkah diriku menjaga?
-d-
Harus menonton secara langsung dan menyimpulkan sendiri.
Filmnya pun tidak ditemukan di Youtube atau media sosial lainnya.
Hanya terdapat di roadshow film itu sendiri.
Kebetulan aku hanya mendapatkan Original Soundtrack-nya.
Cukup untuk membuat air mata menitik dari yang awalnya kecil sampai mengalir layaknya sungai ke lautan :D
Liriknya
Ku terngiang dalam peluh,
Ku merenung dalam hampa,
Ku terpaku dalam kesadaranku,
Ku melangkah dalam hari,
Ku menangis dalam kisah,
Inikah jalan yang kusebrangi?
Bila kerudung ini berkata,
Ku balut ragamu dengan cahaya,
Bila kerudung ini bertanya,
Sanggupkah diriku menjaga?
-d-
Label:
Islamku INDAH (:
Selasa, 13 Januari 2015
Insecurity
"Besok kegiatan kamu ngapain?"
"Rencananya mau ketemu sama Bu Aan. Aku beneran ilang arah dalam penulisan skripsiku. Aku gatau apa aku harus lari ke hutan lalu belok ke pantai atau memecahkan gelas biar ramai. In short, gue mau bimbingan, hehe."
"Ya ampun, pakai hilang arah segala."
Well, skripsi ini benar-benar sakral bagiku.
Awalnya, aku berniat menuntaskan kuliahku dalam 3,5 tahun dan rencana wisuda di bulan April 2015 sehingga aku menuntaskan semua mata kuliahku di semester 6.
Tapi manusia hanya dapat berencana bukan?
Hingga pada bulan Oktober aku jatuh sakit, delapan hari dirawat di rumah sakit dan seminggu disuruh bed rest oleh sang dokter.
Ditambah harus kontrol rutin setiap minggu jadi aku harus menyempatkan diri untuk melakukan medical treatment-ku.
Jadi kalau aku memaksakan diriku untuk tetap wisuda di bulan April, tandanya aku tidak adil pada diriku sendiri, aku memaksakan diri, terdengar egois pada diri sendiri padahal aku tahu bagaimana kebutuhan jasmani dan rohaniku.
Dalam hal ini, bukan hanya aku yang menargetkan lulus kuliah dalam 3,5 tahun.
Salah satu sahabat cantikku sejak SMA pun juga menargetkan hal sama.
Kami kuliah di jurusan yang sama tetapi beda universitas, aku kuliah di universitas pendidikan di Bandung, sedangkan dia di Jakarta.
Untungnya, target dia tercapai.
Sungguh aku sangat bangga dengan segala perjuangannya hingga bisa sidang di tanggal 14 Januari 2015, ya, besok hari.
Tapi di sisi lain, timbul keresahan dalam diriku karena aku baru akan membuat instrumen dan bahan ajar untuk penelitianku.
Kalau pun memang tidak ada halangan dan sesuai dengan perhitungan jadwal, aku baru dapat menyelesaikan laporanku bulan Maret, Insya Allah.
Sungguh aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa selain mendukung dan berdoa untuk kesuksesan dan kelancaran sahabatku itu walau timbul berbagai pressure dalam diriku ini.
Yah, memang seharusnya aku menjadikan pressure itu sebagai motivasiku untuk cepat menyelesaikan tugas akhir ini, tak peduli seberapa banyak kualitas atau kuantitas medical treatment yang harus aku jalani dalam jangka waktu minimal 6 bulan.
Dan harusnya hal itu bukanlah alasan untuk membuatku merasa insecure dan tertekan seperti ini, hehe.
As long as I do my best, there is nothing to worry about :)
Last but not least, CONGRADUATION DELLA AFRILIONITA :*
Menyesakkan rasanya tidak dapat hadir ke sidangnya, hhiks :'(
-d-
"Rencananya mau ketemu sama Bu Aan. Aku beneran ilang arah dalam penulisan skripsiku. Aku gatau apa aku harus lari ke hutan lalu belok ke pantai atau memecahkan gelas biar ramai. In short, gue mau bimbingan, hehe."
"Ya ampun, pakai hilang arah segala."
Well, skripsi ini benar-benar sakral bagiku.
Awalnya, aku berniat menuntaskan kuliahku dalam 3,5 tahun dan rencana wisuda di bulan April 2015 sehingga aku menuntaskan semua mata kuliahku di semester 6.
Tapi manusia hanya dapat berencana bukan?
Hingga pada bulan Oktober aku jatuh sakit, delapan hari dirawat di rumah sakit dan seminggu disuruh bed rest oleh sang dokter.
Ditambah harus kontrol rutin setiap minggu jadi aku harus menyempatkan diri untuk melakukan medical treatment-ku.
Jadi kalau aku memaksakan diriku untuk tetap wisuda di bulan April, tandanya aku tidak adil pada diriku sendiri, aku memaksakan diri, terdengar egois pada diri sendiri padahal aku tahu bagaimana kebutuhan jasmani dan rohaniku.
Dalam hal ini, bukan hanya aku yang menargetkan lulus kuliah dalam 3,5 tahun.
Salah satu sahabat cantikku sejak SMA pun juga menargetkan hal sama.
Kami kuliah di jurusan yang sama tetapi beda universitas, aku kuliah di universitas pendidikan di Bandung, sedangkan dia di Jakarta.
Untungnya, target dia tercapai.
Sungguh aku sangat bangga dengan segala perjuangannya hingga bisa sidang di tanggal 14 Januari 2015, ya, besok hari.
Tapi di sisi lain, timbul keresahan dalam diriku karena aku baru akan membuat instrumen dan bahan ajar untuk penelitianku.
Kalau pun memang tidak ada halangan dan sesuai dengan perhitungan jadwal, aku baru dapat menyelesaikan laporanku bulan Maret, Insya Allah.
Sungguh aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa selain mendukung dan berdoa untuk kesuksesan dan kelancaran sahabatku itu walau timbul berbagai pressure dalam diriku ini.
Yah, memang seharusnya aku menjadikan pressure itu sebagai motivasiku untuk cepat menyelesaikan tugas akhir ini, tak peduli seberapa banyak kualitas atau kuantitas medical treatment yang harus aku jalani dalam jangka waktu minimal 6 bulan.
Dan harusnya hal itu bukanlah alasan untuk membuatku merasa insecure dan tertekan seperti ini, hehe.
As long as I do my best, there is nothing to worry about :)
Last but not least, CONGRADUATION DELLA AFRILIONITA :*
Menyesakkan rasanya tidak dapat hadir ke sidangnya, hhiks :'(
-d-
Rabu, 02 Juli 2014
Kuliah Kerja Nyata ... :D
Postingan ini ditulis di tengah-tengah kegiatan KKN.
Kegiatan dan perkuliahan paling hectic karena lokasinya pun beragam, juga dengan orang-orang yang beragam dari berbagai jurusan.
Dapat dipastikan tidak ada yang melebihi satu orang dari perwakilan setiap jurusan dalam satu kelompok KKN.
Aku pun juga menjadi salah satu delegasi dari jurusanku, Pendidikan Matematika.
Di awal, masih terlihat banyak yang menutup diri tanpa mengungkapkan jati diri sebenarnya.
Tapi, kami akan tinggal bersama selama kurang lebih 40 hari, waktu yang menurutku tidak sebentar untuk ukuran perkuliahan dalam bentuk pengabdian.
Tempat KKN aku sendiri berlokasi di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.
Awal dapat di Indramayu, sungguh aku merasa benar-benar terpuruk.
Aku merasa lebih baik mengundurkan diri dari perkuliahan ini.
Tetapi saat diingatkan oleh Ibu, dan saat bertemu dengan teman-teman kelompok, entah mengapa keresahan dan kekhawatiran tersebut hilang bagai debu tertiup angin.
Aku justru jadi menggebu-gebu untuk mengerahkan segala kemampuan terbaikku dalam KKN ini.
Aku ingin menorehkan sejarah bahwa sosok aku, yang selalu mendeklarasikan diri pada siapa pun dan di mana pun kalau aku ini gadis yang cepat pulih dengan kepribadian di atas rata-rata, mampu bertahan dalam situasi dan kondisi apa pun.
Aku ingin melahirkan sosok aku yang baru tanpa harus dibayang-bayangi aku yang sesungguhnya.
Oke, aku rasa sudah cukup cerita tentang diriku sendiri menghadapi KKN di Indramayu ini.
Mari kita berlanjut ke tahap pelaksanaan.
Dalam suatu kelompok, tentu perlu adanya seorang pemimpin.
Sudah menjadi hal yang seharusnya agar kelompok KKN aku tidak bertransformasi menjadi kelompok yang barbar dan liar.
Maka, terpilihlah struktur organisasi dengan nama-nama berikut.
Ketua : Ilham Muzakki, jurusan Pendidikan Kimia.
Sekretaris : Vini Fatmawati, jurusan Pendidikan Luar Sekolah.
Bendahara : Gadis Adhistria, jurusan Pendidikan Seni Tari.
Dengan pertimbangan ingin menghasilkan kepengurusan yang efektif dan efisien, maka Ilham, meminta agar sekretaris dan bendahara masing-masing menjadi dua orang.
Dan saat itulah, Ilham memilih aku untuk menjadi sekretaris kedua dan Himmah Rahmawati dari jurusan Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia sebagai bendahara.
Saat bertemu dengan dosen pembimbing lapangan, tiba-tiba Vini bilang kami harus mencari sekretaris yang lain lagi karena ia dipindahkan ke daerah Sumedang dengan beberapa alasan.
Maka dari itu, secara otomatis aku menjadi sekretaris dan dicarilah sekretaris baru yaitu Yulqi Azka Shiyami dari Pendidikan Teknik Agro Industri.
Oke, itu hanya beberapa hal mengenai struktur kepengurusan yang Alhamdulillah sudah fix.
Berlanjut ke packing barang-barang kelompok yang akan kami bawa ke Indramayu.
Setelah memutuskan kami akan mengumpulkan barang-barangnya di kosan aku dengan pertimbangan lebih dekat dari lokasi pemberangkatan, maka mereka semua datanglah ke kosan aku.
Ada Febi, Kiki, Yulqi, Himmah, dan tentu saja Pak Ketua, Ilham.
Selesai mengepak dan hanya tinggal aku berdua dengan ketuaku itu, dia tiba-tiba bertanya.
“Saya orangnya nyebelin ya?”
Aku sedikit tercenung mendengar pertanyaannya tetapi aku menggeleng mantap. “Enggak. Emang kenapa?”
“Kamu pikir saya nggak tau kalian menganggap saya orang yang menyebalkan. Iya, kan? Mereka menganggapnya gitu, kan?”
“Ah, enggak juga.”
“Kalau di mata kamu, bagaimana?”
“Biasa saja. Aku orangnya nggak mudah terpancing, Ham.”
“Oke, kita buktiin nanti. Saya bersikap nyebelin begini sengaja. Karena saya ingin nguji loyalitas mereka ke kelompok. Nanti selama di sana, lima hari pertama, juga akan saya diamkan. Saya biarkan mereka ingin melakukan apa. Kita lihat bagaimana sifat asli mereka. Kamu pun juga ada gilirannya. Jadi, kalau saya berubah jadi menyebalkan, bagaimana?”
Aku hanya mengangkat bahu. “Ya silahkan saja. Tidak akan berpengaruh apa-apa ke aku. Aku nggak akan mengeluhkan apa pun.”
Dia ketawa. “Yakin?”
Aku mengangguk pasti. “Iya. Dicoba saja. Paling aku cuma bisa nangis nanti.”
Nah, itu hanya sekelebat percakapan selama kemas-kemas.
Sedangkan saat hari kedua pelaksanaan KKN, dia benar-benar mulai berubah.
Dari yang awalnya cerewet dan ceria, langsung bersikap dingin dan tidak menegur kita semua kecuali memang ada hal yang perlu dibicarakan.
Nah, jelas hal tersebut memberikan efek samping padaku.
Aku merasa benar-benar depresi menghadapi sikapnya padaku, aku mencoba mencari pelarian ke mana-mana tetapi hasilnya nihil dan berujung dengan siksaan batin yang aku rasakan.
Semuanya aku tahan, aku pendam berhari-hari dan meluapkannya, seperti yang sudah aku bilang, hanya dengan menangis.
Entah sudah berapa kali aku menyendiri dan menangis kejer sambil menggigit baju untuk membungkam suaraku keluar.
Puncaknya adalah saat main kartu UNO, dan sungguh hal ini merupakan hal paling kekanak-kanakan yang pernah aku lakukan sepanjang hidup.
Ceritanya begini, petanding bersisa dua, aku dan Yulqi.
Ilham yang sudah menang pun memutuskan membantu Yulqi dan ia menyarankan untuk mengeluarkan kartu cermin, yang artinya pemain harus bertukar kartu yang dimiliki dengan lawan.
Sedangkan kartu ditanganku merupakan kartu yang sangat menguntungkan dan tinggal selangkah lagi menuju UNO Games.
Karena kesal itulah, aku langsung mengacak-acak kartu UNO yang ada dan nangis di tempat.
Bukan karena permainan UNOnya, tetapi mungkin karena sudah terlalu banyak hal yang aku pendam.
Seperti, salah satunya, merasa seperti tidak dianggap oleh Ilham sendiri.
Aku seperti butiran debu yang dapat terhempas angin kapan pun dia ingin meniup aku.
Aku jadi merasa benar-benar tersiksa dan ingin teriak sekencangnya.
Tak jarang aku melakukan hal-hal yang menunjukkan kalau aku itu ADA, tetapi olehnya dihempas lagi dan lagi sampai pada akhirnya, aku lelah.
Sungguh, aku merasa depresi, frustasi, lelah lahir dan batin, dan sebagainya sampai-sampai aku merasa terpuruk.
Jadi aku berusaha untuk membiarkan dia semaunya pada diriku.
Tapi aku berpikir, hal tersebut justru hanya akan merugikan diriku sendiri yang selalu merasa canggung dan tidak nyaman berada di sekitarnya sedangkan hari yang tersisa masih banyak untuk KKN ini.
Jadi, aku kembali gencar melakukan aksi apa pun kalau aku itu ADA dan dianggap olehnya.
Jika dia tidak bereaksi dan tidak ada perubahan?
Malam hari saat semuanya sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing, aku menyendiri di teras dan menangis.
Yah, apalagi yang bisa aku lakukan selain menangis?
Bicara padanya untuk menganggap kehadiranku sebagai sekretarisnya?
Menurutku itu sama sekali bukan suatu solusi penyelesaian masalah karena justru kami akan menjadi semakin canggung dan asing satu sama lain.
Jadi? Bagaimana?
Aku harap keadaan ini akan semakin membaik seiring dengan hari-hari yang sudah terlewati.
Aku harap aku bisa melewatkan, satu hari saja, tanpa air mata.
Karena aku sudah bertekad untuk menghidupkan hidupku di KKN ini.
Terlalu rugi rasanya hanya berfokus pada satu orang sedangkan masih ada 8 orang lainnya yang peduli padaku.
Seperti Kiki, Febi, Gadis, Yulqi, Himmah, Reza, Lutfi, dan Deni yang selalu menjadi sandaran hati setiap harinya selama 40 hari ini.
Keep proactive, Dina!
-d-
Kegiatan dan perkuliahan paling hectic karena lokasinya pun beragam, juga dengan orang-orang yang beragam dari berbagai jurusan.
Dapat dipastikan tidak ada yang melebihi satu orang dari perwakilan setiap jurusan dalam satu kelompok KKN.
Aku pun juga menjadi salah satu delegasi dari jurusanku, Pendidikan Matematika.
Di awal, masih terlihat banyak yang menutup diri tanpa mengungkapkan jati diri sebenarnya.
Tapi, kami akan tinggal bersama selama kurang lebih 40 hari, waktu yang menurutku tidak sebentar untuk ukuran perkuliahan dalam bentuk pengabdian.
Tempat KKN aku sendiri berlokasi di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.
Awal dapat di Indramayu, sungguh aku merasa benar-benar terpuruk.
Aku merasa lebih baik mengundurkan diri dari perkuliahan ini.
Tetapi saat diingatkan oleh Ibu, dan saat bertemu dengan teman-teman kelompok, entah mengapa keresahan dan kekhawatiran tersebut hilang bagai debu tertiup angin.
Aku justru jadi menggebu-gebu untuk mengerahkan segala kemampuan terbaikku dalam KKN ini.
Aku ingin menorehkan sejarah bahwa sosok aku, yang selalu mendeklarasikan diri pada siapa pun dan di mana pun kalau aku ini gadis yang cepat pulih dengan kepribadian di atas rata-rata, mampu bertahan dalam situasi dan kondisi apa pun.
Aku ingin melahirkan sosok aku yang baru tanpa harus dibayang-bayangi aku yang sesungguhnya.
Oke, aku rasa sudah cukup cerita tentang diriku sendiri menghadapi KKN di Indramayu ini.
Mari kita berlanjut ke tahap pelaksanaan.
Dalam suatu kelompok, tentu perlu adanya seorang pemimpin.
Sudah menjadi hal yang seharusnya agar kelompok KKN aku tidak bertransformasi menjadi kelompok yang barbar dan liar.
Maka, terpilihlah struktur organisasi dengan nama-nama berikut.
Ketua : Ilham Muzakki, jurusan Pendidikan Kimia.
Sekretaris : Vini Fatmawati, jurusan Pendidikan Luar Sekolah.
Bendahara : Gadis Adhistria, jurusan Pendidikan Seni Tari.
Dengan pertimbangan ingin menghasilkan kepengurusan yang efektif dan efisien, maka Ilham, meminta agar sekretaris dan bendahara masing-masing menjadi dua orang.
Dan saat itulah, Ilham memilih aku untuk menjadi sekretaris kedua dan Himmah Rahmawati dari jurusan Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia sebagai bendahara.
Saat bertemu dengan dosen pembimbing lapangan, tiba-tiba Vini bilang kami harus mencari sekretaris yang lain lagi karena ia dipindahkan ke daerah Sumedang dengan beberapa alasan.
Maka dari itu, secara otomatis aku menjadi sekretaris dan dicarilah sekretaris baru yaitu Yulqi Azka Shiyami dari Pendidikan Teknik Agro Industri.
Oke, itu hanya beberapa hal mengenai struktur kepengurusan yang Alhamdulillah sudah fix.
Berlanjut ke packing barang-barang kelompok yang akan kami bawa ke Indramayu.
Setelah memutuskan kami akan mengumpulkan barang-barangnya di kosan aku dengan pertimbangan lebih dekat dari lokasi pemberangkatan, maka mereka semua datanglah ke kosan aku.
Ada Febi, Kiki, Yulqi, Himmah, dan tentu saja Pak Ketua, Ilham.
Selesai mengepak dan hanya tinggal aku berdua dengan ketuaku itu, dia tiba-tiba bertanya.
“Saya orangnya nyebelin ya?”
Aku sedikit tercenung mendengar pertanyaannya tetapi aku menggeleng mantap. “Enggak. Emang kenapa?”
“Kamu pikir saya nggak tau kalian menganggap saya orang yang menyebalkan. Iya, kan? Mereka menganggapnya gitu, kan?”
“Ah, enggak juga.”
“Kalau di mata kamu, bagaimana?”
“Biasa saja. Aku orangnya nggak mudah terpancing, Ham.”
“Oke, kita buktiin nanti. Saya bersikap nyebelin begini sengaja. Karena saya ingin nguji loyalitas mereka ke kelompok. Nanti selama di sana, lima hari pertama, juga akan saya diamkan. Saya biarkan mereka ingin melakukan apa. Kita lihat bagaimana sifat asli mereka. Kamu pun juga ada gilirannya. Jadi, kalau saya berubah jadi menyebalkan, bagaimana?”
Aku hanya mengangkat bahu. “Ya silahkan saja. Tidak akan berpengaruh apa-apa ke aku. Aku nggak akan mengeluhkan apa pun.”
Dia ketawa. “Yakin?”
Aku mengangguk pasti. “Iya. Dicoba saja. Paling aku cuma bisa nangis nanti.”
Nah, itu hanya sekelebat percakapan selama kemas-kemas.
Sedangkan saat hari kedua pelaksanaan KKN, dia benar-benar mulai berubah.
Dari yang awalnya cerewet dan ceria, langsung bersikap dingin dan tidak menegur kita semua kecuali memang ada hal yang perlu dibicarakan.
Nah, jelas hal tersebut memberikan efek samping padaku.
Aku merasa benar-benar depresi menghadapi sikapnya padaku, aku mencoba mencari pelarian ke mana-mana tetapi hasilnya nihil dan berujung dengan siksaan batin yang aku rasakan.
Semuanya aku tahan, aku pendam berhari-hari dan meluapkannya, seperti yang sudah aku bilang, hanya dengan menangis.
Entah sudah berapa kali aku menyendiri dan menangis kejer sambil menggigit baju untuk membungkam suaraku keluar.
Puncaknya adalah saat main kartu UNO, dan sungguh hal ini merupakan hal paling kekanak-kanakan yang pernah aku lakukan sepanjang hidup.
Ceritanya begini, petanding bersisa dua, aku dan Yulqi.
Ilham yang sudah menang pun memutuskan membantu Yulqi dan ia menyarankan untuk mengeluarkan kartu cermin, yang artinya pemain harus bertukar kartu yang dimiliki dengan lawan.
Sedangkan kartu ditanganku merupakan kartu yang sangat menguntungkan dan tinggal selangkah lagi menuju UNO Games.
Karena kesal itulah, aku langsung mengacak-acak kartu UNO yang ada dan nangis di tempat.
Bukan karena permainan UNOnya, tetapi mungkin karena sudah terlalu banyak hal yang aku pendam.
Seperti, salah satunya, merasa seperti tidak dianggap oleh Ilham sendiri.
Aku seperti butiran debu yang dapat terhempas angin kapan pun dia ingin meniup aku.
Aku jadi merasa benar-benar tersiksa dan ingin teriak sekencangnya.
Tak jarang aku melakukan hal-hal yang menunjukkan kalau aku itu ADA, tetapi olehnya dihempas lagi dan lagi sampai pada akhirnya, aku lelah.
Sungguh, aku merasa depresi, frustasi, lelah lahir dan batin, dan sebagainya sampai-sampai aku merasa terpuruk.
Jadi aku berusaha untuk membiarkan dia semaunya pada diriku.
Tapi aku berpikir, hal tersebut justru hanya akan merugikan diriku sendiri yang selalu merasa canggung dan tidak nyaman berada di sekitarnya sedangkan hari yang tersisa masih banyak untuk KKN ini.
Jadi, aku kembali gencar melakukan aksi apa pun kalau aku itu ADA dan dianggap olehnya.
Jika dia tidak bereaksi dan tidak ada perubahan?
Malam hari saat semuanya sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing, aku menyendiri di teras dan menangis.
Yah, apalagi yang bisa aku lakukan selain menangis?
Bicara padanya untuk menganggap kehadiranku sebagai sekretarisnya?
Menurutku itu sama sekali bukan suatu solusi penyelesaian masalah karena justru kami akan menjadi semakin canggung dan asing satu sama lain.
Jadi? Bagaimana?
Aku harap keadaan ini akan semakin membaik seiring dengan hari-hari yang sudah terlewati.
Aku harap aku bisa melewatkan, satu hari saja, tanpa air mata.
Karena aku sudah bertekad untuk menghidupkan hidupku di KKN ini.
Terlalu rugi rasanya hanya berfokus pada satu orang sedangkan masih ada 8 orang lainnya yang peduli padaku.
Seperti Kiki, Febi, Gadis, Yulqi, Himmah, Reza, Lutfi, dan Deni yang selalu menjadi sandaran hati setiap harinya selama 40 hari ini.
Keep proactive, Dina!
-d-
Minggu, 22 Juni 2014
Mimpi :)
“Apa yang orang bilang realistis, belum tentu sama dengan apa yang kita pikirin. Ujung-ujungnya kita tahu, mana diri kita sebenarnya, mana yang bukan diri kita. Kita juga tahu, apa yang pengin kita jalanin.”
Kata-kata yang paling membuat aku bereaksi dan benar-benar tercenung saat mendengarnya.
Ya, kata-kata Keenan pada Kugy di Perahu Kertas, sosok yang awalnya mencoba untuk bersikap realistis karena tidak percaya bahkan sama mimpinya sendiri, sampai akhirnya memperjuangkan mimpi itu mati-matian karena perkataan Keenan tadi.
Sedangkan aku? Apa sebenarnya impian terbesarku?
Kalau aku boleh jujur, aku ingin menjadi seorang penulis ternama dengan buku-buku aku berada di deretan best seller :)
Aku juga ingin menjadi seorang pendidik, ranah untukku dapat saling berbagi ilmu di bidang apa pun.
Sekali waktu aku pernah juga ingin menjadi seorang penyiar radio.
Dengan alasan yang sangat simpel, bahwa aku sangat ingin mendengar cerita dari banyak pendengar misterius, dan aku akan menjadikan cerita-cerita itu sebagai inspirasiku dalam menulis.
Ya intinya, sejauh apa pun aku berkelana, hal tersebut justru akan membawa aku kembali ke titik permulaan, yaitu menulis.
Tentu mood-ku dalam menulis sangat random, naik dan turun.
Karena jujur aku harus benar-benar menyamankan diriku sendiri untuk menjemput datangnya inspirasi.
Sekali waktu terkadang inspirasi tersebut yang dengan baik hati menghampiriku, memenuhi otak dan pikiranku hingga ingin meledak, dan saat itulah giliranku yang jadi kelabakan karena aku juga masih sulit untuk menguraikannya dalam bentuk permainan diksi.
Inspirasi tanpa diksi, apa jadinya? Bagai sayur tanpa garam.
Diksi tanpa inspirasi, apa gunanya? Bagai seonggok jiwa tak bernyawa.
Lantas, apa aku pernah berada dalam kondisi terpuruk-terpuruknya dalam menulis?
Jelas pernah, saat pertama kali aku mengirim naskah novelku dan langsung ditolak dengan banyak revisi.
Aku benar-benar shock, down, dan bahkan phobia dengan Ms. Words.
Efeknya benar-benar mengerikan, bukan?
Tapi aku kembali bangkit, karena seseorang, layaknya sosok Keenan dalam dunia dan mimpi Kugy.
Dia memang tidak menghiburku dengan kata-kata yang menenangkan, bisa dibilang dia tidak pandai untuk itu.
Tetapi dia membangkitkanku dengan terus menerus menanyakan perkembangan novelku, seolah ia akan membacanya setiap hari bagai asupan gizi untuk dirinya.
Ya, satu-satunya orang yang ada bahkan di saat terpurukku itu.
Membuatku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah berhenti untuk menulis.
Sejak itulah, sejak vakum cukup lama dari dunia tulis menulis, aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan jari-jariku mulai menari bebas di atas keyboard itu.
Aku juga mulai mencari info mengenai ajang lomba menulis, aku berpartisipasi mewakili kelasku dalam kompetisi bertema sastra, aku memberanikan dan menawarkan diriku menulis naskah drama tugas akhir Bahasa Indonesia, aku mulai blogwalking dan saling sharing dengan banyak orang, juga banyak hal lainnya.
Aku begitu menggebu-gebu dan begitu hidup hanya karena orang tersebut.
Orang tersebut membuatku percaya, segalanya mungkin, segalanya ada, segalanya terasa benar, jika terkait tentang dia.
Dia membuatku percaya, sama seperti Kugy yang percaya pada Keenan, bahwa bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.
Sampai kapan pun, aku berhutang budi padanya.
Ya, it’s him.
Tubagus Fadillah Setyabudi Leksana :')
-d-
Kata-kata yang paling membuat aku bereaksi dan benar-benar tercenung saat mendengarnya.
Ya, kata-kata Keenan pada Kugy di Perahu Kertas, sosok yang awalnya mencoba untuk bersikap realistis karena tidak percaya bahkan sama mimpinya sendiri, sampai akhirnya memperjuangkan mimpi itu mati-matian karena perkataan Keenan tadi.
Sedangkan aku? Apa sebenarnya impian terbesarku?
Kalau aku boleh jujur, aku ingin menjadi seorang penulis ternama dengan buku-buku aku berada di deretan best seller :)
Aku juga ingin menjadi seorang pendidik, ranah untukku dapat saling berbagi ilmu di bidang apa pun.
Sekali waktu aku pernah juga ingin menjadi seorang penyiar radio.
Dengan alasan yang sangat simpel, bahwa aku sangat ingin mendengar cerita dari banyak pendengar misterius, dan aku akan menjadikan cerita-cerita itu sebagai inspirasiku dalam menulis.
Ya intinya, sejauh apa pun aku berkelana, hal tersebut justru akan membawa aku kembali ke titik permulaan, yaitu menulis.
Tentu mood-ku dalam menulis sangat random, naik dan turun.
Karena jujur aku harus benar-benar menyamankan diriku sendiri untuk menjemput datangnya inspirasi.
Sekali waktu terkadang inspirasi tersebut yang dengan baik hati menghampiriku, memenuhi otak dan pikiranku hingga ingin meledak, dan saat itulah giliranku yang jadi kelabakan karena aku juga masih sulit untuk menguraikannya dalam bentuk permainan diksi.
Inspirasi tanpa diksi, apa jadinya? Bagai sayur tanpa garam.
Diksi tanpa inspirasi, apa gunanya? Bagai seonggok jiwa tak bernyawa.
Lantas, apa aku pernah berada dalam kondisi terpuruk-terpuruknya dalam menulis?
Jelas pernah, saat pertama kali aku mengirim naskah novelku dan langsung ditolak dengan banyak revisi.
Aku benar-benar shock, down, dan bahkan phobia dengan Ms. Words.
Efeknya benar-benar mengerikan, bukan?
Tapi aku kembali bangkit, karena seseorang, layaknya sosok Keenan dalam dunia dan mimpi Kugy.
Dia memang tidak menghiburku dengan kata-kata yang menenangkan, bisa dibilang dia tidak pandai untuk itu.
Tetapi dia membangkitkanku dengan terus menerus menanyakan perkembangan novelku, seolah ia akan membacanya setiap hari bagai asupan gizi untuk dirinya.
Ya, satu-satunya orang yang ada bahkan di saat terpurukku itu.
Membuatku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah berhenti untuk menulis.
Sejak itulah, sejak vakum cukup lama dari dunia tulis menulis, aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan jari-jariku mulai menari bebas di atas keyboard itu.
Aku juga mulai mencari info mengenai ajang lomba menulis, aku berpartisipasi mewakili kelasku dalam kompetisi bertema sastra, aku memberanikan dan menawarkan diriku menulis naskah drama tugas akhir Bahasa Indonesia, aku mulai blogwalking dan saling sharing dengan banyak orang, juga banyak hal lainnya.
Aku begitu menggebu-gebu dan begitu hidup hanya karena orang tersebut.
Orang tersebut membuatku percaya, segalanya mungkin, segalanya ada, segalanya terasa benar, jika terkait tentang dia.
Dia membuatku percaya, sama seperti Kugy yang percaya pada Keenan, bahwa bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.
Sampai kapan pun, aku berhutang budi padanya.
Ya, it’s him.
Tubagus Fadillah Setyabudi Leksana :')
-d-
Jumat, 20 Juni 2014
Arti Sebuah Nilai
Semester ini, mata kulih Fungsi Variabel Kompleks dan Seminar Pendidikan Matematika sangat mendominasi sehingga aku memutuskan mereka adalah bintang atau pemeran utama semester enam perkuliahan.
Sistem Geometri dan Pengantar Topologi merupakan mata kuliah yang aku paksa ambil di semester ini, karena targetku yang ingin prematur dari perkuliahan.
Tapi di sini aku perlu mengingatkan bahwa aku paksa ambil bukan berarti karena aku terpaksa ya hehe.
Jadi aku benar-benar, istilahnya, bertaruh di dua mata kuliah tersebut dan dapat dipastikan aku ikhlas lahir batin apa pun hasilnya nanti asalkan aku masih tergolong kriteria mahasiswa yang lulus mata kuliah tersebut.
Mata kuliah lain pun, seperti Kuliah Kerja Nyata, Perencanaan Pembelajaran Matematika dan Seminar Pedidikan Agama Islam, sama-sama memiliki peran dan bobot yang penting dalam menentukan nilai akhir semesterku ini.
Tapi anehnya, aku merasa ada yang salah dengan diriku.
Tidak biasanya aku sesantai ini dalam menunggu, menanti, kehadiran sang nilai untuk setiap mata kuliah di semester ini.
Kebetulan ada mata kuliah yang sudah keluar nilainya, yaitu Sistem Geometri dan Seminar Pendidikan Matematika.
Syukur alhamdulillah, kedua mata kuliah tersebut jauh di atas ekspektasi harapanku.
Semester-semester sebelumnya, mood-ku akan rusak dan hancur jika nilai yang keluar tidak sesuai dengan harapanku, A.
Bahkan saat dapat B pun, aku pernah menangis seharian dan tidak dapat berhenti memikirkannya.
Saat ini, aku justru menertawai sikap kekanakanku itu yang bisa dibilang, istilahnya, tidak pandai bersyukur, hehe.
Tapi entah kenapa sekarang aku sedang dalam kondisi lapang selapang lapangnya untuk menanti nilai-nilai berikutnya, apa pun hasilnya.
Entah tekanan apa yang aku dapatkan dulu sampai-sampai aku seperti tercekik jika nilai yang keluar tidak sesuai harapanku.
Ya, aku tidak mungkir bahwa aku masih mementingkan nilai yang aku dapatkan, walau aku tahu ilmu yang aku dapatkan jauh tak ternilai dan tak terhingga harganya jika aku mampu, tepat, dan benar dalam menyampaikannya.
Aku berprinsip, ilmu dan nilai sama-sama berharga di perkuliahan, jadi aku tidak boleh menyia-nyiakannya.
Maka dari itu, aku selalu tidak santai setiap kali memasuki fase menunggu nilai.
Berbeda dengan saat ini, rasanya hatiku pun selapang jalan tol Cipularang hehe.
Entahlah, mungkin memang seharusnya semakin ke sini aku harus semakin pandai untuk bersyukur.
Bahwa aku masih memiliki kesempatan untuk berbagi ilmu dengan siapa saja, baik itu untuk urusan akhirat atau pun dunia.
Bahwa semester ini dapat terlewati tanpa halangan suatu apa pun.
Atas segala nikmat-Mu Ya Allah Ya Robb, atas segala nikmat Islam dan Iman dari Engkau, hamba benar-benar berterima kasih untuk hidup ini :’)
Aku bahagia :D
-d-
Sistem Geometri dan Pengantar Topologi merupakan mata kuliah yang aku paksa ambil di semester ini, karena targetku yang ingin prematur dari perkuliahan.
Tapi di sini aku perlu mengingatkan bahwa aku paksa ambil bukan berarti karena aku terpaksa ya hehe.
Jadi aku benar-benar, istilahnya, bertaruh di dua mata kuliah tersebut dan dapat dipastikan aku ikhlas lahir batin apa pun hasilnya nanti asalkan aku masih tergolong kriteria mahasiswa yang lulus mata kuliah tersebut.
Mata kuliah lain pun, seperti Kuliah Kerja Nyata, Perencanaan Pembelajaran Matematika dan Seminar Pedidikan Agama Islam, sama-sama memiliki peran dan bobot yang penting dalam menentukan nilai akhir semesterku ini.
Tapi anehnya, aku merasa ada yang salah dengan diriku.
Tidak biasanya aku sesantai ini dalam menunggu, menanti, kehadiran sang nilai untuk setiap mata kuliah di semester ini.
Kebetulan ada mata kuliah yang sudah keluar nilainya, yaitu Sistem Geometri dan Seminar Pendidikan Matematika.
Syukur alhamdulillah, kedua mata kuliah tersebut jauh di atas ekspektasi harapanku.
Semester-semester sebelumnya, mood-ku akan rusak dan hancur jika nilai yang keluar tidak sesuai dengan harapanku, A.
Bahkan saat dapat B pun, aku pernah menangis seharian dan tidak dapat berhenti memikirkannya.
Saat ini, aku justru menertawai sikap kekanakanku itu yang bisa dibilang, istilahnya, tidak pandai bersyukur, hehe.
Tapi entah kenapa sekarang aku sedang dalam kondisi lapang selapang lapangnya untuk menanti nilai-nilai berikutnya, apa pun hasilnya.
Entah tekanan apa yang aku dapatkan dulu sampai-sampai aku seperti tercekik jika nilai yang keluar tidak sesuai harapanku.
Ya, aku tidak mungkir bahwa aku masih mementingkan nilai yang aku dapatkan, walau aku tahu ilmu yang aku dapatkan jauh tak ternilai dan tak terhingga harganya jika aku mampu, tepat, dan benar dalam menyampaikannya.
Aku berprinsip, ilmu dan nilai sama-sama berharga di perkuliahan, jadi aku tidak boleh menyia-nyiakannya.
Maka dari itu, aku selalu tidak santai setiap kali memasuki fase menunggu nilai.
Berbeda dengan saat ini, rasanya hatiku pun selapang jalan tol Cipularang hehe.
Entahlah, mungkin memang seharusnya semakin ke sini aku harus semakin pandai untuk bersyukur.
Bahwa aku masih memiliki kesempatan untuk berbagi ilmu dengan siapa saja, baik itu untuk urusan akhirat atau pun dunia.
Bahwa semester ini dapat terlewati tanpa halangan suatu apa pun.
Atas segala nikmat-Mu Ya Allah Ya Robb, atas segala nikmat Islam dan Iman dari Engkau, hamba benar-benar berterima kasih untuk hidup ini :’)
Aku bahagia :D
-d-
Langganan:
Postingan (Atom)
