Bismillahirrohmanirrohiim

Bismillahirrohmaanirrohiim
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Minggu, 28 Februari 2016

Manusia Tanpa Jiwa

Kenapa aku senekat ini ya?
Apa aku menyerah saja?
Menjadi seorang pendidik, khususnya guru.
Rasanya pekerjaan itu tak pantas untukku.
Buktinya, tidak ada yang mengatakan bahwa aku mengambil keputusan yang benar, satu orang pun, sejak pertama kali aku menjadi guru.
Sebaliknya, banyak yang bilang aku salah ambil langkah.
Tetapi yang lebih menyesakkan, aku pun tidak diberikan ruang untuk melakukan apa yang aku inginkan.
Memang sangat tidak dewasa sih, hanya saja pasti akan lebih lega bernafas jika ada satu orang saja yang ... ah sudahlah.
Jadi sekarang, aku menjelma menjadi makhluk paling dibenci sedunia, menjadi seonggok manusia tanpa jiwa.
-d-

Sabtu, 02 Januari 2016

Angel.


I always wonder, how could an angel breaks my heart?
And yes, he is my angel.
The one who always inspired me that I mentioned before.
-d-

20 Facts of Me :D

1. I’m an only child.
2. My dad come from Batak, my mom come from Jakarta. Yes, I’m a half blood, heuheu.
3. One and only cartoon character which I love the most is Hinata. Because someone told me that me and her is look alike, but I don't know how dominant that part might be heuheu.
4. Besides writing, I also love dancing though my body is not as flexible as Kpop group.
5. And yes, I’m into Korean so much. From the Kpop, dramas, reality shows, fashion, culture, language, food. But not for the history and politics.
6. My ultimate role model is SNSD Taeyeon, the leader of the group. After my mom, I think she is the strongest woman in the world, and I guess her personality is very unique.
7. I want a proper Korean Language course.
8. My major in college was mathematics education because I have a specific interest in lecturing with learning by doing.
9. For gadgets, I prefer white to purple as the main colour. But for dress, shoes, utensils, et cetera, I love purple the most of course. I’m a girl who loves purple!
10. I'm a biggest fan of Sitta Karina.
11. If I have to choose one from seven disney princess, I will resemble myself as Ariel, haha.
12. Many people said that I’m not good in singing, they always say the tone that come out from my voice is FLAT -_-
13. Since I was very young, I love to read, novel and magazine especially. From that hobby, I start to write out my imagination.
14. My favourite taste: chocolate hazelnut.
15. My favourite movie genre: romance, science fictions. Big no for actions and horror.
16. My everlasting number one favourite song: Iris from Goo Goo Dols.
17. My worst habbit: I rarely check my phone because I prefer to interact directly with people, so it may takes a long time for me to reply both messages and chat.
18. I’m not into horoscope, at all. So, it doesn’t make sense for me to judge people’s personality or attitude generally from zodiak.
19. My blood type: O. And yes, I also refuse if someone’s characters are evaluated by this kind of things.
20. I hate whiny people who always complain about his/her life. Please stop complaining! Life is just once, just keep moving forward to be the best version of yourself, keep proactive, and don’t forget to enjoy and relax every single time of your life.

And here, I challenge you, to write down your 20 facts. So, how many parts that you already know about me? :D
-d-

Minggu, 27 Desember 2015

Write, Wrote, Written

Lagi-lagi, aku ingin menulis tentang menulis.
Aneh ya terdengarnya? Hehe.
Bagiku, menulis bukanlah pilihan, melainkan sebuah kepastian.
Di saat aku bosan, bukan berarti aku langsung memilih menulis sebagai penghilang penat.
Dan di tengah-tengah kesibukan, kalau aku ingin menulis karena diserang inspirasi bertubi-tubi, ya aku pasti menulis tanpa ada keraguan sama sekali, tak peduli dengan kesibukanku.
Mungkin banyak orang-orang terdekatku yang bertanya-tanya.
Kenapa sampai saat ini belum ada satu pun karyaku yang terbit?
Istilahnya, berhasil menerbitkan sebuah karya adalah realisasi nyata dari karya tersebut, kan?
Namanya juga manusia, se-introvert apa pun, pasti ada keinginan untuk ‘memamerkan’ hasil buah pikirannya berupa karya baik itu tulisan, musik, gambar, dan hal lainnya.
Aku pun seperti itu.
Dan memang hanya orang tertentu saja yang aku biarkan membaca tulisanku.
Pertama, sumber inspirasi terbesarku, Tubagus Fadillah Setyabudi Leksana.
Bagiku, sosoknya yang memancing imajinasiku bergerak liar entah ke sudut mana dalam semesta ini.
Itu dia di mataku, entah bagaimana dia di mata dirinya sendiri terhadapku, entah bagaimana aku di matanya.
Analoginya gini, (ini mungkin sedikit lebai ya, heuheu), ikan itu pasti butuh air, kan?
Nah, dia bagai air bagi inspirasiku.
Kedua, mentor yang juga tak kalah hebatnya dari J.K Rowling, hehe, Kak Astika Lestyani.
Kakak di Paskibra, angkatan 18, sedangkan aku angkatan 21.
Entah bagaimana awalnya aku lupa, aku stalk twitter-nya dan aku baca blog-nya.
Blog-nya berhasil membuat waktuku berhenti bergerak, membeku.
Blog-nya berhasil membuat debar jantungku berdetak lebih cepat dari kecepatan cahaya.
Ya, entahlah, aku menemukan diriku hanyut dalam setiap kata yang diurainya.
Aku mendapati diriku terlena seraya menjelma menjadi setiap frasa yang dideskripsikannya.
Membuat nyaliku ciut sekaligus kagum diwaktu yang bersamaan.
Aku pun memberanikan diri mention akun twitternya dan kami mulai berkomunikasi dari situ.
Sampai akhirnya beliau jarang lagi menulis dan sekarang sudah berkeluarga :D
Intinya aku akan tetap menanti tulisan-tulisannya.
Jadi, aku hanya berani menunjukkan setiap tulisanku pada dua orang itu.
Tetapi sekarang, setelah mulai kerja, mungkin aku ingin menjadi sosok yang lebih fleksibel dan tidak ragu lagi untuk ‘memamerkan’ tulisanku yang pasti akan menunjukkan betapa anehnya aku ini, heuheu.
Lantas, kenapa tidak mencoba mengirim naskah ke penerbit?
Sudah kucoba.
Naskah pertama berjudul A Guardian Angel.
Aku mengirim naskah ini ke dua penerbit dan dua-duanya menolak, haha.
Penerbit pertama mengembalikan naskah dengan memberikan poin-poin mana saja yang harus aku perbaiki.
Penerbit kedua mengembalikan naskah dengan kata-kata lugas, tegas, dan menusuk.
“Maaf, kami menolak karya Anda karena kami nilai tidak bagus.”
Naskah kedua berjudul Simfoni Melayu.
Kalau naskah ini memang hanya aku ikut sertakan untuk lomba tanpa mengharap apa-apa (serius ini mah serius) dan aku kerjakan dengan sangat terburu-buru.
Aku hanya serius di tahap awal saja, saat menggali informasi mengenai kebudayaan melayu.
Padahal tema tulisannya adalah Wanita, hahahahahahahaha.
Mungkin karyaku kurang ‘Wanita’, atau kurang ‘Melayu’, heuheu.
Itulah dua alasan kenapa sampai saat ini karyaku belum terbit, sedangkan orang-orang sekitar tahu betul aku sering sekali dan sangat suka menulis.
Pertama karena aku memang malu menunjukkannya pada orang-orang sehingga aku tidak mendapat banyak masukan, sedangkan aku orang yang background pendidikanya bukan bahasa, sastra, jurnalis, atau semacamnya.
Kedua karena memang di mata para profesional, karyaku belum layak terbit.
Sesuka-sukanya aku pada menulis, pasti akan tetap kalah dari profesional yang ahli, bukan?
Mereka, walau tidak mau pun, muak sekali pun, pasti mengerti tata bahasa dan tulisan yang benar sesuai aturan, pasti paham bagaimana membuat keharmonisan dan keselarasan dalam menyatu-padukan kata per kata.
Ya intinya mereka tahu ilmunya berseni dengan diksi.
Terus, kalau aku suka menulis, kenapa tidak benar-benar mendalami ilmunya saja dengan mengambil jurusan bahasa dan sastra saat kuliah?
Well, bisa dibilang, aku ini sosok Kugy di Perahu Kertas yang tidak percaya dengan mimpinya sendiri, yang menganggap menulis itu bukanlah sebuah hal yang realistis.
Hidup di Jakarta memang cuma butuh hal-hal realistis sih, ya kan? Hehe.
Seandainya ada sosok Keenan pun dalam hidup aku, ya paling sang sumber inspirasi terbesarku itu.
Dan kami tidak berada dalam suatu hubungan yang dapat membuat kami menjadi alasan untuk mempertahankan mimpi masing-masing, setidaknya begitulah di matanya.
Namanya mimpi, nanti juga bangun.
Dan ujung-ujungnya?
Bersikap realistis lagi.
Nggak semua dongeng bisa happy ending, apalagi realitas.
Maka aku memutuskan masuk IPA di SMA, mengambil kuliah jurusan Pendidikan Matematika, dan kerja jadi guru.
Aku tidak pernah mengeluh mengenai persoalan 'salah ambil jurusan', atau pun menyesal akan hal itu.
Pelarianku adalah dengan menjadi ambisius di setiap mata kuliah, karena bagiku dengan mendapat A, aku merasa teryakini bahwa aku mampu dan pantas untuk bertahan.
Ya bagiku nilai ini adalah bukti otentik, baik buat diriku sendiri maupun orang lain.
Kalau dapat B atau C, apalagi D?
Wah, dapat B saja aku sudah stress mati-matian.
Coba baca postingan aku sebelumnya yang berjudul Arti Sebuah Nilai, hehe.
Loh, kok jadi panjang banget ya dari menulis ke nilai? Heuheu.
Anehnya, aku menemukan diriku suka berinteraksi dengan banyak murid.
Aku merasa banyak kupu-kupu berterbangan dalam perutku setiap kali berada dalam lingkungan sekolah.
Haha lebai banget lagi ya?
Aku memang begini.
Awkward, freak, nerd, coward, and ... pathetic.
Jadi, menulis atau mengajar, Din?
Yah, pembaca saja yang menyimpulkan.
Kalau kata Ungu dan Rossa sih, “Karena sekali cintaaa, aku tetap cintaaa...”
Because art is funny. When you think so hard, nothing comes out.
-d-

Rabu, 11 November 2015

Untitled

Aku sangat takut kehilanganmu.
Maka, aku memelukmu.
Sihir apa di dunia ini yang bisa membuatmu selalu dalam pelukanku?
Untuk terlahir di dunia ini dan datang ke hidupku, membiarkan aku mengenalmu dan terlena oleh senyum mahalmu, Terima Kasih :)
-d-

Minggu, 01 November 2015

RINDU :)

Kali ini topiknya, selalu dan seperti biasa, topik paling mainstream yang pernah ada di seluruh jagad raya.
Topik yang membuat pembaca maupun penulisnya merasa waktu seolah berhenti sejenak.
Topik yang merupakan penyakit, tetapi lucunya bisa sembuh karena penyebabnya sendiri.
Ya, tak lain dan tak bukan, rindu.
Menurutku, rindu ini negasi dari bosan, dan tidak terpaku dengan pertanyaan “Siapa?”.
Kalau sudah dirundung rindu, aku hanya bisa menarikan jemariku di atas tuts keyboard laptop ini.
Kalau sudah dirundung rindu, aku hanya bisa terpaku menatap potret kami yang lucu dan kembali mengingat momen yang tertangkap lensa itu.
Kalau sudah dirundung rindu, aku hanya bisa terduduk lemas dan menitikkan air mata sebagai penawar rasa sesak dalam dada, tanda kalau aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Kata orang, rindu itu indah.
Kata orang juga, rindu itu menyiksa.
Tapi bagiku, rindu ya rindu.
Bagai sebuah titik, ia tidak terdefinisi.
Rasanya, kalau rindu dideskripsikan dengan kata-kata, hanya akan mengurangi cita rasa keindahannya yang khas.
Sarana menyalurkan rindu paling oke, tak lain dan tak bukan seperti yang sudah diketahui, ya lewat doa.
Karena esensinya begitu luar biasa, bahkan jauh lebih terasa ke hati dari pada sebuah bisikan secara langsung.
Adakalanya, sekali waktu, rindu juga bikin kita melakukan hal aneh-aneh.
Seperti aku, misalnya, meneleponnya dengan menyembunyikan identitas nomor ponselku.
Aku yang sudah bisa menebak apa responnya, hanya bisa tersenyum dan menghela napas.
Ya, dia menolak panggilan teleponnya. Totally predictable, haha.
So, I used a different method.
Aku ambil kartu modemku yang masih aktif tapi sudah lama tidak kugunakan karena paketnya habis, hehe, dan kugunakan untuk meneleponnya.
Nah, kali ini, dia ada reaksi, mengangkat telepon sewajarnya.
Dan aku? Hanya mendekap mulutku agar tidak terdengar suara isak tangisku seraya mendengar suaranya, “Halo? Halo? Ini dengan siapa?”
Kutahan beberapa detik, dan langsung kumatikan dengan perasaan campur aduk.
Itulah salah satu tindakan nekatku, entahlah, saat itu mungkin aku memang lagi tidak berpikir jernih, saat itu mungkin aku benar-benar membutuhkan teman bicara, atau saat itu mungkin aku memang benar-benar merindukannya tanpa syarat.
Intinya, aku bisa berubah jadi sosok gila kalau sudah dirundung rindu akan sosoknya, haha.
Well, it’s just about a story about someone you miss.
Now, I’m just trying to hold on this feeling so I won’t disturb his daily life.
Cheers up! :)

-d-


Kamis, 29 Oktober 2015

Apalagi yang Kau Cari?

Apalagi yang kau cari?
Cinta untukmu berlimpah tak ada tandingnya.
Apalagi yang kau cari?
Sehat membuatmu kuat tak ada duanya.
Apalagi yang kau cari?
Waktu memang tidak sudi berhenti menunggu, tetapi dirimu punya banyak kesempatan untuk melewatinya menari di tengah hujan dan menikmati tiap tetesan anugerah dari langit.
Lantas, apalagi yang kau cari?
Jati diri yang mendewasakanmu seolah tidak ingin mendekat, namun ia mendampingimu tegar untuk bertahan dan terbang di atas badai.
Jadi, apalagi yang kau cari?
Kamu terlahir di dunia dengan segala kefanaannya yang penuh dengan ilusi sehingga identik dengan mimpi. Namun tidakkah kau sadar? Tanpa kefanaan, tanpa ilusi apalagi mimpi, tidak akan ada eksistensi peradaban yang menjadikan hidupmu tidak seperti garis proyeksi yang kaku, datar, dan menawarkan kehampaan.
Sekali lagi, apalagi yang kau cari?
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
-d-