Bismillahirrohmanirrohiim

Bismillahirrohmaanirrohiim
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Sabtu, 21 Desember 2013

Bandung Lautan Jakarta :D

Bandung.
Sungguh, sejujurnya tidak ada yang salah dengan kota ini.
Sejuknya menawan hati, rindangnya mendamaikan pikiran, hijaunya pun menyehatkan penglihatan sejauh mata memandang.
Tapi entah kenapa, sudah dua tahun tinggal di kota ini, aku tidak bisa ‘kerasan’ di sini.
Aku memang pernah mengatakan, Bandung is growing on me.
Dan tahu kapan aku mengatakannya?
Sesaat setelah aku pulang dari Jakarta, di mana kondisi apa pun pasti tersembuhkan, terobati, jika sudah dari sana.
Mulai dari kepenatan, kerinduan, kecanduan, bahkan kepekatan.
Jakarta membuat aku menjadi baru saat kembali lagi ke Bandung.
Jadi kondisi dan suasana hati, otak, serta pikiran pun masih netral dan sejernih air.
Lambat laun, aku baru menyadari satu hal.
Bukan Bandung yang salah.
Bukan lingkungan dan sistem kampus yang bermasalah.
Justru pusat dari segala ketidakbetahan ini dibuat oleh diriku sendiri.
Mungkin karena memang aku tidak ingin beradaptasi dan beramah tamah dengan lingkungan di sini.
Dengan kata lain, usahaku belum maksimal untuk membuka hati dengan lingkungan di sini.
Sekarang aku mengerti apa yang sering orang-orang sebut sebagai zona nyaman.
Zona nyamanku adalah Jakarta beserta kepingan-kepingan kenangan dengan orang-orang di dalamnya.
Baik itu orang-orang dari masa lalu, saat ini, atau mungkin masa depan.
Dan seharusnya aku bertahan saat aku mulai keluar dari zona itu untuk menjadi pribadi yang lebih hidup.
Setidaknya dengan begitu, aku bisa melihat kehidupan Jakarta dari luar daerah itu sendiri.
Karena aku akan mengupayakan apa pun, aku akan berusaha sekeras mungkin, untuk tetap kembali ke sana dengan meninggalkan jejak baik dan bersahabat terhadap Bandung.
Aku tahu aku akan menyesal jika tidak memberikan kesempatan bagi Bandung dan isinya untuk sedikit saja menempati hatiku.
Namun, aku sudah mengetahui resikonya, aku siap untuk itu, aku siap untuk menyesal.
Maka, aku membiarkan Bandung sendiri yang perlahan membuka hatiku dan bersedia menyediakan ruang.
Aku masih memiliki kesempatan, dan aku akan berusaha sekeras mungkin menyatukan hatiku dengan kota ini beserta isinya.
Aku tidak akan menyerah, karena aku percaya aku memiliki kepribadian di atas rata-rata sehingga hal tersebut bukanlah hal yang tidak mungkin.
Sehingga Bandung dan Jakarta benar-benar sama hidupnya dalam hatiku.
-d-

Badai Pasti Berlalu :)

Minggu ini merupakan minggu yang cukup hectic bagiku.
Dua minggu yang lalu pun sama hectic-nya seperti minggu ini.
Menantang dan melelahkan, kalau aku boleh jujur.
Karena biasanya pulang ke kosan sebelum pukul enam sore, sedangkan dua minggu lalu tiada hari tanpa pulang ke kosan setelah pukul delapan malam.
Tetapi, minggu hectic itu pun terlewati dengan sukses tanpa kekurangan suatu apa pun.
Maka aku percaya minggu ini pasti akan terlewati juga.
Terbukti dengan adanya postingan ini, di mana aku sedang hibernasi seharian di kosan tanpa melangkahkan kaki ke mana pun selain membeli makanan.
Dua minggu lalu, aku sebut menantang karena aku, untuk pertama dan terakhir kalinya dalam hidupku, membolos salah satu praktikum mata kuliah dan datang ke perkuliahan hanya untuk mengisi absen saja.
Ya mungkin aku berani karena bukan hanya aku yang seperti itu :D
Dua minggu lalu, kami, aku dan teman-teman sekelasku, berkutat di bengkel media pembelajaran untuk membuat alat peraga manual.
Penjelasan lebih lanjut, silahkan mengunjungi blog salah satu korban seperjuanganku untuk melihat kecaprukannya :D
Seperti hari ini, setelah minggu itu terlewati, di weekend aku sama sekali tidak menginjakkan kakiku ke mana pun selain membeli makanan.
Di sini, aku akan menjelaskan alasan mengapa minggu ini pun aku jadikan minggu yang hectic.
Pertama, dua minggu yang lalu juga, dengan asumsi ini merupakan sebuah kabar yang sangat baik, seorang dosen salah satu mata kuliah memberikan kami kesempatan untuk ‘menabung nilai.’
Menabung nilai di sini tentu mempunyai definisi tersendiri, di mana kami para mahasiswa yang mengontrak mata kuliahnya, diberi kesempatan untuk mengikuti ujian sebelum tanggal Ujian Akhir Semester yang sesungguhnya.
Selain ujian, kami pun diberi tugas yang mesti kudu harus wajib dikumpulkan paling lambat sebelum ujian ‘menabung nilai’ ini dimulai, yaitu tanggal 20 Desember 2013.
Sebut saja mata kuliahnya Geometri Transformasi, di mana kami harus berkutat dengan garis sejajar, garis tegak lurus, vektor, sudut, dan properti pelengkap lainnya yang cukup menguras otak untuk menyatupadukan mereka menjadi sebuah konstruksi transformasi yang diinginkan.
Kemudian, di mata kuliah lainnya, sebut saja Analisis Real, dosen yang diyakini sebagai ‘Malaikat Tanpa Sayap’ minggu lalu saat kuis tiba-tiba lupa untuk membawa soal Ujian Akhir Semester kami yang notabene memang didedikasikan sebagai ujian take home.
Alhasil, kami baru diberikan soal dan materi tambahan hari Rabu kemarin tanggal 18 Desember 2013 sedangkan deadline yang diberikan sama seperti deadline awal, yaitu 20 Desember 2013.
Tentu mata kuliah lain pun tidak ingin kalah untuk dapat berpartisipasi memeriahkan ke-hectic-an minggu ini.
Mata kuliah PLSBT juga diputuskan untuk mengadakan UAS hanya dengan observasi ke tempat-tempat kontroversi seperti tempat pembuatan tato, rehabilitasi narkoba atau HIV/AIDS, diskotik, dan lain sebagainya.
Kapan dikumpulnya? Tak lain dan tak bukan 20 Desember 2013, Pemirsah.
Mata kuliah media pembelajaran pun, lagi dan lagi, masih menginginkan perhatian dari kami semua bagi yang belum melakukan finishing touch agar dapat dinilai mempunyai harga jual yang tinggi.
Aku dituntut untuk semakin piawai membuat jadwal dan membuat to-do-list.
Sambil mengatur napas perlahan untuk menenangkan diri, tersusunlah jadwal dan to-do-list yang juga merupakan hasil diskusi antara beberapa teman satu kelompok.
Puncak hectic minggu ini adalah Kamis, sesaat sebelum esoknya ujian dan deadline mengumpulkan UAS yang take home.
Karena tidak kuat lagi, aku meletakkan pensilku, melepas kacamataku, dan aku mendengar suara isakanku sendiri yang lama kelamaan semakin kencang seiring dengan bertambah sesaknya dadaku.
My head is going to explode, batinku.
Sampai akhirnya, seorang sahabat SMA anggota Paskibra Angkatan 21, one of My Precious yang memberikanku pelajaran mengenai kehidupan dan membuatku percaya karena bukti nyata yang dia tunjukkan di hadapanku bahwa bumi ini berputar, sebut saja namanya Muhammad Irfan Zidni, bertanya ‘Kenapa?’ padaku.
Aku langsung menceritakan semua kondisi yang sedang aku hadapi tanpa adanya sedikit pun tabir, termasuk kondisi yang aku hadapi saat aku semester tiga dulu, membuatku semakin tidak dewasa sama sekali.
Aku mengaku padanya bahwa aku butuh banyak tips, saran dan nasihat agar aku tidak mudah goyah, karena aku tidak sekuat Della, aku tidak semandiri Rahma, aku tidak sedewasa Siti, dan aku tidak setangguh Aini yang mampu bertahan di segala kondisi.
Dan dia dapat menenangkan aku hanya dengan kurang lebih berkata:

Face it, Honey :) Jangan mau kalah sama keadaan apa pun. Ingat sama Mama, ya? :) ({}) Jalan kamu sebentar lagi, Din. Ibaratnya, sudah tinggal 5 meter lagi mencapai garis finish. Kamu harus kuat, harus bisa menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai, ingat berapa banyak pengorbanan yang sudah kamu terima, jangan biarkan angin-angin itu memadamkan lilin semangat kamu :) Tidak ada yang menuntut kamu untuk jadi seperti Della, Rahma, Siti, dan Aini. Kita semua punya kekuatan dan keunikan masing-masing :) Seseorang bisa saja terlihat kuat dari luar, tapi kita tidak tahu, di balik kekuatan itu mungkin dia menyembunyikan kelemahan terbesarnya. Begitu juga sebaliknya :) Keep smile ya :)

Sungguh aku benar-benar langsung tersenyum mendengar nasihatnya.
Karena yang aku butuhkan bukan sebuah dorongan atau asupan semangat yang secara gamblang diucapkan.
Aku membutuhkan orang yang bersedia menyejajarkan matanya dengan mataku, kemudian bicara seolah ia merengkuh bahuku.
Dan orang-orang itu adalah orang-orang yang entah kenapa hanya bisa aku temukan di Jakarta.
Orang-orang yang mengerti bagaimana cara paling anggun dan tepat untuk bicara di berbagai situasi dan kondisi yang aku hadapi.
Orang-orang yang akan menyambutku jika aku mencapai puncak, tetapi juga orang-orang yang siap membangunkan aku saat aku terjatuh, di mana mereka pun sedang mendaki bersamaku.
Mulai dari Ibuku, keluarga ArFat-ku, dan Angkatan 21-ku.
Bukan orang-orang yang bisa dan biasa aku temukan di Bandung, yang notabene juga sedang mengalami ruang, masa, kesulitan, dan keresahan sepertiku.
Dan, minggu ini pun pada akhirnya berlalu, badai pun pasti berlalu, bukan?
Hal ini membuatku belajar untuk semakin siap dan percaya diri menghadapi hari-hari esok menyambut sinar mentari pagi :)))
Fabiayyi alaai Rabbi kuma tukadzdzibaan?
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Fa inna ma’al usri yusraan, inna ma’al usri yusraan.
Sesungguhnya di balik kesukaran, ada kemudahan. Di balik kesukaran, ada kemudahan.

-d-

Kamis, 28 November 2013

Penyegaran Diri :D

Ceritanya, hari ini dapet beberapa hal menarik yang menambah warna dalam hariku.

Kejadian pertama.
Saat mata pelajaran Kapita Selekta Matematika II.
“Dina, kamu bawa BSE yang tentang materi Turunan nggak?” tanya Dini.
Iseng, aku menekuk wajahku, menjawab tanpa senyum dan dingin.
“Enggak. Memang kenapa? Kamu mau ngapain sih, Din? Mau tanya apa?” nada bicaraku datar, tapi sikap dan gesturku jauh dari kata ramah.
“Biasa aja kali mukanya, Din. Seyum coba.” Mpit yang ada di hadapanku menyeletuk, bukti nyata bahwa sedari tadi dia memperhatikan dengan seksama.
“Gitu ya?” Aku tertawa dan memasang wajah yang aku harap semanis mungkin lalu menatap Dini.
“Memang kenapa, Din? Mau tanya apa?” Aku kembali bertanya dengan nada dan gestur, bahkan raut wajah yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.
Dini dan Mpit tertawa bersamaan. “Nah, gitu kan enak dilihatnya!” seru Dini.

Kejadian Kedua.
Sesaat setelah pelajaran Kapita Selekta Matematika II berakhir.
Aku menghampiri sosok pria yang duduk di pojok belakang.
“Teh Dina, masa power bank-nya nggak masuk ke hp aku. Jadi aku pakai kabel datanya aja, pasang di laptop Parlin.” Aku disambut hangat dengan suara khas melayu milik Faridhul.
“Ah, masa? Coba sini aku lihat.”
Dia menyerahkan power bank dan hp-nya padaku, memperhatikan setiap gerak-gerikku.
“Iya, kan? Bener, kan? Nggak masuk.”
Aku mengangkat wajah untuk menatap matanya dan nyengir. “Iya, tadi sebentar doang masuknya. Terus nggak bisa lagi. Tapi di hp aku bisa. Nih,” Aku menunjukkan layar ponselku padanya dan dia langsung keheranan, mungkin bertanya-tanya apa yang salah dengan hp-nya.
“Sebenarnya, power bank itu nggak bagus buat hp kita tahu.” Mpit yang notabene ada di sampingku ikut angkat suara. “Karena bukan sumber utama. Sama kayak kalau hp kita merek BB, tapi kita pakai charger Samsung, itu juga bakal ngerusak.”
Aku dan Faridh langsung ber-Oh ria :D
Kemudian aku mulai meneliti suasana sekitarku, dan aku merasa saat ini merupakan momen yang pas untuk bicara dengan Faridh.
Akhirnya, aku tarik tas Faridh keluar kelas, Mpit yang memperhatikan kami langsung berseru padaku.
“Mau ke mana, Hey? Idul kan nggak ngontrak GeoTrans.”
Faridh juga hanya mengikuti dan rautnya penuh tanya. “Mende, ha?” tanya dia saat aku masih belum juga melepaskan tasnya.
“Aku harus ngomong sama kamu.”
“Ngomong apa? Ngomong lah.”
“Tapi aku takut.”
Dia memasang wajah sok serius. “Memang aku makan kamu? Apa kamu mau aku makan?”
Aku hanya memainkan jemari untuk menutupi kegugupanku. Faridh tersenyum dan menungguku bicara.
“Aku mimpi.” Aku memberanikan diri memulai.
“Mimpi apa?” tanya dia dengan gestur dan nada yang sabar.
“Aku mimpi kamu benci sama aku. Makanya sikap aku beberapa hari ini aneh ke kamu. Aku takut.”
Dia menahan tawa dan membalikan badannya. “Iya, aku benci sama kamu.”
Belum juga pembicaraan kami mencapai tuntas, Ira menghampiri kami dan bicara dengan Faridh mengenai presentasi. Kemudian datang Alfian dan Mpit yang ingin menukar uang padaku.
“Alfian, kau benci kan dengan Teh Dina?” tanya Idul dari belakangku pada Alfian.
Aku hanya nyengir dan bingung bagaimana melanjutkan pembicaraan ini. Maka aku mulai mengobrol dengan Mpit sampai akhirnya Faridh pergi dengan Alfian.
“Kami duluan ya,” Pamit mereka padaku dan Mpit.
Aku menghela napas, tidak tahu kapan bisa melanjutkan pembicaraan ini, fiuhh.

Kemudian kejadian ketiga, yang juga kejadian terakhir.
Sesaat sebelum pergi ke SMAN 3 Bandung, di depan ruang dosen Media Pembelajaran.
“Dina tuh ya, kalau marah ciri-cirinya nggak ada senyumnya sama sekali.” Komentar Dini.
“Iya betul. Kayak kemarin, dateng-dateng ke asrama ngebuat aku berspekulasi macem-macem. Ini anak marah atau kenapa? Makanya tadi pagi aku tegur aja.”
Aku tertawa seiring dengan komentar mereka tentangku, lumayan untuk dijadikan bahan evaluasi diri :D
“Tadi ya, pas kamu nanya pakai senyum, sumpah enak banget ngeliatnya, ke hati juga adem.”
Entah ini komentar jujur dan tulus seorang Dini atau memang dia sedang memberikan sugesti untukku agar selalu tersenyum.
“Kenapa? Kalau aku kayak begitu, kalian rasanya mau nonjok aku ya?” tanyaku tersenyum lebar dan sangat ingin tahu.
“Ya enggak sih. Aku kan udah biasa ngeliatnya. Tapi kalau orang baru? Kesel lah kalau berhadapan sama kamu yang kayak gitu.”
Nah, yang di atas tadi komentar Mpit, dan aku menerimanya dengan sangat lapang dada :D


Jadi intinya, aku beranggapan, setiap hari merupakan suatu kesempatan bagiku, bagi siapa pun, untuk menjadikan diri lebih baik dari sebelumnya.
Menjadi baru merupakan salah satu bentuk penyegaran diri.
Aku pun baru menyadari hal ini siang tadi.
Aku senang dikelilingi oleh orang-orang yang berani mengeluarkan pendapatnya mengenai aku.
Karena aku sudah terbiasa dengan kultur itu sejak SMA.
Dan juga, aku bukan tipe orang yang tidak mau dengar.
Bukan berarti aku tidak bisa menjadi diriku sendiri.
Tapi untuk menjadikan diri lebih baik, kenapa tidak? :)
-d-

Senin, 25 November 2013

Berawal Dari Sebuah Mimpi

"Muhammad Faridhul Akbar."
"Mbehal?"
". . ."



Begitu banyak hal yang tiba-tiba terpikirkan pagi ini.
Memimpikan orang yang dekat dengan kita berujung dengan membenci kita cukup untuk memberi label nightmare pada mimpiku.
Dulu, bahkan terkadang mimpi tersebut masih suka menghinggapi,
Aku memimpikan pemegang hatiku sejak delapan tahun lalu itu membenciku.
Aku menyuarakan apa yang ada dipiranku.
Aku bertanya tanpa tedeng aling-aling padanya, "Apa kamu membenciku?"
Dia hanya merespon dengan membercandai aku dan berakhir dengan suasana hatiku yang membaik karena polahnya.
Kali ini, malamku dihinggapi mimpi yang sama.
Sudah dua malam berturut-turut.
Hanya saja aku memimpikan Faridh yang membenci aku.
Maka dari itu sejak pagi aku begitu takut menatap wajah apalagi matanya.
Aku tidak ingin melakukan hal-hal yang tanpa aku sadari membuat dia membenciku seperti di mimpi itu.
Karena bagiku, mengetahui ada seseorang yang membenciku merupakan hal yang tidak mudah, aku harus mencari cara agar orang tersebut tak lagi mempunyai rasa benci itu terhadapku.
Dulu Faridh memang pernah berjanji, apa pun yang terjadi antara kami, tidak akan membuat dia berujung dengan membenciku.
Aku yang membuatnya berjanji seperti itu.
Walau aku menemukan keseriusan saat dia berjanji, aku masih dihinggapi rasa takut dan aku butuh memastikan sekali lagi setelah datangnya mimpi ini.
Maka aku ingin tahu apa dia masih ingat dengan janjinya dulu.
Banyak kata-kata yang sudah aku rangkum untuk dibicarakan dengannya.
Tetapi saat aku hendak bicara, keberanian dalam diriku menghilang dan menciut entah ke mana.
Saat aku berhadapan dengannya pun, mulutku terkunci rapat-rapat untuk menahanku bicara selain apa yang memang perlu dibicarakan dengannya.
Bahkan saat dia mulai membercandai aku dengan mengukur tinggi badanku menggunakan rentangan tangannya, berusaha untuk mencairkan suasana.
Ya mungkin aku memang tidak diberikan kesempatan bicara mengenai mimpiku ini dengannya.
Karena memang bukan sesuatu yang penting untuk dibicarakan dan bukanlah sesuatu yang penting untuk dikhawatirkan.
Mengingat dia sudah berjanji padaku . . .

NB : Oh ya, ngomong-ngomong siapa itu Muhammad Faridhul Akbar a.k.a Faridh atau Idhul?
Ladies and gentlemen, please welcome a friend of mine, my classmate in college, the most handsome island boys, and the best guy of this world have ever had.

-d-

Kamis, 21 November 2013

Moes Sore Hari

Saat baru saja menapaki Gang Darmawinata karena ingin langsung pulang, tiba-tiba aku mendapat pesan dari seorang teman, anggap namanya Ehom.
"dmn na?"
Tanpa berpikir, aku balik belakang dan kembali ke kampusku yang terjangkau hanya dalam beberapa langkah itu.
"Di depan JICA hooom. Hehe."
Tak lama ponselku bergetar lagi. "tungguuu."
Aku pun terduduk dan memijit-mijit kakiku yang habis menjadi korban diriku sendiri, entah kenapa tidak ada angin tidak ada hujan, terkilir karena terjatuh dari tangga.
Untungnya Ehom tidak membiarkanku menunggu lama.
"Moes, yuk."
Aku hanya mengangguk dan berjalanlah kami ke warung yang menyediakan rendang, soto, kari, dan ayam bawang dalam bentuk mie itu.
Makanan favorit dan menjadi satu-satunya makanan mahasiswa di akhir bulan.
Singkat cerita kami memesan dua mie goreng telur, dimulailah percakapan random, yang kalau dulu dibicarakan akan langsung membuatku berpikir dan bertindak gegabah, sedangkan sekarang bagiku cukup hanya dengan menghela napas.
Karena bagiku, oknum yang jadi bahan pembicaraan kita bukanlah siapa-siapa, bukanlah apa-apa.
Sekali waktu aku bilang ke Ehom di suatu lorong bernama Geometri Transformasi.
"Kamu kemarin bilang, itu caranya dia untuk membuat aku netral. Dengan menjauhi dan sama sekali tidak bicara denganku. Dan pada akhirnya dia akan kembali saat aku benar-benar sudah netral seperti saat ini. Makanya dia mulai berani bicara padaku lagi. Begitu kan pendapatmu? Tapi menurutku, diamnya dan menjauhnya dia dari aku bukan untuk menunggu aku netral, tapi untuk membuat aku justru jadi segan mau bicara sama dia. Dia yang sudah membuat aku jadi malas berbincang dengannya."
Itu yang kurang lebih terucap atau mungkin yang ingin aku sampaikan ke Ehom.
Aku yakin teman-temanku mengerti betapa tersiksanya aku, betapa benar-benar tersudutkannya aku, saat mereka bisa bercanda tawa dengannya tetapi aku benar-benar kasat mata di hadapannya.
Jujur masa-masa saat dia mulai beraksi tidak jelas dan bertingkah seenaknya merupakan masa-masa yang sulit bagiku.
Karena hidup dengan beranggapan atau berspkulasi ada orang yang membenciku tidaklah mudah.
Aku selalu bertanya-tanya, sebenci apakah dia sama aku?
Kesalahan apa yang aku perbuat padanya? Sampai-sampai dia bersikap seolah aku ini semut yang bisa terinjak kapan saja.
Dulu aku selalu berharap, akan jauh lebih baik setidaknya, kalau dia meluapkan amarahnya padaku sehingga tidak meninggalkan jejak luka apa pun di hati kami.
Saat itu, satu alasan kenapa aku bertahan, teman-temanku sama sekali tidak meninggalkan aku.
Kemudian, seiring dengan berkurangnya frekuensi dia memunculkan wajah di hadapanku, aku menjadi semakin ringan melangkah, merasa matahari mulai menyinari dan menghangati hari-hariku.
Tetapi seperti siang lalu, setelah melewatkan banyak perkuliahan, akhirnya dia muncul kembali.
Awalnya melihat dia, aku lega.
Tapi lama kelamaan emosi menggerogoti diriku.
Ini dia maksudnya apa? Kenapa? Kok bisa?
Segala pertanyaan yang tidak mungkin dan tidak butuh terjawab membuatku sama sekali tidak bisa berpikir dan benar-benar ingin meninjunya, menendang perutnya, meneriakinya, membenturkan kepalanya ke tembok, atau apapun yang bisa melampiaskan emosiku padanya.
Tapi aku sadar, aku sudah bertekad tidak akan pernah melakukan hal yang tidak ber-etika dan tidak elegan seperti itu.
Jadi seperti yang aku bilang sebelumnya, saat ini menghela napas sudah lebih dari cukup bagiku terkait dia untuk membuatku terhindar dari perbuatan-perbuatan tadi.
Bahkan kalau bisa, aku tidak ingin mengenalnya, walau hanya namanya saja sekali-pun.
Entah apa ini artinya. Bencikah, kecewakah, aku tidak mengerti.
Yang jelas, orang seperti dia tidak pantas ada dalam ingatanku.
Sarkastis memang, tetapi dia yang sudah membuatku jadi seperti ini.
Ya, sesimpel itu, yang membuat hari-hariku selama ini kembali tersiram sinar mentari, seperti matahari yang mengikuti langkahku dan Ehom sekeluarnya dari Moes ini.
-d-

Jumat, 18 Oktober 2013

Hujan di Pelupuk Senja :)

Beberapa hari ini hujan tidak ingin kehilangan eksistensinya dalam peradaban manusia, khususnya manusia Bandung.
Aku tidak mengerti kenapa beberapa orang menyukai hujan.
Dan apa yang terjadi di tengah hujan, identik dengan keromantisan.
Entah itu bahkan hanya menunggu di tempat teduh yang sama saat hujan dan berujung pada perasaan, macam ftv saja.
Aku termasuk salah satu orang yang minoritas karena tidak terlalu menyukai hujan.
Kalau kata Bella Swan dalam film Twilight,
"I don't really like the rain, any cold, or wet things."
Ya kira-kira seperti itulah gambaran aku mengenai hujan di samping alasan takutnya aku terhadap petir.
Walau ada beberapa kisah menarikku, terutama di saat masa kecil, yang mengikutsertakan hujan untuk memberikan kenangan pada memorinya.
Bagiku, dengan adanya hujan, aku kehilangan kesempatan untuk menikmati hadirnya senja.
Jingganya yang mendominasi membuatku merasa damai hingga sukma.
Alasanku menyukai senja adalah senyumannya.
Kami sering bertukar senyum saat senja menampakkan wujudnya.
Berbagi tawa dan kisah yang jauh lebih menyegarkan dari guyuran hujan.
Menikmati hilangnya matahari yang malu-malu ke permukaan seolah begitu merindukan senjanya.
Membuatku merasa, apa aku bisa menjauh dari sosok ini yang bahkan aku tak tahu kapan aku bisa menggenggam hatinya.
Membuatku merasa, apa cinta ini akan ada habisnya?
Sosoknya ibarat candu bagiku, satu-satunya heroin yang paling dan sangat berpengaruh saat malam dan siangku.
Penantian ini, akankah berakhir?
Aku merasa benar-benar jatuh terlalu dalam cintanya.
Sampai-sampai aku merasa yakin.
Dari dunia atau dimensi mana pun,
Seribu tahun atau sejuta tahun lagi pun aku baru dipertemukan dengannya,
Aku akan tetap dan selalu mencintai dia tanpa syarat.

-d-

Kebudayaan dan Peradaban

Banyak yang menginginkan untuk menjadi berguna bagi orang-orang atau lingkungan sekitarnya.
Tapi, untuk menjadi pribadi yang terintegritas, janganlah terlalu naif dalam menilai pandangan tersebut.
Karena tukang sapu pun sangat berguna bagi orang-orang dan lingkungan sekitarnya.
Dengan kata lain, jika dipandang dari segala aspek, semua pekerjaan atau profesi, apa pun itu,
Akan memberikan kepuasan tersendiri bagi masing-masing individu dan akan sama terhormatnya di mata Alloh SWT jika diiringi dengan sabar dan syukur.
Jadi yang membedakan memang kualitas dari masing-masing manusianya.
Tadi di kelas ada perbincangan mengenai keterpaduan antara etika, estetika, dan moral dalam suatu individu.
Menurutku sendiri, ketiganya memang berkaitan erat satu sama lain ya.
Dari kecil, setiap individu pasti sudah ditanamkan etika dalam bersikap dan bertingkah laku.
Baik itu berlandaskan religi, hukum, budaya, norma, atau nilai.
Seiring dengan berjalanya waktu, dengan sudah mengertinya kita akan fungsi dari etika-etika tersebut, kita mulai tertantang atau merasa dituntut untuk bersikap dengan anggun dan indah.
Itulah yang kita kenal dengan estetika.
Sebagai gambaran, kita tahu menolong orang yang kesusahan merupakan suatu etika yang baik.
Tetapi dengan estetika, kita jadi mengerti bagaimana cara menolong orang yang kesusahan dengan benar, sesuai pada tempatnya, sesuai dengan siapa lawan bicara kita, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, juga dipandang dari sisi lain yang masuk akal atau rasional.
Kemudian moral itu sendiri yang pada akhirnya membatasi segala sikap dan tingkah laku kita.
Titik pusat di mana kita akan memilih apa mau menjadi individu yang terintegrasi, bahasa kasarnya ‘beradab’, atau justru menjadi individu yang dengan segala etika dan keanggunannya justru melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku.
Jadi tiga hal tadi memang sangat berkaitan erat satu sama lain untuk memunculkan suatu kebudayaan dan peradaban di tengah-tengah individu.
Kemudian saat perkuliahan tadi ada salah satu teman bertanya,
Apakah cinta merupakan suatu kebudayaan? Lalu bagaimana dengan pengkhianatan?
Bukannya bermaksud ingin menyaingi para sastrawan dan para pujangga,
Juga sama sekali tidak bermaksud merasa lebih tahu dari pakar-pakar cinta yang sekarang sedang eksis.
Tapi menurutku, cinta itu bukan suatu kebudayaan.
Walau kebudayaan memang muncul dari adanya kebiasaan-kebiasaan,
Dan cinta yang memang muncul karena adanya intensitas waktu bersama tidaklah sedikit.
Coba kalau kita pandang dari sisi bagaimana dua hal tersebut bisa muncul.
Untuk menjadi sebuah kebudayaan, jelas suatu kebiasaan tidak melalui proses yang instan.
Kita tidak bisa memilih kebiasaan secara asal untuk dijadikan sebuah kebudayaan karena hanya akan berujung pada kehancuran.
Walau memang masih terkenal sebagai sesuatu yang subjektif, kebudayaan di sini jelas bukan hanya milik satu individu, tetapi milik sekumpulan individu yang memiliki sudut pandang, tujuan, ide atau gagasan yang sama.
Sedangkan kalau cinta, dia tidak pernah sudi memberi tahu ke mana arah dan tujuannya.
Tidak ada kata lain yang dapat mendeskripsikan selain takdir dan fitrah perihal cinta ini.
Karena menurutku, salah satu alasan mengapa individu memiliki keinginan untuk bertahan adalah cinta.
Cinta pada Sang Pencipta, pada orang tua yang telah membesarkannya, atau bahkan pada lawan jenis yang akan menjadi teman hidup sampai akhir hayatnya.
Dan cinta juga identik dengan sensasinya yang tidak unik dan beragam.
Akan berdampak positif jika cinta yang dimiliki oleh seorang individu sejalan dengan pilihannya.
Tetapi kalau cinta tersebut justru berlawanan dengan apa yang diharapkan?
Seolah hal tersebut bahkan dapat membangunkan monster yang sudah lama tidur dalam diri individu tersebut.
Jadi, cinta dan kebudayaan jelas merupakan hal yang berbeda.
Bagaimana dengan pengkhianatan?
Jelas merupakan hal yang menyakitkan ya.
Hanya keikhlasan obat paling ampuh sebagai penangkalnya.
Tentu hal tersebut bukan hal yang mudah, tetapi bukan juga tidak mungkin :D
Nah, itulah sepenggal pendapat dari jiwa melankolis ini.
Yang tertarik dengan berbagai kebudayaan yang beragam dan berbeda-beda.
Karena perbedaan itulah yang memunculkan peradaban ^^
-d-