Bismillahirrohmanirrohiim

Bismillahirrohmaanirrohiim
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Jumat, 28 Februari 2014

Awkward Moment :p

Mungkin beberapa orang sudah bosan dengan, entah ini bisa dibilang ciri khas atau kelemahan aku, ‘hobi’ yang satu ini.
Yup, terjatuh. Baik itu dalam bentuk keseleo, terpeleset, atau jatuh yang benar-benar jatuh.
Aku selalu bertanya-tanya, apa ada yang salah dari sistem koordinasiku.
Sungguh, aku sama sekali tidak ingin seperti ini, karena jadi terlihat konyol dan sangat tidak keren :D
Satu-satunya hal yang aku suka dari ‘hobi’ satu ini yaitu, karakter terfavorit bagiku, Isabella Swan di Twilight Saga, diceritakan juga memiliki ‘hobi’ yang sama sepertiku :D
Sekali waktu, pernah puncak kekhawatiranku melanda.
Saat aku terjatuh di kampus dari tingkat tangga ke-tiga hingga mendarat di dasar dengan posisi berlutut.
Aku tidak memikirkan sakitnya.
Karena sama sekali tidak sebanding dengan malu yang aku rasa.
Bagaimana tidak?
Hal tersebut terjadi bertepatan dengan jam pulang kuliah, hoahhh.
Sampai di kosan aku baru mulai merasakan nyeri di pergelangan kakiku.
Dan aku menemukan kakiku bergetar.
Untungnya keesokan hari kakiku tidak bengkak seperti waktu itu.
Jadi aku merasa, kekhawatiranku tidak beralasan :)
Biar ‘hobi’ ini menjadi ciri khas dari diriku.
Karena aku hanya ingin menjadi seperti aku.
Kecil, mungil, bewarna.
Warna-warni terangi alam jika tergambar baik :)
Aaah, kejadian kemarin bikin aku merindukan sahabat-sahabat SMAku, 21-ku, Paskibraku :)
-d-

Ranah Melayu ^^

Apa yang pertama kali terpikirkan jika kalian mendengar kata ‘Melayu’?
Identik dengan Upin-Ipin dan Malaysia?
Kalau kita ingat, sebenarnya Indonesia penduduknya berasal dari berbagai ras, termasuk Melayu.
Dulu, aku mikirnya juga seperti itu.
Sampai akhirnya aku bertemu dengan orang-orang yang sangat kental logat dan budaya Melayu-nya.
Di perkuliahan, ada beberapa orang yang masuk UPI karena kerja sama dari pemerintah daerahnya.
Yaitu Natuna dan Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.
Seperti Sindy, Yum, Dian, Faridh, John, Alfian, Rossi, Eza, Rino, dan lainnya.
Kepulauan Riau di sini juga berbeda dari Riau yang biasa kita dengar.
Kalau Riau ibukotanya Pekanbaru, sedangkan Kepulauan Riau ibukotanya Tanjung Pinang yang dipenuhi oleh lautan dan pulau-pulau, hanya sedikit daratan di sana.
Nah, aku mengenal Melayu dan budayanya dari mereka.
Aku merasa benar-benar exited.
Karena mendengar mereka saling bercengkrama dengan bahasa Melayu membuat aku merasa sangat nyaman.
Perlahan, aku mulai mempelajari budaya mereka.
Dari bahasa dan logatnya terutama, walau terkadang logatku suka terdengar maksa, haha.
Pernah sekali waktu aku saling bertukar pesan dan gaya-gayaan pakai bahasa Melayu.
Pada akhirnya?
Aku benar-benar dijadikan bahan tertawaan oleh mereka karena bahasaku yang rancu.
Suka senyum-senyum sendiri kalau teringat kisah itu.
Makanya walau tinggal di Bandung, aku jauh lebih familiar dengan bahasa Melayu dibanding bahasa Sunda.
Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti jika mereka saling bercengkrama dengan bahasa Melayu.
Mereka juga tidak ragu untuk berbicara Melayu denganku.
Mendengarkan mereka bicara benar-benar terasa sehat di telinga.
Karena banyak waktu yang sering kuhabiskan bersama mereka,
Aku, Mpit, dan Dini pun jadi suka ikut-ikutan pakai logat dan bahasa mereka.
Aku memutuskan membuat novel tentang mereka, tetang kami.
Dengan segala informasi yang aku punya, aku memberanikan diri.
Sayangnya saat dikirim ke penerbit, tidak lolos :(
Kecewaku terbayar karena mereka semua penasaran dan membaca karyaku yang seadanya itu.
Intinya, aku senang berada di tengah-tengah perbedaan budaya itu.
Sunda dan Melayu yang menyatu padu, menurutku itu dua hal yang sangat indah.
Tak jarang aku terinspirasi dari mereka :)
-d-

It's Just Another Story About . . . Inspiration ^^

Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya, aku mengenal dunia tulis menulis saat aku duduk di bangku SMP.
Aku sering menulis puisi dan naskah untuk pentas drama.
Aku mulai mengumpulkan puisi dari para pecinta sastra.
Hingga saat memasuki SMA, aku mulai terketuk untuk menulis berbagai cerita.
Mulai dari cerpen sampai novel.
Dan alasan mengapa aku memutuskan untuk seberani itu menuangkan segala untaian cerita ibarat benang kusut dalam pikiranku yang liar ini?
Aku akan memulai dari ekstrakurikuler yang aku ikuti di SMA, yaitu Paskibra.
Setelah proyek pertama kami, yaitu Upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus, seniorku memberikan tugas untuk angkatanku sebagai calon anggota.
Yaitu membuat buku yang disampul bewarna merah- putih dan membuat surat cinta.
Kami yang perempuan diharuskan mengirim surat ke senior laki-laki dan yang laki-laki diharuskan mengirim surat ke senior perempuan.
Nah, aku tertarik dengan tugas ini karena pada dasarnya aku suka bermain dengan diksi.
Aku mendedikasikan surat cintaku untuk Kak Prinzy yang ternyata menjadi satu-satunya surat untuknya, karena teman-temanku yang lainnya janjian untuk mengirim ke Kak Rheza, Kak Rizha, atau Kak Panca.
Aku sendiri random memilih Kak Prinzy sebagai penerima surat karena aku suka dengan namanya yang unik.
Saat pelantikan, aku pun dipilih menjadi satu-satunya junior yang membacakan surat itu di hadapannya.
Tanganku gemetar, tentu saja.
Surat yang aku buat dan aku jadikan sebagai sarana untuk menyalurkan hobi pun mulai dianggap serius isinya.
Setelah pelantikan, hubungan angkatanku dengan angkatan Kak Prinzy pun mulai dingin, layaknya junior-senior yang belakangan aku tahu adanya pembagian karakter sesuai dengan tugas kepengurusan di Paskibra.
Aku merasa masih banyak yang mengganjal, maka aku mulai menulis kata per kata untuk melunaskan segala rasa penasaranku pada Kak Prinzy dan angkatannya.
Sampai akhirnya, jadilah novel pertamaku berjudul A Guardian Angel.
Cerita tentang Paskibra, Angkatan 21-ku, senior Angkatan 20-ku.
Kak Prinzy memang inspirasi pertamaku untuk mulai berani menulis cerita.
Tetapi hari-hariku bersama angkatan 21-ku adalah sumber inspirasi terbesar dan memberikan cahaya hangat layaknya matahari dalam warna kehidupanku.
Ini hanyalah sebuah cerita tentang inspirasi.
Yang sampai saat ini masih membuatku menggantungkan mimpi itu.
Yang sampai kini dan selamanya akan membuatku semakin jatuh cinta dengan sastra.
-d-

Cozy Breakfast Ever :')

Rutinitas ini dimulai pertama kali saat semester tiga.
Bersama Dini, Mpit, Sindy, Yum, Dian, Parlin, Faridh, Alfian, dan Rino.
Ceritanya panjang kenapa sampai akhirnya bisa terbentuk lingkaran ini.
Sekali waktu setelah kelas PKn, kami memutuskan untuk sarapan di kantin kampus sambil menunggu jam mata kuliah selanjutnya, yaitu Program Komputer , yang hanya berjarak 50 menit.
Saat sarapan, kami benar-benar hanya membicarakan obrolan ringan yang dapat mencairkan suasana dan membuat siapa pun yang terlibat dalam cengkrama itu menjadi sangat rileks.
Orang sepertiku, yang memang membutuhkan suasana seperti ini, jelas langsung merasa candu.
Tetapi rutinitas ini pun terus berulang setiap minggunya, bahkan terkadang di hari lain.
Mungkin mereka dan suasana makan pagi inilah yang akan paling aku rindukan dari Bandung.
Intinya, mereka mampu menyebar cahaya matahari dalam hari-hariku selama di Bandung.
-d-

Senin, 06 Januari 2014

Tidak Menyangka :')

Liburan minggu tenang kali ini benar-benar membuatku lupa dengan segala urusan di Bandung.
Saking tenangnya, sampai-sampai lupa bahwa liburan ini seharusnya diperuntukkan untuk mempersiapkan UAS.
Aku kembali ke Jakarta setelah perkuliahan berakhir satu tahun yang lalu, 25 Desember 2013.
Sesampainya di rumah, aku disuruh untuk mengepak baju oleh Ibuku karena kami akan pergi ke Puncak sampai tanggal 27 Desember 2013.
Tanggal 28 Desember 2013, aku seharian di rumah, kebetulan salah satu sepupuku bersama keponakan dan Ibunya datang.
Jadi hari itu aku khususkan untuk bercengkrama bersama mereka, juga menyalin ulang catatan-catatan sebagai salah satu upayaku menghadapi UAS mata kuliah Metode Numerik.
Esoknya, 29 Desember 2013, aku bersama Ibu, dua orang tanteku, dan satu orang sepupuku pergi belanja berburu jilbab, pakaian, dan lain sebagainya di Thamrin City.
Sepulangnya dari sana, kami mampir untuk makan siang di Sroto Eling-Eling (salah satu makanan yang akan aku rindukan jika aku berkelana di benua Eropa, aamiin :D) juga ke Mall Kelapa Gading untuk menyantap Waffle dan berburu pernak-pernik.
Kemudian, tanggal 30 Desember 2013, masih bersama orang yang sama, kami pergi ke Tambun untuk mengantar kakak Ibuku mengurut kakiknya, lalu ke Depok, kemudian hinggap di Puri Bali untuk bermalam di sana.
Sepulang dari Puri Bali, 31 Desember 2013, kami pergi ke Tanah Abang untuk kembali berburu pakaian, jilbab, bahan perlengkapan menjahit Ibuku, dan sebagainya.
Sisi wanita yang pada dasarnya memang gila berbelanja di diriku terbukti secara klinis, absolut, dan tunggal kebenarannya di tengah-tengah tumpukan baju-baju yang kubeli dengan uangku sendiri.
Aku bukan tipe orang yang terlalu memiliki banyak syarat perihal pakaian.
Asal menutup aurat dengan baik dan benar, akan aku pakai.
Dan selama ini selalu Ibuku yang berperan aktif mengenai pakaianku, mulai dari rok, baju, gamis, jilbab, dan sebagainya.
Terkadang beliau membuatkan sehelai atau dua helai atau tiga helai gamis untukku :D
Atau terkadang beliau beli di Tanah Abang sekali waktu saat ia mencari keperluan menjahitnya.
Sehingga aku hanya terima jadi saja mengenai pakaian, karena Ibuku pun mengerti seleraku dan tidak ambil pusing dengan pilihanku.
Aku suka, silahkan pakai. Aku tidak suka, Ibuku yang memakai. Begitu juga sebaliknya :D
Saat berbelanja di Tanah Abang 31 Desember 2013 lalu, aku tahu aku benar-benar kalap.
Ibuku membiarkan karena awalnya, uang yang kupunya akan aku gunakan untuk perawatan diri, seperti creambath, pedicure menicure, make a new hair cut, dan sebagainya.
Tetapi Ibuku melarang habis-habisan rencana itu, beliau lebih prefer uang itu dijadikan barang-barang, dan aku memutuskan untuk membeli banyak baju, hehe.
Oh, di sini aku tidak akan bercerita mengenai malam pergantian tahun.
Karena sama sekali tidak ada yang spesial dari malam itu.
Aku hanya terus mengucapkan rasa syukur karena masih diberikan nikmat yang tiada tara ini, dan aku berharap aku dapat menjadi hamba Alloh SWT yang pandai bersyukur baik dalam keadaan suka maupun duka, aamiin :)
Tanggal 1 Januari 2014, aku pergi ke rumah sepupuku yang masih kecil-kecil dan menggemaskan itu :)
Mengingat kami sudah berjanji untuk mengunjunginya karena mereka sedang libur sekolah dan tidak diperbolehkan untuk jalan-jalan sebelum Babehnya pulang dari Arab.
Selama perjalanan aku kontek-kontekan dengan Abangku dan membuat janji untuk bertemu di sana.
Rencana awal, mereka merengek minta berenang.
Tanteku, Enyak dari cilik-cilik itu, langsung menghubungi suaminya untuk mengijinkan anak-anaknya pergi, karena kebetulan di rumah pun sedang mati lampu.
Syukurnya, Babeh mengijinkan dan kami memutuskan hanya pergi ke Plaza Cibubur untuk makan siang di tempat yang diidamkan anak-anak selama ini.
Saat sedang berjalan, aku melintasi sebuah toko pernak-pernik dan mendapatkan apa yang selama ini aku cari. Here it is :))


Tanggal 2 Januari 2013 dan 3 Januari 2013, aku menghabiskan waktu di rumah karena kebetulan ada tukang sedang merapikan tanjakan rumah yang jalanannya habis diperbaiki.
Aku gunakan waktu itu untuk menulis dan membaca.
Lalu, tanggal 4 Desember 2013. Aku bersama rekan-rekan 21ku, Della dan Irfan, pergi kondangan ke pernikahan Kak Adit Angkatan 18.
Di sana, kami berjumpa banyak kakak-kakak senior kami yang secara otomatis langsung berkumpul per angkatan.
Setelah dari kondangan, kami memutuskan untuk nonton di Mall Kelapa Gading, Mall-ya sejuta umat Tanjung Priok :D


Saat menonton, Tubagus ikut serta dan setelahnya kami langsung membahas mengenai rencana perjalanan liburan kami di rentang pertengahan sampai akhir Januari.
Opsi pertama, kami akan pergi rafting di Sukabumi.
Opsi kedua, kami akan pergi naik balon udara di Taman Mini Indonesia Idah.
Opsi ketiga, kami akan bermain ice-skeating di Mall Taman Anggrek.
Opsi ke empat, bakar-bakaran di rumahku, hehe.
Entah opsi apa yang nanti akan terpilih, dari aku pribadi, Insya Alloh bisa mengikuti perjalanan liburan ini, yang refleks sering kami lakukan setelah berhasilnya kami pergi ke pulau Tidung bersama Agustus lalu :)
Asal bersama mereka, aku tidak keberatan pergi ke mana saja, bahkan ke ujung dunia :)
Dan, tanggal 4 Januari 2014 itulah di mana hari minggu tenangku berakhir.
Karena tanggal 5 Januari 2014 aku sudah harus kembali ke Bandung untuk keberangkatan travel yang jam tujuh pagi.
Sesampainya di Bandung, aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan sekumpulan mobil plat D lagi, aku tidak menyangka berjumpa kembali dengan kamar kosanku lagi, aku tidak menyangka aku tertidur menggunakan selimut lagi.
Esoknya pun, aku masih tidak menyangka bertemu kembali dengan teman-teman sekelas untuk mengumpulkan tugas, dan aku berguyon.
“Aku hampir lupa loh jalan dari kosan ke JICA.”
Aku pun tidak menyangka sedang menulis postingan ini di kamar kosanku.
Semalam, Dini sms aku, “Naa mbandung naa. Jangan lupa hehe.”
Aku hanya merespon, “Waduh untung diingetin :D.”
Pagi ini pun, saat bertukar kisah dengannya, aku kembali mengulang apa yang aku rasakan.
“Aku benar-benar tidak menyangka loh ada di sini lagi.”
Sehebat itukah pengaruh Jakarta padaku? Entahlah.
Yang jelas aku benar-benar fresh dan ringan melangkah saat menginjakkan kaki di kota Bandung ini.
Seringan saat aku tertawa bersama Dini, Mpit, Parlin, dan Faridhul di kamar asrama putra nomor 20 sepulang dari Borma tadi saat memainkan dan menyusun tempelan Glow in The Dark yang aku beli :)
-d-

Sabtu, 21 Desember 2013

Bandung Lautan Jakarta :D

Bandung.
Sungguh, sejujurnya tidak ada yang salah dengan kota ini.
Sejuknya menawan hati, rindangnya mendamaikan pikiran, hijaunya pun menyehatkan penglihatan sejauh mata memandang.
Tapi entah kenapa, sudah dua tahun tinggal di kota ini, aku tidak bisa ‘kerasan’ di sini.
Aku memang pernah mengatakan, Bandung is growing on me.
Dan tahu kapan aku mengatakannya?
Sesaat setelah aku pulang dari Jakarta, di mana kondisi apa pun pasti tersembuhkan, terobati, jika sudah dari sana.
Mulai dari kepenatan, kerinduan, kecanduan, bahkan kepekatan.
Jakarta membuat aku menjadi baru saat kembali lagi ke Bandung.
Jadi kondisi dan suasana hati, otak, serta pikiran pun masih netral dan sejernih air.
Lambat laun, aku baru menyadari satu hal.
Bukan Bandung yang salah.
Bukan lingkungan dan sistem kampus yang bermasalah.
Justru pusat dari segala ketidakbetahan ini dibuat oleh diriku sendiri.
Mungkin karena memang aku tidak ingin beradaptasi dan beramah tamah dengan lingkungan di sini.
Dengan kata lain, usahaku belum maksimal untuk membuka hati dengan lingkungan di sini.
Sekarang aku mengerti apa yang sering orang-orang sebut sebagai zona nyaman.
Zona nyamanku adalah Jakarta beserta kepingan-kepingan kenangan dengan orang-orang di dalamnya.
Baik itu orang-orang dari masa lalu, saat ini, atau mungkin masa depan.
Dan seharusnya aku bertahan saat aku mulai keluar dari zona itu untuk menjadi pribadi yang lebih hidup.
Setidaknya dengan begitu, aku bisa melihat kehidupan Jakarta dari luar daerah itu sendiri.
Karena aku akan mengupayakan apa pun, aku akan berusaha sekeras mungkin, untuk tetap kembali ke sana dengan meninggalkan jejak baik dan bersahabat terhadap Bandung.
Aku tahu aku akan menyesal jika tidak memberikan kesempatan bagi Bandung dan isinya untuk sedikit saja menempati hatiku.
Namun, aku sudah mengetahui resikonya, aku siap untuk itu, aku siap untuk menyesal.
Maka, aku membiarkan Bandung sendiri yang perlahan membuka hatiku dan bersedia menyediakan ruang.
Aku masih memiliki kesempatan, dan aku akan berusaha sekeras mungkin menyatukan hatiku dengan kota ini beserta isinya.
Aku tidak akan menyerah, karena aku percaya aku memiliki kepribadian di atas rata-rata sehingga hal tersebut bukanlah hal yang tidak mungkin.
Sehingga Bandung dan Jakarta benar-benar sama hidupnya dalam hatiku.
-d-

Badai Pasti Berlalu :)

Minggu ini merupakan minggu yang cukup hectic bagiku.
Dua minggu yang lalu pun sama hectic-nya seperti minggu ini.
Menantang dan melelahkan, kalau aku boleh jujur.
Karena biasanya pulang ke kosan sebelum pukul enam sore, sedangkan dua minggu lalu tiada hari tanpa pulang ke kosan setelah pukul delapan malam.
Tetapi, minggu hectic itu pun terlewati dengan sukses tanpa kekurangan suatu apa pun.
Maka aku percaya minggu ini pasti akan terlewati juga.
Terbukti dengan adanya postingan ini, di mana aku sedang hibernasi seharian di kosan tanpa melangkahkan kaki ke mana pun selain membeli makanan.
Dua minggu lalu, aku sebut menantang karena aku, untuk pertama dan terakhir kalinya dalam hidupku, membolos salah satu praktikum mata kuliah dan datang ke perkuliahan hanya untuk mengisi absen saja.
Ya mungkin aku berani karena bukan hanya aku yang seperti itu :D
Dua minggu lalu, kami, aku dan teman-teman sekelasku, berkutat di bengkel media pembelajaran untuk membuat alat peraga manual.
Penjelasan lebih lanjut, silahkan mengunjungi blog salah satu korban seperjuanganku untuk melihat kecaprukannya :D
Seperti hari ini, setelah minggu itu terlewati, di weekend aku sama sekali tidak menginjakkan kakiku ke mana pun selain membeli makanan.
Di sini, aku akan menjelaskan alasan mengapa minggu ini pun aku jadikan minggu yang hectic.
Pertama, dua minggu yang lalu juga, dengan asumsi ini merupakan sebuah kabar yang sangat baik, seorang dosen salah satu mata kuliah memberikan kami kesempatan untuk ‘menabung nilai.’
Menabung nilai di sini tentu mempunyai definisi tersendiri, di mana kami para mahasiswa yang mengontrak mata kuliahnya, diberi kesempatan untuk mengikuti ujian sebelum tanggal Ujian Akhir Semester yang sesungguhnya.
Selain ujian, kami pun diberi tugas yang mesti kudu harus wajib dikumpulkan paling lambat sebelum ujian ‘menabung nilai’ ini dimulai, yaitu tanggal 20 Desember 2013.
Sebut saja mata kuliahnya Geometri Transformasi, di mana kami harus berkutat dengan garis sejajar, garis tegak lurus, vektor, sudut, dan properti pelengkap lainnya yang cukup menguras otak untuk menyatupadukan mereka menjadi sebuah konstruksi transformasi yang diinginkan.
Kemudian, di mata kuliah lainnya, sebut saja Analisis Real, dosen yang diyakini sebagai ‘Malaikat Tanpa Sayap’ minggu lalu saat kuis tiba-tiba lupa untuk membawa soal Ujian Akhir Semester kami yang notabene memang didedikasikan sebagai ujian take home.
Alhasil, kami baru diberikan soal dan materi tambahan hari Rabu kemarin tanggal 18 Desember 2013 sedangkan deadline yang diberikan sama seperti deadline awal, yaitu 20 Desember 2013.
Tentu mata kuliah lain pun tidak ingin kalah untuk dapat berpartisipasi memeriahkan ke-hectic-an minggu ini.
Mata kuliah PLSBT juga diputuskan untuk mengadakan UAS hanya dengan observasi ke tempat-tempat kontroversi seperti tempat pembuatan tato, rehabilitasi narkoba atau HIV/AIDS, diskotik, dan lain sebagainya.
Kapan dikumpulnya? Tak lain dan tak bukan 20 Desember 2013, Pemirsah.
Mata kuliah media pembelajaran pun, lagi dan lagi, masih menginginkan perhatian dari kami semua bagi yang belum melakukan finishing touch agar dapat dinilai mempunyai harga jual yang tinggi.
Aku dituntut untuk semakin piawai membuat jadwal dan membuat to-do-list.
Sambil mengatur napas perlahan untuk menenangkan diri, tersusunlah jadwal dan to-do-list yang juga merupakan hasil diskusi antara beberapa teman satu kelompok.
Puncak hectic minggu ini adalah Kamis, sesaat sebelum esoknya ujian dan deadline mengumpulkan UAS yang take home.
Karena tidak kuat lagi, aku meletakkan pensilku, melepas kacamataku, dan aku mendengar suara isakanku sendiri yang lama kelamaan semakin kencang seiring dengan bertambah sesaknya dadaku.
My head is going to explode, batinku.
Sampai akhirnya, seorang sahabat SMA anggota Paskibra Angkatan 21, one of My Precious yang memberikanku pelajaran mengenai kehidupan dan membuatku percaya karena bukti nyata yang dia tunjukkan di hadapanku bahwa bumi ini berputar, sebut saja namanya Muhammad Irfan Zidni, bertanya ‘Kenapa?’ padaku.
Aku langsung menceritakan semua kondisi yang sedang aku hadapi tanpa adanya sedikit pun tabir, termasuk kondisi yang aku hadapi saat aku semester tiga dulu, membuatku semakin tidak dewasa sama sekali.
Aku mengaku padanya bahwa aku butuh banyak tips, saran dan nasihat agar aku tidak mudah goyah, karena aku tidak sekuat Della, aku tidak semandiri Rahma, aku tidak sedewasa Siti, dan aku tidak setangguh Aini yang mampu bertahan di segala kondisi.
Dan dia dapat menenangkan aku hanya dengan kurang lebih berkata:

Face it, Honey :) Jangan mau kalah sama keadaan apa pun. Ingat sama Mama, ya? :) ({}) Jalan kamu sebentar lagi, Din. Ibaratnya, sudah tinggal 5 meter lagi mencapai garis finish. Kamu harus kuat, harus bisa menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai, ingat berapa banyak pengorbanan yang sudah kamu terima, jangan biarkan angin-angin itu memadamkan lilin semangat kamu :) Tidak ada yang menuntut kamu untuk jadi seperti Della, Rahma, Siti, dan Aini. Kita semua punya kekuatan dan keunikan masing-masing :) Seseorang bisa saja terlihat kuat dari luar, tapi kita tidak tahu, di balik kekuatan itu mungkin dia menyembunyikan kelemahan terbesarnya. Begitu juga sebaliknya :) Keep smile ya :)

Sungguh aku benar-benar langsung tersenyum mendengar nasihatnya.
Karena yang aku butuhkan bukan sebuah dorongan atau asupan semangat yang secara gamblang diucapkan.
Aku membutuhkan orang yang bersedia menyejajarkan matanya dengan mataku, kemudian bicara seolah ia merengkuh bahuku.
Dan orang-orang itu adalah orang-orang yang entah kenapa hanya bisa aku temukan di Jakarta.
Orang-orang yang mengerti bagaimana cara paling anggun dan tepat untuk bicara di berbagai situasi dan kondisi yang aku hadapi.
Orang-orang yang akan menyambutku jika aku mencapai puncak, tetapi juga orang-orang yang siap membangunkan aku saat aku terjatuh, di mana mereka pun sedang mendaki bersamaku.
Mulai dari Ibuku, keluarga ArFat-ku, dan Angkatan 21-ku.
Bukan orang-orang yang bisa dan biasa aku temukan di Bandung, yang notabene juga sedang mengalami ruang, masa, kesulitan, dan keresahan sepertiku.
Dan, minggu ini pun pada akhirnya berlalu, badai pun pasti berlalu, bukan?
Hal ini membuatku belajar untuk semakin siap dan percaya diri menghadapi hari-hari esok menyambut sinar mentari pagi :)))
Fabiayyi alaai Rabbi kuma tukadzdzibaan?
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Fa inna ma’al usri yusraan, inna ma’al usri yusraan.
Sesungguhnya di balik kesukaran, ada kemudahan. Di balik kesukaran, ada kemudahan.

-d-